Just another free Blogger theme

Saturday, April 12, 2025

 

(6) MARBOT ITU TERNYATA CEO


Penulis: AA




Gadis Bersepeda


"Tidak, Ustadz." Aku langsung menolak.


Jangan sampai aku benar-benar terjebak dipaksa menjadi imam sedangkan bacaan sholat saja tidak ada yang kuhafal. Payah sekali memang. Yah, selama ini aku memang sangat jauh dengan Tuhan. Di kota besar seperti ini, bukankah itu wajar saja? Apalagi konsentrasi pendidikan dan karirku bukan di bidang agama bukan? 


Mungkin sebab hidupku terlalu berkecukupan dan segala keinginanku nyaris selalu terwujudkan, jadi aku merasa, tak pernah lagi ada yang perlu kuminta. 


"Kenapa, Kang?" Pak Budi bertanya. "Serius, bagus suara Akang. Anak-anak saya yang awalnya pada males bangun aja jadi kebangun karena suara Kang Padi tadi loh. Menarik, beda sekali, lain dari yang lain. Istri saya sampai muji juga. Bersenandung aja bagus apalagi baca Al Qur'an. Oh ya, kenapa semalam malah nggak ikut tadarusan?" Kali ini Pak Firman yang bertanya.


Aku menggaruk tengkuk dengan sungkan--bukan gayaku sama sekali saat terdesak seperti ini. Biasanya, aku akan menanggapi lawan bicara dengan sikap dingin sembari membalik pertanyaan atau menggali pembahasan. Tapi aku selalu ingat, posisiku, peranku sekarang. Jangan sedikitpun ada celah mencurigakan kalau aku orang yang sangat terpelajar.


Tapi sumpah, aku bingung beneran.


"Saya... nggak bisa ngaji," ucapku akhirnya.


---


Kejujuran itu menyelamatkanku. Kufikir, aku akan menerima 'penghinaan' lebih hebat. Selain rupaku yang penuh tompel dan tampilan culun yang membuatku begitu tak nyaman dipandang sekarang. Atau minimal diceramahi dengan emosi oleh para orangtua pengurus masjid itu. Sudah usia 25 tidak bisa mengaji. Padahal kata mereka aku pandai bernyanyi.


Ternyata tidak. Berbeda sekali lingkungan orang-orang ini. Justru meminta maaf padaku yang sedang berperan tak memiliki kasta apapun saat ini. Hanya marbot. Serta menasehati dengan lembut agar aku belajar mengaji, mumpung masih ada kesempatan dan waktu yang baik di bulan Ramadhan, kata mereka dengan penuh penghormatan. 


"Jadi, dalam hadist shahih, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menyampaikan, khoiurukum man ta'allamal qur'aana wa'allamahuu. Artinya, sebaik-baik kalian adalah yang membaca Al Qur'an dan yang mengajarkannya." Ustadz Yahya tersenyum berbinar ke arahku. "Begitu, Kang. Jadi kata Allah, sebaik-baik manusia bukan yang bergelimang harta, paling tinggi jabatannya, paling hebat kastanya, bukan. Samasekali bukan. Kata Allah, manusia terbaik adalah yang mempelajari Al Qur'an. Itu. Bahkan kalau kita kembali urutkan susunan kalimat yang disampaikan Rasulullah tadi, siapa yang lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yang belajar atau yang mengajar? Yang pertama disebutkan, Kang. Yaitu, yang belajar, lebih utama."


Aku terkesima. Menyimak dengan seksama. Di waktu lepas kultum jelang pagi ini, hanya ada kami berempat yang tertinggal di masjid. Aku, Ustadz Yahya, Pak Budi, dan Pak Firman. Dan aku sedang dinasihati dengan hal yang sungguh baru kali ini kudengar.


"Hanya saja, tidak ada pengajar yang tidak lebih dulu belajar. Jadi pengajar Al Qur'an sejatinya mendapatkan dua kali sebutan sebagai sebaik-baik manusia, bahkan berkali-lipat dari itu. Ia lebih dulu telah belajar, lalu mengajarkan, kemudian terus belajar lagi, dan berlanjut diajarkannya lagi. Sebaik-baiknya manusia kata Allah, kata Rasulullah...."


Aku masih diam. Mencerna. Dan seperti ada yang mengetuk satu pintu mati hatiku detik ini juga. Aneh banget. Tapi rasanya kayak nyata. Apa karena ini sedang bulan puasa jadi pintu rahmat emang lagi benar-benar dibuka? Sampai aku yang sungguh asing dari agama jadi terketuk sama penyampaian sederhana dari Ustadz Yahya yang mungkin sebenarnya biasa aja?


"Nggak apa-apa kalau belum bisa ngaji. Yang salah itu kalau bisa terus nggak ngaji. Atau nggak bisa dan nggak mau belajar ngaji. Begitu ya, Ustadz?" Pak Budi menimpali. 


Ustadz Yahya mengangguk. 


Aku merasa, tersentuh. Faham mereka sedang 'menyemangatiku'. 


"Jadi di antara kami bertiga ini, siap semua ngajarin Kang Padi ngaji. Mau berguru sama siapa?" Ustadz Yahya kembali tersenyum ramah. Jenggot putihnya nampak berkilauan diterpa cahaya pagi yang mulai masuk dari arah ventilasi.


Aku tidak menjawab. Mana mungkin memilih. Ketiganya sama-sama fasih mengaji. Dan mengapa bisa mereka seringan ini ingin mengajarkan? Ah ya, pasti sebab imbalan predikat sebagai sebaik-baik manusia tadi.


Aku tak menyangka, sampai sedikit ada perebutan murid. Rebutan pahala banget kayaknya. Hingga dari diskusi singkat, mereka bertiga juga yang akhirnya menyepakati, Ustadz Yahya yang akan menjadi guru ngajiku.


Aku mengangguk sekali lagi. Jalanin aja lah. Ngikutin semua alur ini. Daripada buat masalah dengan nolak tawaran diajarin ngaji, yang ada penyamaranku bisa ketahuan.


Lagipula, aku sebenarnya jadi tertarik juga. Buat belajar ngaji. Apalagi habis berapa kali ikut sholat di sini. Dengerin suara imamnya yang semalam ngimam tarawih, Ustadz Khalid, masih muda, sepertinya seumuran denganku. Katanya lulusan kuliah di Arab. Suaranya bening. Dan bacaannya lancar banget. Bikin aku agak mikir, apa aku bisa begitu juga? 


Hm, buat apa? 


Ya, buat apa? Entahlah. Rasanya, ada panggilan rasa ingin saja.


"Kami pamit pulang dan kegiatan masing-masing dulu ya, Kang. Insya Allah siang sebelum dzuhur saya ke sini lagi. Kita mulai belajar ngaji. Sudah siap?" Ustadz Yahya menepuk pundakku usai mendirikan sholat entah sholat apa.


Aku mengangguk kembali. 


Siap tidak siap. Aku akan belajar membaca Al Qur'an mulai siang ini. Begitu? 


---


Jelang pukul sembilan pagi. Masjid sunyi. Ada beberapa orang yang baru datang dan mendirikan sholat masing-masing. Kata mereka sholat dhuha. Lalu tetap di atas sajadah sambil membaca Al Qur'an. Ada yang lagi berdzikir. Ada yang ketiduran. 


Tapi sepi sih. 


Sementara aku sibuk dengan pekerjaanku. Membersihkan jendela dan mengelapi kaca-kaca. Lalu berlanjut menyapu dan mengepel lantai hingga menggosok tangga. Menyusun buku-buku. Banyak sekali pekerjaanku. Begini melelahkan, apa benar dibayar seikhlasnya? 


Ah, justru aku tak ingin dibayar saja. Aku kan sedang 'lari dari uang' dan kekayaan. Lagian, berapa sih? Aku sudah punya semuanya. Bahkan masjid begini juga aku bisa bangun sendiri pakai hartaku sendiri.


Capek dan lemes banget. Maklum, kan puasa. Aduh, masih pagi padahal. Tapi sudah haus aja. Apa aku batalin puasa aja? Tapi gimana kalau ketahuan coba?


Lagi-lagi pengen nyerah aja kalau ngerasain lelah dan lemesnya gini. 


Aku sedang mendorong kain pel ke arah perwudhuan jama'ah pria saat tiba-tiba aja, ekor mata menangkap pemandangan yang membuatku terpaku seketika. 


Seorang gadis menaiki sepeda sederhana, masuk lewat gerbang samping lalu berhenti di parkiran samping juga. Ia turun dari sepeda dan menyandarkan kendaraan manual itu ke dinding. Sambil ngeluarin bungkusan besar yang diikat di boncengan belakangnya. 


Ananda. 


Dia melangkah mendekat, ke arah pintu. Masih nggak nyadar ada aku. Ah, maksudku, dia nggak merhatiin kemana-mana emang sih kayaknya. Cuma aku sendiri yang nggak tahu kenapa malah nggak bisa mgelepasin dari pemandangan ini, maksudku sedang melihat pada gadis itu. Terlihat, sederhana sekali. Penampilannya.


Apalagi sikapnya yang ngingetin anak-anak ngaji supaya nggak jadiin aku ejekan 'om tompel' dan bahkan nyuruh mereka minta maaf. Padahal emang beneran aku lagi menyamar pakai banyak tompel-tompel gini. 


Nggak cuma anak-anak itu aja, sampai malam, banyak jama'ah yang refleks nyebut aku Kang Tompel. Orang-orang dewasa malah. Yang cewek-cewek, beberapa malah terang-terangan nunjukin sikap refleks mendelik pas lihat aku, marbot culun yang tompelan ini. Dasar emang, datang buat sholat jama'ah tarawih tapi hatinya pada gitu. Emang kenapa kalau orang tompelan? Nggak tahu aja aku CEO di kehidupan sebenarnya.


Jadi penasaran, kemaren kan hari pertama aku di sini. Pertama kali juga gadis manis itu lihat aku. Tapi sikapnya malah kayak menghormati aku banget. Maksudku, nggak kelihatan beda menyikapi aku dengan orang-orang lain. 


Kuintip dari sini, dia masuk dan sholat di tempat khusus wanita. Terus berdoa khusyuk banget, habis itu baru buka bungkusan yang dia bawa tadi. Ternyata isinya mukena. Banyak, ada kali sepuluh pasang. Ada bordiran nama masjid ini semua. Kusimpulkan, itu mukena masjid. Kok dia yang bawa?


Dia buka lemari dan ngelepasin mukena-mukena di lemari dari hanger. Terus mukena yang dia bawa tadi disusunnya ke hanger itu satu-satu. Dia tata lagi ke dalam lemari. Dan mukena-mukena dari dalam lemari sebelumnya, dia masukin plastik. Sepertinya buat dicuci.


Lalu dia lanjutkan dengan ngeberesin sudut lemari berisi Al Qur'an dan buku-buku bacaan yang belum sempat kubereskan. Maksudku, aku sudah diingatkan Ustadz Yahya untuk tak sembarang masuk ke tempat sholat wanita. Khawatir kalau pas ada yang lagi nggak sempurna nutup aurat. Lagipula, lagi-lagi kata Ustadz Yahya, untuk area sholat wanita biasanya ada yang membersihkan juga. Nyuciin mukena dan lain-lain, wanita juga, cuma nggak tinggal di masjid kayak aku. 


Apa Ananda orangnya?


Em, bukannya dia anak Ustadz Yahya? Masa dia?


Untung aku masih posisi kayak lagi ngepel gini pas dia tiba-tiba keluar. Jadi nggak ketangkap basah dari tadi aku merhatiin dia. 


Dia membawa plastik berisi mukena-mukena dari dalam. Dan berpapasan denganku. 


Ya, berpapasan. Dan aku kembali melihat pemandangan yang membuatku terpaku diam. Saat bersitatap dengannya, dan dia mengangguk sekilas dengan senyum tipis. 


Manis.


Aku membalas senyumnya. Eh, apa tadi malah aku yang senyum duluan malah?


Entahlah, aku tersenyum terus sampai dia berlalu, menuju sepedanya. 


Duh, kok deg-deg an gini habis sekilas bersitatap kayak tadi? Aku menelan saliva sambil memegangi dada. Kenapa nih? 


Lalu teringat siang nanti akan belajar ngaji sama Ustadz Yahya. Ayahnya? 


Apa aku bisa tanya-tanya soal Ananda? Eh, buat apa? Maksudku, kenapa sih aku ini? Jadi pengenan tahu. 


"Kak, kita ngaji?" Tiba-tiba serombongan anak-anak yang lagi main-main di pelataran masjid mencegat gadis bersepada itu. Ananda. 


"Mau ngaji sekarang beneran? Kan jadwalnya sore." Suaranya menyahut. 


Aku manajamkan pendengaran. Sambil menarik senyuman. Suaranya enak banget kedengarannya.


Anak-anak yang ditanya malah ketawa-ketawa. 


"Sore aja, kak! Masih mau main!"


Yaelah, bocah, kecil-kecil udah pada pinter gitu basa-basi.


Dia ngucap salam ke anak-anak terus meelambaikan tangan setelah nasehatin mereka supaya semangat puasanya baru pergi, kembali melajukan sepedanya.


Dan malah aku yang jadi semangat dengarnya. Eh, puasanya. Nggak jadi kehausan deh. Apalagi pas dengar dia sore mau ke sini lagi. Ketemu lagi. 


Aku meneruskan ngepel sambil mengulum senyum, ngebayangin senyum tipisnya tadi. Walau cuma sekilas lalu. 


Wajahnya, bersih dan polos tanpa setitikpun make up. Jadi nggak bosen mandangnya. Duh, batalin puasa nggak sih gini?


---

Bersambung

 


(5) MARBOT ITU TERNYATA CEO

EPISODE 5

Penulis: AA



Suara Merduku

Malam ini, malam pertama bulan Ramadhan. Masjid ini menjadi sangat ramai, benar-benar di luar ekspektasiku.


 Maksudku, sebab aku sungguh awam datang ke masjid apalagi untuk tarawih berjama'ah seperti ini. 


Bahkan sholat dan puasa pun, aku lupa kapan terakhir kali. 


Pengurus masjid yang terdiri dari para pria dewasa dan beberapa pemuda nampak sibuk mempersiapkan berbagai agenda jama'ah. 


Dan aku, juga sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan yang diminta usai diperkenalkan Ustadz Yahya sebagai marbot masjid baru.


"Kang, galon di luar tolong diangkat ke dalam ya," perintah seorang pria dewasa, padaku. 


Aku tahu yang kemudian harus kulakukan.


 Ya, mengangkat galon. Ow, Alfadi Edibagaskara--seorang CEO perusahaan nasional ternama-- mengangkat galon! 


"Kang, tolong cari kabel panjang di gudang ya, buat nyambungin microfon untuk tadarus ini." Seorang ustadz yang menjadi imam tarawih malam ini yang memintaku.


Dan lagi-lagi, aku harus menuruti permintaan tolong atau bahkan perintah itu. Bergumul dengan barang-barang berdebu di gudang sembari mencari-cari dalam kegelapan. 


"Kang, pintu belakang WC airnya nggak bisa ngalir, apa mampet?" 


Lalu lagi-lagi aku harus beranjak memeriksa.


Ya, malam ini dipenuhi dengan kelelahan dan harga diriku yang terinjak-injak luar biasa. 


Sungguh, ini benar-benar pengalaman seumur hidup yang sangat luar biasa.


 Bahkan mungkin sangat memalukan.


 Untung tidak ada yang tahu, hanya Handi yang tahu soal ini. Bahkan ini semua adalah usulnya. Dan dia adalah orang kepercayaanku.


Setelahnya, aku juga yang harus menunggu semua orang meninggalkan masjid, lalu baru aku bisa mengunci pintu. 


Menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat ini.


Aku segera masuk ke kamar yang untungnya hanya bersebelahan bahkan menempel dinding dengan masjid ini.


 Lantas terkapar di kamar setelah menghabiskan makan malam dengan sangat lahap.


 Padahal hanya nasi bungkus dengan menu sederhana. 


Mungkin sebab begitu lelah dengan pekerjaan yang luar biasa menguras tenaga seharian ini.


Aku mengerjapkan mata yang sudah mengantuk dan ingin terpejam rasanya. Lalu mengecek email dari laporan perusahaan yang dikirimkan Handi satu jam yang lalu. 


Ya, apapun statusku sekarang, perusahaanku,  AlfaEd Coorporation tetap berada di bawah kontrolku. 


Meski secara teknis, ada Handi yang menghandle di sana. 


Hanya memeriksa laporan dan memberikan instruksi via chatting pada Handi. 


Setelahnya aku membuka tangan di atas kasur sederhana pada kamar ini.


 Meregangkan semua otot yang rasanya remuk. Huft.


Tapi... sungguh, aku tidak merasakan sakit kepala dan mual-mual seperti kemarin-kemarin. 


Apa sebab aku tak berurusan dengan uang dan harta kekayaan sejak tadi?


Aku menarik nafas dalam-dalam. 


Entah jam berapa aku terlelap. Bahkan aku tak sempat melepaskan tompel-tompel berbahan sintetis yang memenuhi wajahku ini. 


Sungguh lelah sekali.


Dan berita lebih hebatnya, aku bisa tidur dengan sangat nyenyak malam ini.


 Padahal sudah berbulan-bulan aku juga mengalami gangguan tidur. Malam ini, aku mendapatkan kualitas tidur yang luar biasa hebat setelah belakangan aku tak bisa tidur nyenyak walau telah meminum obat tidur dosis tinggi.


---


Aku tertidur pulas. Sungguh terlelap dan tak menyadari apapun sampai terdengar suara ketukkan di pintu. 


Aku menyipitkan mata yang berat dan langsung terlonjak begitu mendengar suara Ustadz Yahya yang memanggil di luar.


Apa aku kesiangan?


Seperti yang disampaikan Ustadz Yahya sore tadi, aku juga bertugas mempersiapkan masjid untuk kegiatan subuh hari. 


Bahkan memberikan "panggilan sahur" dari microfon masjid sejak pukul 03.20.


Bergegas aku menyambar pintu dan membukanya. 


Untung saja semalam tompel-tompel di wajahku lupa kulepaskan. Jadi masih menempel dengan sempurna di wajahku ini.


"Assalamualaikum." Suara ketukkan terdengar lagi.


"Wa'alaikumsalam." Aku membuka daun pintu dengan tampang benar-benar bangun tidur seperti ini.


"Masya Allah. Mari, Kang, tahajjud jama'ah dan sahur dulu." Ustadz Yahya membangunkanku dengan sopan. 


Aku mengangguk kemudian meminta maaf karena terlambat bangun. Untunglah Ustadz Yahya begitu pengertian. 


Cepat aku berganti pakaian, melepaskan tompel-tompelku dengan cairan khusus, memakai masker lalu beranjak ke kamar mandi, berwudhu sebisaku saja, lalu kembali ke kamar dan menempelkan tompel-tompel, menyisir culun rambutku lalu beranjak ke masjid, lewat pintu belakang.


Ternyata masih pukul tiga. Ckck. Demi apa aku bangun jam segini. Dan Ustadz Yahya bersama beberapa jama'ah pria sudah bersiap melaksanakan sholat tahajjud berjama'ah. 


Aku menjadi salah satu di antaranya. Dalam serangan rasa mengantuk yang nyaris membuatku beberapa kali terpejam kembali. Asli, masih ngantuk berat. 


Usai sholat tahajjud, beberapa orang yang tadi mengikuti sholat tahajjud berjama'ah, pamit pulang untuk sahur bersama keluarga masing-masing.


 Tertinggal aku sendiri serta beberapa jama'ah yang baru tiba, tapi jelas bukan pengurus masjid.


 Mereka mengambil posisi di sudut-sudut untuk membaca Al Qur'an dan duduk berdzikir.


Ustadz Yahya juga pulang, usai memberikan makan sahurku dan mengingatkanku untuk membangunkan masyarakat agar sahur, lewat pengeras suara masjid.


"Cara 'memanggil' dan 'membangunkan' warga sahur, terserah cara Kang Fadi saja ya. 


Yang unik, biar orang-orang pada kebangun dan sahur.


 Jangan lupa ingatkan jam imsyak juga," ucap Ustadz Yahya sebelum pergi tadi.


Aku faham yang dimaksudnya. "Memanggil-manggil" warga untuk sahur lewat microfon masjid yang terdengar kemana-mana. Begitu kan? 


Ini sungguh seperti tidak masuk akal kulakukan. 


Aku, entahlah. Rasanya aku ingin tertawa membayangkan kegilaan yang kulakukan sejak kemarin. Pengalaman hebat. Dari seorang raja menjadi rakyat jelata.


Aku berfikir beberapa saat sebelum mengeluarkan suara di ujung microfon. Panggilan yang unik? Aku kan sangat menjaga imej selama ini. 


Tapi, aku kan tidak sedang menjadi Tuan Alfa alias Tuan Alfadi Edibagaskara sekarang. 


Aku berperan sebagai Kang Fadi. Maksudku, Kang Padi.


 Sebab sejak kemarin, kebanyakan orang memanggilku dengan sebutan "Padi" bukan Fadi". 


Hanya Ustadz Yahya yang menyebut namaku dengan benar, sepertinya sebab ia bukan asli Sunda, sama sepertiku. 


Ya, orang Sunda kan sulit menyebut huruf 'f'. Dan aku merasakannya sekarang. Tapi lucu sih, makin menyempurnakan penyamaranku. 


Aku suka panggilan itu sekarang, Kang Padi. Berasa kayak tumbuh-tumbuhan.


Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menggubah lirik dan nada sendiri. Bersenandung sesuka hati sambil memikul senada gendang di tangan.


Sahuuur... Sahur-sahur


Sahuuur-sahuur... Sahuuur


Aku sebenarnya, suka bersenandung bebas. 


Tapi sebab begitu terkungkung dalam sikap dingin yang terbalut dalam wibawa dan formalitas selama ini, kegemaran ini pun jadi sangat terbatas.


 Apalagi keluarga besar lebih mendukungku menjadi pengusaha dibandingkan seniman musik. 


Yah, tentu saja. Bagi keluarga Bagaskara, tidak ada yang lebih baik dari menjadi seorang pengusaha besar.


Aku selalu menjaga kehormatan di hadapan siapapun. Semua dalam sikap yang tertata. Tidak pernah rileks.


Baru kali ini bisa bebas bersenandung seperti ini. Bahkan menggubah nada sendiri. Tidak ada yang mengenalku kan? 


Aku semakin bersemangat. Bersuara keras-keras, bersenandung. Sekalian membuang rasa mengantuk yang memang perlahan hilang seiring aku yang menikmati nada gubahanku ini.


Sahuur... sahur-sahur....


Sahur-sahur... sahuuuur....


Satu jam lagi waktu imsyak


Segera sahur... sahuur....


Di luar sana. Aku tahu. Suaraku sedang menggema kemana-mana. Ini asyik sih. 


Setelah itu, berhenti beberapa waktu, aku menikmati menu makan sahurku. Baru membangunkan sahur lagi. 


---


"Yang tadi membangunkan sahur, Kang Padi?" Tanya Pak Firman, salah satu pengurus masjid.


Aku mengangguk. Dengan sikap seorang marbot.


"Masya Allah. Ternyata merdu sekali suara Kang Padi ini ya." Pak Budi yang juga pengurus masjid menimpali.


"Iya. Saya juga baru tahu. Diam-diam ternyata. Mungkin bisa masuk list jadi imam tarawih nanti, gimana?" Kali ini Ustadz Yahya yang bicara sekaligus membuat usulan mengejutkan itu.


Aku tersengal.


Apa? Jadi imam? 


Aku mana bisa ngaji!


Semua orang mengangguk sepakat. Dan aku seketika membelalak. 


Bisa nyanyi nggak bisa ngaji! Tiba-tiba ditunjuk jadi imam lagi. Haduh!


---


Bersambung

Friday, April 11, 2025

 

(4)  MARBOT ITU TERNYATA CEO


Penulis: hamba Alloh


Ananda

Gambar hanya pelengkap

Seseorang yang baru masuk dari arah pintu dengan setelan OKU (Orang Kaya Udik). Wanita menor dengan rentetan emas di sepenuh leher, tangan, dan jari-jarinya. 

Lalu nampak membuka dompet amat tebal berisi uang, kumudian menyerahkan nominal terkecil pada seorang peminta-minta yang menengadahkan tangan di sana. 

Demi melihat pemandangan uang dan perhiasan itu, seketika aku merasakan pening luar biasa menyerang kepala.

 Juga serangan rasa mual yang mendorongku untuk muntah detik ini juga. 


Membuatku urung untuk menyerah dalam penyamaran menjadi marbot masjid ini. Aku masih terlalu stress sekali ternyata jika harus kembali berhadapan dengan uang dan kekayaan seperti itu, bahkan ratusan kali lebih besar. Tidak, aku muak.


Aku segera mengalihkan pandangan dan berpegangan pada sandaran tangga sambil memijit kepala. Sial, ini benar-benar menjadi penyakit anehku rupanya. Aku seperti sudah muak sekali melihat uang dan kekayaan. 


Untunglah tak jadi muntah sebab aku cepat mengalihkan pandangan. Dan sosok yang kudengar disebut-sebut orang-orang di luar sana sebagai Hj. Melani itu tak jadi memasuki masjid. 


"Oh, Ustadz Yahya, untung ketemu di sini. Ini saya cuma mau sedekah. Ya sedekah lumayan banyak lah buat bantu-bantu buka puasa ramadhan jama'ah di sini nanti. 100 kotak nasi. Jangan lupa nanti di kotak makannya dituliskan dengan jelas ya, Pak Ustadz... takjil ini sedekah dari Hj. Melani, begitu," ucap wanita bertutup kepala yang hanya menutup rambutnya saja itu sambil sumringah sekali. 


Dan entah apa lagi yang ia bicarakan dengan Ustadz Yahya. Aku segera menjauh sampai tak terdengar suaranya. 


Sial, orang-orang di belahan dunia manapun ternyata sama saja. Sombong dan pencitraannya. Semua harus selalu menyertakan identitas sebagai pemberi. Di kalangan konglomerat sepertiku, itu hal umum dilakukan. Membantu demi mengukuhkan nama besar dan marga keluarga. Apalagi jika ada tujuan politiknya.


Ternyata di kalangan OKU (Orang Kaya Udik) seperti wanita itu justru lebih norak caranya. Mungkin Handi benar, cara terbaik untuk melepaskan kejenuhan dan stress ku adalah dengan menyelam sepenuhnya dengan hidup dalam penyamaran di kasta ini.


Meski sungguh harus berhadapan dengan tantangan kelelahan yang meremukkan tulang-tulang. Jelas berbeda rasanya, lelah duduk di balik meja kebesaran seorang CEO dengan lelah mengepel lantai masjid seluas ini. Dan harus kulakukan setiap hari. Tapi mungkin ini sungguh lebih baik untukku sekarang. 


Aku urung menggagalkan rencana penyamaran ini.


Mengambil alat pel kering dan membersihkan lantai banjir tadi kembali. Melanjutkan pekerjaan dengan mengelapi kaca-kaca jendela. Juga menggelar sajadah panjang baru sebagaimana arahan Ustadz Yahya. 


Hingga jelang maghrib, aku baru bisa mandi. Mandi pada WC masjid yang uh... mengapa begitu tidak terawat? 


Aku mengibaskan tangan di depan hidung. Siapa yang harus membersihkan WC-WC masjid ini? 


Aku. 


Ya, aku. Ini sungguh gila bukan, bagaimana mungkin seorang tuan besar sepertiku melakukan semua ini? Hanya demi keluar dari titik jenuh yang sungguh menggila sekali. 


---


Aku selesai mandi dengan cepat. Mana betah berlama-lama mandi pada kamar mandi yang menyatu dengan WC seperti itu. Meski sudah kusiram pewangi banyak sekali. Mungkin karena belum terlalu bersih, jadi terkesan jorok. Ya, hanya karena alasan itu.


Padahal di rumah mewahku, aku bisa betah berlama-lama di kamar mandi. Berendam di bath up dengan air hangat. Dulu. Tapi itu dulu. Sebelum penyakit aneh ini menyerang. Setelah aku makin merasa mual dengan kemewahan, aku juga tak begitu nyaman dengan kemewahan kamar mandi dengan fasilitas lengkapnya.


Entah tempat mandi seperti apa yang bisa membuatku nyaman sekarang.


Aku keluar setelah kembali menggunakan tompel-tompel yang memenuhi wajahku. Juga sisiran rambut yang begitu culun, lengkap dengan pakaian tak bermerk ini. 


Suasana masjid ramai. Sebab menurut kalender, besok mulai memasuki bulan Ramadhan. Pun masih menunggu hasil keputusan pemerintah ba'da isya nanti. 


Murottal Al Qur'an sudah kunyalakan sejak setengah jam yang lalu, sesuai arahan Ustadz Yahya. 


Sebenarnya aku tak faham juga apa murottal yang kunyalakan tadi. Bahkan bacaan sholat pun aku tak faham. Hanya menuruti gerakkan orang-orang, toh aku hanya menjadi makmum. Dan, sholat? Sejak kapan aku pernah sholat?  Yah, ini juga hanya bagian dari penyamaran dan terapi mandiri yang sedang kulakukan.


Sekumpulan anak-anak dengan pakaian muslim berwarna-warni langsung tergelak begitu melihat aku lewat. 


Menunjuk-nunjuk ke arahku yang baru keluar dari kamar mandi dengan membawa pakaian kotorku. 


"Hahaha... jelek banget!"


"Hahaha... tompelan!"


"Hahaha... iya, tompelannya banyak banget!


"Hahaha... om-om tompel!"


What? 


Oh yeah, penampilanku dalam penyamaran ini nampaknya sempurna. Dan sepertinya aku harus menikmati konsekwensi dari ini semua. Menjadi ejekan semua orang. 


Ini lebih baik daripada aku menunjukkan wajah asliku dan orang-orang akan mengenali siapa aku sebenarnya.


Aku melangkah cuek melewati kumpulan anak-anak yang masih menertawakanku di sisi tangga. Untuk apa juga meladeni bocah-bocah seperti itu. Tidak ada gunanya. Aku harus fokus keluar dari titik jenuhku sendiri, itu saja.


"Astagfirullahaladzim. Adik-adik, siapa yang ngajarin menghina orang begitu? Kan kakak sudah sering bilang, jangan pernah menghina orang, siapapun. Walau cuma untuk bercanda. Minta maaf sana."


Aku menghentikan langkah. Seperti ada tarikan ghoib yang memaksaku untuk berpaling, melihat pada pemilik suara itu. 


Aku menoleh, menajamkan pendengaran tanpa membalikkan badan. Dan mendapati seseorang yang masih bicara dengan bocah-bocah di sisi tangga. Membungkuk, masih menasehati mereka semua, untuk meminta maaf, padaku.


Dia... Ananda. Benar kan namanya Ananda? Gadis yang bersama Ustadz Yahya siang tadi. 


Anak-anak itu berlarian ke arahku, usai dinasihati oleh dia. Lalu berebut mencium punggung tanganku. Meminta maaf. 


Aku gelagapan untuk beberapa saat menerima 'serangan' tiba-tiba dari bocah-bocah ini.


Dan saat mengangkat kepala usai dengan semua keriuhan para bocah yang masih mengelilingiku, pandanganku terpaku ke arahnya, yang tersenyum ke arahku. 


Seperti terhunus pedang tepat di pusat kesadaran tanpa persiapan, ada sesuatu yang terasa meletup dan berdegup tak biasa, di dalam sini. Senyumnya terasa... tulus sekali. 


Cantik.


Bocah-bocah itu selesai menciumi tanganku, lalu kembali berlarian menuju gadis berjilbab panjang dengan gamis warna senada itu.


"Sudah minta maafnya!" Teriak mereka. 


"Waktunya ngaji!" Sebagian bocah menimpali.


"Eh, sholat dulu," suara gadis itu lagi. 


"Oh iya ya. Hahahaha." Suara para bocah.


Mereka berputar arah. Masuk ke dalam masjid lewat pintu utama. Sedangkan aku masih terpaku di sini. Menatap punggung-punggung mereka. Ah, bukan, maksudku, menatap punggung Ananda. 


---


Bersambung

 

(3) MARBOT ITU TERNYATA CEO


Episode, 3


Gambar hanya pelengkap

Hari Pertama Menjadi Marbot

Gadis muda berjilbab itu mendekat ke arah Ustadz Yahya. Lalu menyerahkan sebuah keresek putih berisi bungkusan nasi. 


"Ini, Ayah," ucapnya.


Ayah? Jadi itu anaknya?


Aku bisa melihatnya dari dalam sini tapi dia tak melihatku dari luar, terhalang separuh pintu dan posisiku yang tak menghadap ke arah datangnya.


Ustadz Yahya kemudian menyerahkan bungkusan itu padaku. Lalu berpamitan pergi. Setelah sekali lagi mengingatkan, untukku, mengerjakan pekerjaan di masjid besar ini. Dan aku mengangguk dengan sikap seorang marbot. 


Aku memilih duduk di depan pintu menyantap makan siang yang sangat berbeda ini. Tanpa alat makan lengkap apalagi pilihan menu-menu mewah seperti biasa. Bahkan, tanpa tidak ada walau sendok.


Aku membuka bungkusan dan menemukan nasi dengan sayuran berupa daun--entah Dau apa ini--yang direbus ditambah sambal dan telur rebus dan seiris tempe goreng serta kerupuk. Menu apa ini? Aku tidak pernah melihat menu seperti ini. Maksudku, sesederhana ini. Tapi mengapa rasanya aku sangat tertarik mencoba?


Tentu saja aku makan dengan tangan, tanpa sendok garpu seperti biasa.


Aku mengunyah. Makanan pertamaku sebagai marbot masjid. Rasanya... em, enak. Ya, sungguh ini enak. Apalagi sambalnya. Cepat sekali aku menghabiskan sebungkus nasi itu.


Selanjutnya aku segera beranjak menuju tempat diletakkannya alat-alat kebersihan yang tadi ditunjukkan Ustadz Yahya. 


Memulai pekerjaanku di tempat ini. Kumulai dengan menyapu seluruh masjid, dalam dan luar, juga di lantai dua. Ini pukul dua siang. Masjid ini cukup sepi ternyata di jam-jam begini. Atau kebetulan saja? Entahlah, aku kan nyaris tidak pernah ke masjid selama ini.


Setelah menyapu seisi masjid, aku terduduk dengan tubuh banjir keringat. Oh, Tuhan. Ternyata ini sangat melelahkan. 


Lalu melawan lelah, aku kembali bangkit, mengepel lantai seperti yang seminggu belakangan kupelajari dengan privat bersama OB pilihan Handi.


Dan tahukah, ternyata mengepel jauh lebih melelahkan. 


Hampir menyerah ketika kuingat lagi kata-kataku pada Handi, kalau aku akan menyelesaikan semua ini hingga satu bulan ke depan. Pantang bagiku melanggar apa yang pernah terucap, bahkan meski hanya terucap dari bibirku sendiri tanpa ada orang lain yang mendengar. Kata orang, aku ambisius. Hm, mungkin benar.


Aku mengelap keringat di kening dengan lengan dan melanjutkan mengepel lantai satu sampai selesai. 


Baru saja aku akan mengangkat ember berisi air kotor bekas mengepel, ketika dua anak kecil tiba-tiba masuk dari arah depan. Berlari-larian dan menendang ember berisi air kotor itu. Membuat banjir lantai yang sudah kubersihkan.


Lalu keduanya terpeleset di lantai keramik. Tak lama, muncul dua orang wanita dewasa dari luar yang langsung menyambar kedua bocah yang terbanting di atas lantai. Disusul suara pintu mobil dibanting dari arah luar dan menyusul seorang lelaki dewasa dari sana. Juga menuju pada dua bocah yang menangis kencang sekali itu. Benar-benar membuat pekak telinga. Dan melecut emosiku hingga ke ujung kepala. Bagaimana mungkin mereka membiarkan dia anak kecil itu masuk dan menendang ember pel serta mengotori lantai yang sudah kubersihkan?


Ingin kumaki detik ini juga, agar mereka menjaga anak-anak dari bertindak ceroboh seperti tadi.


Tapi belum ada satu kalimat pun keluar dari bibirku, lelaki dewasa itu menyambar bagian depan kaos yang kugunakan. 


"Hey, kalau ngepel yang benar. Sampai banjir begini, gimana anak saya nggak jatuh?! Bisa tanggungjawab kamu kalau sampai anak-anak saya geger otak?!" 


What?


"Laporin aja, Pa sama pengurus masjidnya. Jadi tukang bersih-bersih kok nggak bener banget!" Sengit wanita yang berdiri di sampingnya. Memicingkan mata penuh permusuhan ke arahku. 


Hey, nyaris aku hilang kendali. Balik membentak-bentak mereka yang tak becus menjaga anak. Dan merusuhkan pekerjaanku. Aku sudah mengepel lantai ini sejak tadi, melelahkan sekali, dan justru dikotori kembali oleh kedua bocah itu.


Atau, aku perlu mencari tahu dimana tempat kerjanya dan memberikan pelajaran pada lelaki lancang ini?


Emosiku terbakar. Nyaris saja aku melupakan statusku yang sedang menyamar ketika datang Ustadz Yahya dan dua orang lelaki muda yang segera melerai. Maksudku, menenangkan kemarahan orang-orang ini. 


"Ada apa ini?"


"Oh. Anda pengurus masjid ini?" Tanya wanita itu dengan ekspresi sombong sekali.


Ustadz Yahya mengangguk. 


"Tolong dipecat marbot ini! Kerjanya nggak becus! Masa ngepel lantai sampai banjir begini. Anak-anak saya jatuh jadinya. Keterlaluan!"


Aku meremas tangan. Seumur hidup, tidak pernah aku dihina seperti ini, sedikitpun tidak pernah. Aku selalu hidup dalam penghormatan semua orang. Untung logikaku cepat terbangun, mengingatkan, status penyamaranku sekarang. 


"Mohon bersabar, Bu, Pak. Dan tolong jangan pakai emosi. Kita bicarakan baik-baik. Ingat, ini di masjid, tempat ibadah. Tidak layak mengucapkan kata-kata yang tidak baik," ucap Ustadz Yahya dengan santun dan tegas.


Dan sukses membuat bungkam mereka. 


"Bagaimana kejadiannya? Apa betul yang disampaikan Ibu ini, Kang Fadi?" Kali ini Ustadz Yahya beralih menatapku.


Aku menarik nafas, berusaha meredakan emosi. Lalu kembali menyempurnakan peranku. 


"Tidak benar, Ustadz. Tadi saya baru selesai mengepel, lalu dua anak ini masuk, berlari-lari dan menabrak ember bekas pel saya dan terjatuh. Seharusnya saya yang marah," ucapku dengan nada dan logat seorang Kang Fadi, kasta marbot masjid. 


"Apa?! Heh kamu! Marbot belagu! Berani kamu mau marahi kami?! Nggak tahu lagi ngomong sama siapa?!"


"Jangan pakek alasan malah nyalahin anak saya kamu!"


Lagi-lagi aku dibenatak. Oleh pria dan dan wanita dewasa itu. Maka nyaris kulayangkan tinju. Urgh! Rasanya tidak tahan lagi. Dihina seperti ini. 


Untung Ustadz Yahya cepat mengambil tindakan dan meminta orang-orang tak tahu diri itu keluar. 


"Kok malah kami yang diusir sih, Ustadz? Kami cuma mau numpang ngadem di sini. Dari perjalanan jauh." Protes wanita itu lagi.


"Maaf, Bu, Pak. Kami tidak berniat mengusir. Dan tidak ada hak mengusir. Ini rumah ibadah, terbuka untuk semua orang. Tapi jika Bapak Ibu membuat keributan, maka kewajiban kami mengamankan. Jadi mohon tenang. Tadi Kang Fadi sudah menjelaskan. Atau ditanya ke anak-anak ibu sendiri. Bagaimana, Nak? Benar kalian yang menumpahkan air di ember pel tadi?"


Dan kedua anak yang masih menangis itu saling melirik, lalu mengangguk.


Huh. 


Tapi tetap saja, orangtuanya tak mau percaya. Atau sebab terlanjur malu. Lalu mereka malah pergi. Sembari mencebik ke arahku.


"Dasar marbot tompelan! Jelek aja belagu!"


Waw, aku dihina? Seorang Tuan Alfadi Edibagaskara? 


Oke, well. Ini pengalaman dan hari pertamaku menjadi marbot masjid.


Di satu sisi, ada emosi yang tersulut tentu saja. Tapi di sisi lainnya, apa mestinya aku puas sebab penyamaran ku nyaris sempurna dan membuat orang-orang percaya? Apalagi tompel-tompel ini.


"Maaf, kadang ada orang yang datang atau bahkan jamaah yang seperti itu memang. Silakan diteruskan ya, Kang," ucap Ustadz Yahya sambil memberikan kode tangan yang ditangkupkan di depan dada.


Mengulang ngepel lagi? Yang benar saja. Ya Tuhan.


Ini sangat menyebalkan. Apa begini melelahkan kehidupan tanpa kekuasaan dan uang? Apa aku perlu bertahan di sini? 


Sepertinya keputusan ini harus kufikirkan ulang. Meski aku tak pernah menjilat ludah sendiri. Namun kali ini, aku seperti ragu sekali. Demi merasakan rasa lelah di sekujur tubuh ini. Belum lagi harus menyentuh kain pel yang menjijikan ini setiap hari. Mungkin aku memang sudah mengambil keputusan gila seminggu yang lalu.


Lalu saat aku berpaling ke arah pintu, niatku urung seketika. Saat melihat kehadiran seseorang di sana. Dari arah pintu yang terbuka.


---


Bersambung

Monday, April 7, 2025

 

MARBOT ITU TERNYATA CEO

Episode 2

Penulis: hamba alloh

Gambar hanya pelengkap saja lur

*Jenuh Jadi Orang Kaya*


(Dalam sederhana, kutemukan bahagia sebenarnya) 


Pernahkah kalian merasakan berada di titik terjenuh kehidupan? Ketika semua yang sangat biasa menjadi seakan hilang rasa?


Aku, sungguh jenuh. Dengan semua ini. Kehidupan yang terlalu monoton dan keberuntungan yang terus berpihak.


Aku bosan melihat uang dan menikmati kekayaan. Ah, tidak, bukan hanya bosan. Aku sungguh jenuh. Parahnya, beberapa waktu belakangan, aku sungguh merasakan sakit kepala tak tertahankan hingga mual dan muntah tiap melihat tumpukan uang dan perhiasan. Semua yang mengelilingiku sejak dalam kandungan.


Yes, aku dilahirkan dari keluarga konglomerat, kaya raya tujuh turunan. Kehidupan yang terlalu berkecukupan dan digelimangi kemewahan.


Aku jenuh. Dan ingin segera pergi jauh. Atau menjalani kehidupan lain yang bisa membuatku sembuh, dari mual melihat uang. 


Dokter keluarga kudatangkan untuk mengobatiku. Tapi semua mengangkat tangan. Bingung dengan penyakitku atau sengaja menutupi?


"Em, tidak ada penyakit medis yang serius. Saya rasa semua normal. Sepertinya anda hanya terlalu banyak fikiran dan stress menghadapi pekerjaan, tuan muda," jelas dokter terakhir yang memeriksaku. "Mungkin anda bisa mengagendakan untuk refreshing, berlibur ke luar negeri, menikmati suasana pantai atau...." Dokter wanita yang kutaksir berusia empat puluhan dan menjadi dokter pribadi Mamiku itu menggantung kalimatnya. 


"Atau apa?" Aku memicingkan mata yang terasa kian berat. Sembari memijat tengkuk yang terasa sakit. 


"Atau Anda membutuhkan suasana baru," sambungnya. Terdengar hati-hati. 


Aku masih memicingkan mata.


"Yah, dalam beberapa kasus... em, menikah bisa menjadi salah satu solusi." Ia mengangkat bahu dengan sungkan melihat ke arahku. Setelah melirik kepada Mami.


Baik, aku tahu ada 'persekongkolan' di sini. Antara dokter itu dengan Mami. Yeah.


Ini memuakkan. Entah bagaimana Mami dan Papi bisa bertahan hidup dalam kehidupan menjemukan ini hingga setengah abad. Lalu memaksaku untuk juga bertahan. Ouh. Huft. Aku tidak bisa.


Dan tidak ada satupun yang percaya, aku jemu, jenuh, justru dengan kekayaan ini. Bukan karena stress biasa.


Dan apa yang dikatakan oleh dokter yang aku yakin sudah disetting oleh Mami tadi? Solusinya dengan menikah? Tidak masuk akal bukan? Solusi menghilangkan kejenuhan dan stress dengan menikah? Aku tidak sebodoh dan sepolos itu. Aku sangat mengerti, menikah hanya akan meningkatkan kadar stress lebih besar. Sudah banyak buktinya.


Ini sungguh, hanya akal-akalan Mami agar aku mau dijodohkan, dengan juga putri-putri bangsawan, yang sekasta dan setara dengan keluarga ini. Lagi-lagi, untuk kian menumpuk pundi harta. 


Aku semakin mual membayangkannya.


"Hoek!" Ups. Aku muntah. Yah, tak bisa lagi kutahan. 


Aku sungguh jenuh. Kenapa tidak ada yang mau mengerti?


Dokter itu, aku yakin ia tahu apa yang kualami, hanya saja uang Mami pasti membuatnya bungkam untuk mengungkapkan. Huh. Lagi-lagi karena uang. Membuatku kembali mual.


---


"Stress anda sudah sampai di titik cukup parah sepertinya, Tuan." Handi, asisten pribadiku menatapku khawatir. Menyodorkan sebotol minyak kayu putih ke atas meja kerjaku. 


Aku memijit pelipis. Lalu menutup kasar sekoper uang yang baru dibawa oleh klienku, beberapa menit lalu.


"Ya."


"Apa anda tidak ingin berobat dulu?" Handi kembali menawarkan.


Aku hanya mengangkat bahu. Berobat? Percuma saja berobat jika dokter-dokter keluarga itu nyatanya berada di bawah persekongkolan dengan Mami dan Papi. Malah memberikan solusi tak masuk akal. Refreshing ke luar negeri atau yang lebih gila, menikah--dengan putri bangsawan yang mereka tawarkan. Sungguh tidak ada pengertian akan kejenuhanku ini.


"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Handi belum beranjak dari ruanganku. Bertanya serius. 


Tidak biasanya dia banyak bertanya seperti ini. Yah, mungkin kondisiku sudah terlihat sangat memprihatikan sekarang. Hingga memancingnya untuk lebih berani menelisik hidupku lebih dalam.


Handi, ya, dia adalah orang kepercayaanku. Mungkinkah dia bisa membantuku?


"Maksud saya, em... stress apa sebenarnya yang Tuan alami? Pekerjaan? Saya rasa semua proyek berjalan sangat lancar. Tender-tender perusahaan terus mengalami kenaikan--"


"Ya, itu! Itu sebabnya!"


Handi terdiam. Seperti berusaha keras mencerna maksudku. 


"Maaf, saya tidak mengerti, Tuan," ucapnya sambil menunduk hormat. 


Aku kembali membuka koper berisi penuh uang ratusan ribu. Lalu mendorongnya keras dari atas meja hingga tumpukan uang bernilai total satu milyar itu berhamburan di lantai. 


"Aku muak melihat uang! Aku jenuh dengan semua kekayaan ini! Kau mengerti?!" Aku memejamkan mata sambil menghempaskan kepala ke sandaran kursi kebesaran.


Handi terdiam beberapa saat. Lalu kudengar kemudian ia kembali membuka suara.


"Ya. Saya mengerti, Tuan. Kalau begitu, ijinkan Saya memberikan solusi."


Aku membuka mata. Tajam menatapnya. 


"Apa?" Antara ragu dan terpancing ingin tahu.


"Anda butuh mencoba hidup yang baru, Tuan."


Entah kenapa, yang kembali terlintas di kepalaku atas kalimat ambigu Handi adalah hal yang sama dengan sesuatu yang terus disodorkan Mami, menikah. 


Ternyata Handi sama saja. 


"Orangtua saya kebetulan donatur bagi pembangunan sebuah masjid, Tuan. Jadi sedikit banyak mengetahui soal perkembangan tempat ibadah itu." Ia berucap tenang. Tapi seakan penuh keyakinan. 


Aku belum mengerti, apa maksudnya?


"Jika Anda mau, saya bisa merekomendasikan Tuan untuk menjadi marbot masjid itu selama bulan Ramadhan yang sebentar lagi tiba, Tuan," ucapnya hati-hati.


Aku tersentak.


"Apa?!"


"Ya. Saya rasa Anda butuh suasana dan pengalaman hidup yang tak biasa. Keluar dari semua zona ini. Merasakan nasib hidup dalam kasta manusia awam. Anda bisa tinggal di masjid itu pada sepetak kamar sederhana yang disediakan. Melakukan pekerjaan kasar dengan bayaran seikhlasnya dan hidup dalam kesederhanaan. Jika Anda memang benar-benar jenuh dengan kehidupan Anda sendiri." Handi memberanikan diri menatapku sekilas, lalu menunduk tak lama kemudian. "Em, saya mohon maaf jika saran ini terdengar lancang, Tuan," sambungnya.


Bekerja kasar dengan bayaran seikhlasnya dan tinggal di sepetak kamar sederhana?


Aku belum menjawab apapun tapi bisa kurasakan suatu kehangatan yang menenangkan mulai menjalari tengkuk hingga kepala dan dada. Ah, apa ini? Aku merasa hembusan ketenangan seperti tertiup ke dalam diri ini begitu saja, hanya demi mendengar gambaran kehidupan yang disebutkan Handi tadi.


"Ah, ya. Maaf jika saya sangat lancang, Tuan. Mungkin saya terlalu banyak berimajinasi." Ia tersenyum sungkan demi mendapatimu yang hanya terdiam. "Jika Anda ingin berlibur, saya akan segera siapkan tiket, hotel, serta keperluan liburan Anda dan--"


"Oh tidak. Aku menerima tawaran pertamamu," potongku cepat. 


Ia melebarkan mata, memastikan kesungguhan perkataanku. 


"Aku ingin menjadi marbot masjid seperti yang kau tawarkan. Mengerti?"


"Oh, ya. Baik, Tuan."


"Bagus. Urus semuanya. Jangan lupa, rahasiakan semua identitasku, di sana. Dan handle perusahaan selama aku pergi mengasingkan diri. Rahasiakan hal ini dari siapapun. Termasuk keluargaku." Aku mengetuk ujung meja. 


"Baik, Tuan." Handi mengangguk faham. Dengan raut teramat lega. 


Aku menunjuk ke arah pintu, suatu kode, bahwa aku sudah selesai bicara dengannya. 


Sekali lagi ia mengangguk hormat, lalu meninggalkan ruanganku. Dengan membawa senyuman yang tak biasa.


Sementara di meja ini, aku mengambil kalender lipat di atas meja. Selama bulan Ramadhan tahun ini? Itu artinya, satu minggu lagi. 


Baiklah. Aku akan menjalani kehidupan baru. Ini menantang dan menyembuhkan mual serta sakit kepalaku, bahkan hanya dengan membayangkannya. Semoga saja kenyataan sebaik bayanganku ini juga. 


Ya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Aku hanya sedang berupaya keluar dari titik jenuh ini. 


---


Bersambung

Friday, April 4, 2025

 MARBOT ITU TERNYATA CEO

Cerpen pagi episode 2

Marbot Bertompel

Handi mempersiapkan segala rencana dengan baik. Dia memang selalu bisa diandalkan. Bahkan dia juga menyediakan waktu untuk aku mempersiapkan diri, bekal menghadapi pekerjaan baruku, menyediakan kelas privat menyapu, mengepel, mengelap kaca, dan berbagai hal terkait lainnya. Yah, aku tidak mungkin bisa mengerjakan semua itu tanpa diajari seperti ini. 


Kufikir pekerjaan kasar seperti ini mudah saja dikerjakan, tapi ternyata juga membutuhkan keterampilan. Ya ini sulit.


"Pengurus masjid tidak ada yang tahu tentang identitas Anda, Tuan Alfa. Seperti permintaan Anda, Saya merahasiakan semuanya. Jadi semua ini memang harus Anda kuasai." Handi menunduk hormat demi melihatku yang sepertinya nyaris menyerah mempelajari teknik melakukan semua ini.


Yah, dia benar. Bahkan bukan tidak mungkin aku akan mendapatkan sangsi di tempat kerja baruku nanti jika tak becus bekerja. 


Em, hey, seorang Alfadi Edibagaskara, CEO muda yang kaya raya sejak dalam kandungan ini sedang berupaya menjadi seorang marbot masjid? Apa aku gila?


Yeah, justru aku sedang berupaya keluar dari titik jenuh agar tidak gila. 


Dan tentu saja, privat itu kulakukan diam-diam, di sebuah ruangan tertutup yang memang sudah disiapkan Handi.


Hari ini, bersama Handi aku sudah tiba di masjid dan kota tujuan. 


"Jadi Akang ingin menjadi marbot di masjid ini selama Ramadhan?" Tanya pria yang dikenalkan padaku sebagai ketua pengurus Masjid Almira Tiga ini, Ustadz Yahya. 


Em, Masjid Almira Tiga? Kenapa ada 'tiga' nya? Entahlah. Mungkin nanti aku akan mendapatkan jawabannya seiring waktu.


Ustadz Yahya nampak mengamati penampilanku. Baiklah, semoga penampilanku ini cukup meyakinkan. Kaos oblong tanpa merk, celana kain yang juga tak bermerk, ditambah kopiah rajut yang miring, menempel di kepala, menutupi sebagian rambutku yang legam dan sengaja kubuat sedikit acak-acakan. Serta tak ketinggalan, sandal jepit all size, meski terasa pas-pasan saja di kakiku.


Lagi-lagi Handi yang membantuku mempersiapkan semua ini.


Aku menurunkan bahu yang terbiasa ditegakkan ini, serta menundukkan pandangan yang selalu lurus ke depan atau dengan dagu yang sedikit terangkat. Kali ini, aku berupaya untuk menundukkan kepala. Agar semakin sempurna dan rencanaku bisa berjalan seperti harapan semula.


"Benar, Ustadz," jawabku. Setelah terbatuk sedikit dan mengatur suara, demi mengeluarkan nada bicara penuh harapan, bukan cara menjawab penuh bentakan seperti yang selama ini selalu kulakukan.


Ustadz berwajah teduh itu manggut-manggut. Tersenyum ke arahku. Sangat nampak, ia terbiasa menghormati orang lain tanpa memandang kasta dan sebagainya.


"Sudah pernah jadi marbot masjid sebelumnya? Maksud saya, bisa ngepel, bersih-bersih begitu?"


Kali ini pertanyaannya terlihat ragu. 


Kenapa bertanya begitu? Apa sikap dan penampilanku ini masih meragukan? Uh, kacau. Sebenarnya aku belum terlalu lihai melakukan pekerjaan itu, meski sudah menjalani privat menyapu dan mengepel dengan OB perusahaan kepercayaanku untuk mengajari melakukan hal-hal itu. 


Yah, bukan salah OB itu sepenuhnya, mungkin, sebab tak maksimal mengajarkan. Lebih banyak gugup dan ketakutan tiap kali aku bertanya pendapatnya tentang caraku melakukan hal-hal itu. Dia selalu menjawab, "Iy-iya, benar, Tuan."


Selalu benar, jawabannya. Aku tahu, dia tak pernah berani menyalahkanku, meski itu dalam rangka 'belajar', yang sedang kulakukan. 


"Bisa," jawabku singkat. Belum mengangkat pandangan.


"Baik, saya percaya. Maaf, Kang. Hanya memastikan." Ia tiba-tiba sudah menepuk bahuku akrab. 


"Sebenarnya, pas sekali memang sebab Mang Bilal, marbot masjid ini sedang ijin pulang kampung, selama Ramadhan ini. Jadi memang sedang kosong," jelasnya dengan senyum renyah. 


Ya, tentu saja marbot lama itu sudah pergi, Handi juga sudah mengatur kepergiannya, agar aku bisa menggantikan posisinya, di sini. Ini semua bagian dari rencana.


"Nanti insya Allah selalu ada jatah sahur dan berbuka puasa. Tenang saja, insya Allah untuk makan dijamin," ucap pria paruh baya itu sambil mengangguk ke arahku. 


Aku ikut mengangguk.


"Di sini tempat penyimpanan alat-alat kebersihan untuk membersihkan masjid ya, Kang. Sapu, alat pel, ember, dan lain-lain. Tugas Kang Fadi jadi memastikan Masjid Almira Tiga ini selalu dalam keadaan bersih dan rapi ya. Selain itu juga mengecek speaker masjid, microfon, juga memutar murottal di waktu-waktu jelang sholat." Ustadz Yahya menjelaskan tugas-tugas yang mesti kukerjakan mulai hari ini juga. 


Yeah, selamat datang kehidupan baru. 


Handi pamit tak lama setelah aku diantar ke dalam sepetak kamar sederhana yang berdempetan dengan masjid ini. 


"Jika Anda butuh bantuan atau tidak tahan di sini, segera telepon saya, Tuan," bisiknya.


"Tidak. Aku akan bisa menyelesaikan semuanya dengan baik," sahutku sambil memindai sekeliling kamar yang akan kutempati satu bulan ke depan. 


Ini ruangan yang... sangat sempit. Bahkan lebih sempit dari ukuran toilet atau kamar mandi kamarku. 


Handi pergi. Dan tertinggal aku sendiri di kamar ini. Melepaskan masker wajah yang sedari awal kedatangan terus kukenakan. Lalu bercermin, menatap dua tompel besar tempelan di kedua pipiku serta satu tompel lebih kecil di daerah dagu. Tentu saja ini tompel mahal yang terlihat sangat natural, seperti asli, memenuhi kedua pipiku. Hey, penyamaran macam apa ini? 


Aku mengangkat bahuku sendiri. Anggaplah aku hanya sedang berjaga-jaga dalam penyamaran. Sebab bukan tidak mungkin, ada jamaah yang tak sengaja datang ke masjid ini lalu mengenaliku. Aku harus maksimal menyamarkan diri. 


Ya, aku harus terlihat sangat berbeda. Aku sekarang sedang menjadi Kang Fadi--si marbot masjid, bukan Tuan Alfa--sang CEO ternama. 


Aku kembali berkaca. Melihat wajah tampanku yang terlihat sangat berbeda dengan tompel-tompel dan belahan rambut culun seperti ini. Nampak... mengenaskan. 


Belum selesai aku menertawakan rupaku sekarang, pintu kamar diketuk. Aku segera beranjak, membuka pintu.


Ustadz Yahya lagi yang datang. Dan cukup terkejut melihat rupaku tanpa masker wajah seperti tadi. Dengan tompel-tompel yang memenuhi wajahku ini. Ya, pasti terlihat sangat nyata. 


Namun cepat ia mengurai ekspresi keterkejutannya dengan mengucapkan salam.


"Kang, bisa membersihkan masjid mulai hari ini ya? Sore juga tidak apa-apa. Kalau masih mau istirahat, silakan istirahat dulu. Soalnya malam insya Allah sudah dipakai tarawih. Saya mau pamit pulang dulu," ucapnya tenang. 


"Baik, sebentar lagi saya bersih-bersih," jawabku. Berusaha agar terdengar sealami mungkin.


"Oh ya, sebentar. Ananda, sini. Mana makan siang untuk Kang Fadi tadi?" Ustadz Yahya berpaling, memanggil seseorang. 


Ananda?


Lalu mendekat seorang gadis berjilbab coklat, menyerahkan sebungkus makanan pada Ustadz Yahya. 


"Ini, Ayah."


Seorang gadis muda.


----


Bersambung

 TIRA MISU







Tidak ada yang menjamin tahun depan dapat bertemu kembali bulan mulia ramadhan seperti saat ini.


Atau...


Belum tentu juga usia bisa rampung hingga ramadhan berakhir.


Apa yang akan dilakukan, bila usia kita tinggal dua belas hari lagi karena suatu penyakit?


Jadi sebaiknya setiap muslim harus menjadikan ramadhan kali ini adalah yang terakhir bagi dirinya.


Apakah cukup dengan tekad saja?


Harus dihadirkan 8 syarat, meminjam istilah sahabat saya, Syamril (Rektor Iinstitut Teknologi dan Bisnis Kalla dan direktur PT. Bina Talenta Unggul). 


Untuk mudahnya syarat tersebut disingkat TIRA (tekad, ilmu, rencana, aksi). Agar lebih maksimal perlu ditambah MISU, yaitu monitoring, improve, sabar, dan syukur.


Ada 3 aspek aktivitas ibadah yaitu spiritual, intelektual dan sosial. Ibadah spiritual berupa puasa, shalat, membaca Al Qur'an, dzikir, do'a, i'tikaf dan amalan hati (ikhlas, khusyu', syukur, sabar, tawakkal dan taubat). 


1. Targetkan puasa minimal level 3 yaitu tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, puasa panca indra dari dosa, juga hati dan pikiran senantiasa ingat Allah.

2. Targetkan shalat 5 waktu berjama'ah di masjid bagi laki-laki, rawatib, dhuha, tarawih, tahajjud dan sunnah lainnya sekitar 40 rakaat sehari semalam. 

3. Targetkan membaca Al Qur'an minimal 1 juz tiap hari disertai tadabur minimal 10 ayat. 

4. Rencanakan membaca dzikir setelah shalat, pagi, sore, menjelang tidur dan waktu sahur. 

5. Memperbanyak do'a khususnya antara adzan dan iqamah, setelah shalat, menjelang berbuka puasa dan waktu mendekati subuh. Juga niatkan i'tikaf tiap masuk masjid.


Ibadah intelektual: 

1. Yaitu aktivitas belajar agama dan ilmu lainnya yang bermanfaat. Ikuti kajian agama setiap hari di masjid atau internet. 

2. Baca buku atau artikel yang bermanfaat. 

3. Tafakur dan mencoba menuliskan apa yang dipelajari dan direnungi. 

4. Segera mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. 

5. Jangan lupa bagikan kepada orang lain link, channel ilmu atau apa yang telah dipelajari.


Ibadah sosial terdiri atas:

1. Bekerja amanah sesuai tupoksi.

2. Berolahraga, 

3. Bergaul, 

4. Berbakti dan berbagi. 

5. Berusaha berolahraga dan istirahat atau tidur yang cukup, tidak berlebihan. 

6. Mengurangi waktu di medsos, main games atau nongkrong yang tidak bermanfaat. 

7. Menghindari perilaku boros dan mubazzir pada makanan, air, listrik dan lainnya.


Juga menjaga pergaulan yang baik dengan bahasa sopan, lemah lembut, jujur, tidak marah, memaafkan, tidak iri dan dengki, tidak ghibah, dan tidak fitnah. Berbuat baik kepada kedua orang tua, keluarga, karib kerabat, tetangga, teman kerja, dan lainnya. Membantu pekerjaan di rumah: memasak, menyapu, mencuci dan lainnya. 


Bersungguh-sungguh menghindari dosa mata, telinga, mulut, pikiran, hati, tangan dan kaki. Berbagi harta untuk buka puasa, program dakwah, santunan dhuafa, zakat, infak dan sedekah.


Bila terasa berat; kembali lagi self motivaring: *_bahwa jatah hidup saya hanya sampai tahun ini._*


Lakukan semuanya ikhlas semata-mata untuk Allah. Bukan untuk pamer atau pencitraan. Selamat berjuang meraih Ramadhan terbaik. Jangan lupa selalu berdo'a agar Allah senantiasa memberi kekuatan, kesehatan, hidayah dan taufik. Selamat mencoba.


Semoga bermanfaat...