Just another free Blogger theme

Friday, April 11, 2025

 

(3) MARBOT ITU TERNYATA CEO


Episode, 3


Gambar hanya pelengkap

Hari Pertama Menjadi Marbot

Gadis muda berjilbab itu mendekat ke arah Ustadz Yahya. Lalu menyerahkan sebuah keresek putih berisi bungkusan nasi. 


"Ini, Ayah," ucapnya.


Ayah? Jadi itu anaknya?


Aku bisa melihatnya dari dalam sini tapi dia tak melihatku dari luar, terhalang separuh pintu dan posisiku yang tak menghadap ke arah datangnya.


Ustadz Yahya kemudian menyerahkan bungkusan itu padaku. Lalu berpamitan pergi. Setelah sekali lagi mengingatkan, untukku, mengerjakan pekerjaan di masjid besar ini. Dan aku mengangguk dengan sikap seorang marbot. 


Aku memilih duduk di depan pintu menyantap makan siang yang sangat berbeda ini. Tanpa alat makan lengkap apalagi pilihan menu-menu mewah seperti biasa. Bahkan, tanpa tidak ada walau sendok.


Aku membuka bungkusan dan menemukan nasi dengan sayuran berupa daun--entah Dau apa ini--yang direbus ditambah sambal dan telur rebus dan seiris tempe goreng serta kerupuk. Menu apa ini? Aku tidak pernah melihat menu seperti ini. Maksudku, sesederhana ini. Tapi mengapa rasanya aku sangat tertarik mencoba?


Tentu saja aku makan dengan tangan, tanpa sendok garpu seperti biasa.


Aku mengunyah. Makanan pertamaku sebagai marbot masjid. Rasanya... em, enak. Ya, sungguh ini enak. Apalagi sambalnya. Cepat sekali aku menghabiskan sebungkus nasi itu.


Selanjutnya aku segera beranjak menuju tempat diletakkannya alat-alat kebersihan yang tadi ditunjukkan Ustadz Yahya. 


Memulai pekerjaanku di tempat ini. Kumulai dengan menyapu seluruh masjid, dalam dan luar, juga di lantai dua. Ini pukul dua siang. Masjid ini cukup sepi ternyata di jam-jam begini. Atau kebetulan saja? Entahlah, aku kan nyaris tidak pernah ke masjid selama ini.


Setelah menyapu seisi masjid, aku terduduk dengan tubuh banjir keringat. Oh, Tuhan. Ternyata ini sangat melelahkan. 


Lalu melawan lelah, aku kembali bangkit, mengepel lantai seperti yang seminggu belakangan kupelajari dengan privat bersama OB pilihan Handi.


Dan tahukah, ternyata mengepel jauh lebih melelahkan. 


Hampir menyerah ketika kuingat lagi kata-kataku pada Handi, kalau aku akan menyelesaikan semua ini hingga satu bulan ke depan. Pantang bagiku melanggar apa yang pernah terucap, bahkan meski hanya terucap dari bibirku sendiri tanpa ada orang lain yang mendengar. Kata orang, aku ambisius. Hm, mungkin benar.


Aku mengelap keringat di kening dengan lengan dan melanjutkan mengepel lantai satu sampai selesai. 


Baru saja aku akan mengangkat ember berisi air kotor bekas mengepel, ketika dua anak kecil tiba-tiba masuk dari arah depan. Berlari-larian dan menendang ember berisi air kotor itu. Membuat banjir lantai yang sudah kubersihkan.


Lalu keduanya terpeleset di lantai keramik. Tak lama, muncul dua orang wanita dewasa dari luar yang langsung menyambar kedua bocah yang terbanting di atas lantai. Disusul suara pintu mobil dibanting dari arah luar dan menyusul seorang lelaki dewasa dari sana. Juga menuju pada dua bocah yang menangis kencang sekali itu. Benar-benar membuat pekak telinga. Dan melecut emosiku hingga ke ujung kepala. Bagaimana mungkin mereka membiarkan dia anak kecil itu masuk dan menendang ember pel serta mengotori lantai yang sudah kubersihkan?


Ingin kumaki detik ini juga, agar mereka menjaga anak-anak dari bertindak ceroboh seperti tadi.


Tapi belum ada satu kalimat pun keluar dari bibirku, lelaki dewasa itu menyambar bagian depan kaos yang kugunakan. 


"Hey, kalau ngepel yang benar. Sampai banjir begini, gimana anak saya nggak jatuh?! Bisa tanggungjawab kamu kalau sampai anak-anak saya geger otak?!" 


What?


"Laporin aja, Pa sama pengurus masjidnya. Jadi tukang bersih-bersih kok nggak bener banget!" Sengit wanita yang berdiri di sampingnya. Memicingkan mata penuh permusuhan ke arahku. 


Hey, nyaris aku hilang kendali. Balik membentak-bentak mereka yang tak becus menjaga anak. Dan merusuhkan pekerjaanku. Aku sudah mengepel lantai ini sejak tadi, melelahkan sekali, dan justru dikotori kembali oleh kedua bocah itu.


Atau, aku perlu mencari tahu dimana tempat kerjanya dan memberikan pelajaran pada lelaki lancang ini?


Emosiku terbakar. Nyaris saja aku melupakan statusku yang sedang menyamar ketika datang Ustadz Yahya dan dua orang lelaki muda yang segera melerai. Maksudku, menenangkan kemarahan orang-orang ini. 


"Ada apa ini?"


"Oh. Anda pengurus masjid ini?" Tanya wanita itu dengan ekspresi sombong sekali.


Ustadz Yahya mengangguk. 


"Tolong dipecat marbot ini! Kerjanya nggak becus! Masa ngepel lantai sampai banjir begini. Anak-anak saya jatuh jadinya. Keterlaluan!"


Aku meremas tangan. Seumur hidup, tidak pernah aku dihina seperti ini, sedikitpun tidak pernah. Aku selalu hidup dalam penghormatan semua orang. Untung logikaku cepat terbangun, mengingatkan, status penyamaranku sekarang. 


"Mohon bersabar, Bu, Pak. Dan tolong jangan pakai emosi. Kita bicarakan baik-baik. Ingat, ini di masjid, tempat ibadah. Tidak layak mengucapkan kata-kata yang tidak baik," ucap Ustadz Yahya dengan santun dan tegas.


Dan sukses membuat bungkam mereka. 


"Bagaimana kejadiannya? Apa betul yang disampaikan Ibu ini, Kang Fadi?" Kali ini Ustadz Yahya beralih menatapku.


Aku menarik nafas, berusaha meredakan emosi. Lalu kembali menyempurnakan peranku. 


"Tidak benar, Ustadz. Tadi saya baru selesai mengepel, lalu dua anak ini masuk, berlari-lari dan menabrak ember bekas pel saya dan terjatuh. Seharusnya saya yang marah," ucapku dengan nada dan logat seorang Kang Fadi, kasta marbot masjid. 


"Apa?! Heh kamu! Marbot belagu! Berani kamu mau marahi kami?! Nggak tahu lagi ngomong sama siapa?!"


"Jangan pakek alasan malah nyalahin anak saya kamu!"


Lagi-lagi aku dibenatak. Oleh pria dan dan wanita dewasa itu. Maka nyaris kulayangkan tinju. Urgh! Rasanya tidak tahan lagi. Dihina seperti ini. 


Untung Ustadz Yahya cepat mengambil tindakan dan meminta orang-orang tak tahu diri itu keluar. 


"Kok malah kami yang diusir sih, Ustadz? Kami cuma mau numpang ngadem di sini. Dari perjalanan jauh." Protes wanita itu lagi.


"Maaf, Bu, Pak. Kami tidak berniat mengusir. Dan tidak ada hak mengusir. Ini rumah ibadah, terbuka untuk semua orang. Tapi jika Bapak Ibu membuat keributan, maka kewajiban kami mengamankan. Jadi mohon tenang. Tadi Kang Fadi sudah menjelaskan. Atau ditanya ke anak-anak ibu sendiri. Bagaimana, Nak? Benar kalian yang menumpahkan air di ember pel tadi?"


Dan kedua anak yang masih menangis itu saling melirik, lalu mengangguk.


Huh. 


Tapi tetap saja, orangtuanya tak mau percaya. Atau sebab terlanjur malu. Lalu mereka malah pergi. Sembari mencebik ke arahku.


"Dasar marbot tompelan! Jelek aja belagu!"


Waw, aku dihina? Seorang Tuan Alfadi Edibagaskara? 


Oke, well. Ini pengalaman dan hari pertamaku menjadi marbot masjid.


Di satu sisi, ada emosi yang tersulut tentu saja. Tapi di sisi lainnya, apa mestinya aku puas sebab penyamaran ku nyaris sempurna dan membuat orang-orang percaya? Apalagi tompel-tompel ini.


"Maaf, kadang ada orang yang datang atau bahkan jamaah yang seperti itu memang. Silakan diteruskan ya, Kang," ucap Ustadz Yahya sambil memberikan kode tangan yang ditangkupkan di depan dada.


Mengulang ngepel lagi? Yang benar saja. Ya Tuhan.


Ini sangat menyebalkan. Apa begini melelahkan kehidupan tanpa kekuasaan dan uang? Apa aku perlu bertahan di sini? 


Sepertinya keputusan ini harus kufikirkan ulang. Meski aku tak pernah menjilat ludah sendiri. Namun kali ini, aku seperti ragu sekali. Demi merasakan rasa lelah di sekujur tubuh ini. Belum lagi harus menyentuh kain pel yang menjijikan ini setiap hari. Mungkin aku memang sudah mengambil keputusan gila seminggu yang lalu.


Lalu saat aku berpaling ke arah pintu, niatku urung seketika. Saat melihat kehadiran seseorang di sana. Dari arah pintu yang terbuka.


---


Bersambung

Monday, April 7, 2025

 

MARBOT ITU TERNYATA CEO

Episode 2

Penulis: hamba alloh

Gambar hanya pelengkap saja lur

*Jenuh Jadi Orang Kaya*


(Dalam sederhana, kutemukan bahagia sebenarnya) 


Pernahkah kalian merasakan berada di titik terjenuh kehidupan? Ketika semua yang sangat biasa menjadi seakan hilang rasa?


Aku, sungguh jenuh. Dengan semua ini. Kehidupan yang terlalu monoton dan keberuntungan yang terus berpihak.


Aku bosan melihat uang dan menikmati kekayaan. Ah, tidak, bukan hanya bosan. Aku sungguh jenuh. Parahnya, beberapa waktu belakangan, aku sungguh merasakan sakit kepala tak tertahankan hingga mual dan muntah tiap melihat tumpukan uang dan perhiasan. Semua yang mengelilingiku sejak dalam kandungan.


Yes, aku dilahirkan dari keluarga konglomerat, kaya raya tujuh turunan. Kehidupan yang terlalu berkecukupan dan digelimangi kemewahan.


Aku jenuh. Dan ingin segera pergi jauh. Atau menjalani kehidupan lain yang bisa membuatku sembuh, dari mual melihat uang. 


Dokter keluarga kudatangkan untuk mengobatiku. Tapi semua mengangkat tangan. Bingung dengan penyakitku atau sengaja menutupi?


"Em, tidak ada penyakit medis yang serius. Saya rasa semua normal. Sepertinya anda hanya terlalu banyak fikiran dan stress menghadapi pekerjaan, tuan muda," jelas dokter terakhir yang memeriksaku. "Mungkin anda bisa mengagendakan untuk refreshing, berlibur ke luar negeri, menikmati suasana pantai atau...." Dokter wanita yang kutaksir berusia empat puluhan dan menjadi dokter pribadi Mamiku itu menggantung kalimatnya. 


"Atau apa?" Aku memicingkan mata yang terasa kian berat. Sembari memijat tengkuk yang terasa sakit. 


"Atau Anda membutuhkan suasana baru," sambungnya. Terdengar hati-hati. 


Aku masih memicingkan mata.


"Yah, dalam beberapa kasus... em, menikah bisa menjadi salah satu solusi." Ia mengangkat bahu dengan sungkan melihat ke arahku. Setelah melirik kepada Mami.


Baik, aku tahu ada 'persekongkolan' di sini. Antara dokter itu dengan Mami. Yeah.


Ini memuakkan. Entah bagaimana Mami dan Papi bisa bertahan hidup dalam kehidupan menjemukan ini hingga setengah abad. Lalu memaksaku untuk juga bertahan. Ouh. Huft. Aku tidak bisa.


Dan tidak ada satupun yang percaya, aku jemu, jenuh, justru dengan kekayaan ini. Bukan karena stress biasa.


Dan apa yang dikatakan oleh dokter yang aku yakin sudah disetting oleh Mami tadi? Solusinya dengan menikah? Tidak masuk akal bukan? Solusi menghilangkan kejenuhan dan stress dengan menikah? Aku tidak sebodoh dan sepolos itu. Aku sangat mengerti, menikah hanya akan meningkatkan kadar stress lebih besar. Sudah banyak buktinya.


Ini sungguh, hanya akal-akalan Mami agar aku mau dijodohkan, dengan juga putri-putri bangsawan, yang sekasta dan setara dengan keluarga ini. Lagi-lagi, untuk kian menumpuk pundi harta. 


Aku semakin mual membayangkannya.


"Hoek!" Ups. Aku muntah. Yah, tak bisa lagi kutahan. 


Aku sungguh jenuh. Kenapa tidak ada yang mau mengerti?


Dokter itu, aku yakin ia tahu apa yang kualami, hanya saja uang Mami pasti membuatnya bungkam untuk mengungkapkan. Huh. Lagi-lagi karena uang. Membuatku kembali mual.


---


"Stress anda sudah sampai di titik cukup parah sepertinya, Tuan." Handi, asisten pribadiku menatapku khawatir. Menyodorkan sebotol minyak kayu putih ke atas meja kerjaku. 


Aku memijit pelipis. Lalu menutup kasar sekoper uang yang baru dibawa oleh klienku, beberapa menit lalu.


"Ya."


"Apa anda tidak ingin berobat dulu?" Handi kembali menawarkan.


Aku hanya mengangkat bahu. Berobat? Percuma saja berobat jika dokter-dokter keluarga itu nyatanya berada di bawah persekongkolan dengan Mami dan Papi. Malah memberikan solusi tak masuk akal. Refreshing ke luar negeri atau yang lebih gila, menikah--dengan putri bangsawan yang mereka tawarkan. Sungguh tidak ada pengertian akan kejenuhanku ini.


"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Handi belum beranjak dari ruanganku. Bertanya serius. 


Tidak biasanya dia banyak bertanya seperti ini. Yah, mungkin kondisiku sudah terlihat sangat memprihatikan sekarang. Hingga memancingnya untuk lebih berani menelisik hidupku lebih dalam.


Handi, ya, dia adalah orang kepercayaanku. Mungkinkah dia bisa membantuku?


"Maksud saya, em... stress apa sebenarnya yang Tuan alami? Pekerjaan? Saya rasa semua proyek berjalan sangat lancar. Tender-tender perusahaan terus mengalami kenaikan--"


"Ya, itu! Itu sebabnya!"


Handi terdiam. Seperti berusaha keras mencerna maksudku. 


"Maaf, saya tidak mengerti, Tuan," ucapnya sambil menunduk hormat. 


Aku kembali membuka koper berisi penuh uang ratusan ribu. Lalu mendorongnya keras dari atas meja hingga tumpukan uang bernilai total satu milyar itu berhamburan di lantai. 


"Aku muak melihat uang! Aku jenuh dengan semua kekayaan ini! Kau mengerti?!" Aku memejamkan mata sambil menghempaskan kepala ke sandaran kursi kebesaran.


Handi terdiam beberapa saat. Lalu kudengar kemudian ia kembali membuka suara.


"Ya. Saya mengerti, Tuan. Kalau begitu, ijinkan Saya memberikan solusi."


Aku membuka mata. Tajam menatapnya. 


"Apa?" Antara ragu dan terpancing ingin tahu.


"Anda butuh mencoba hidup yang baru, Tuan."


Entah kenapa, yang kembali terlintas di kepalaku atas kalimat ambigu Handi adalah hal yang sama dengan sesuatu yang terus disodorkan Mami, menikah. 


Ternyata Handi sama saja. 


"Orangtua saya kebetulan donatur bagi pembangunan sebuah masjid, Tuan. Jadi sedikit banyak mengetahui soal perkembangan tempat ibadah itu." Ia berucap tenang. Tapi seakan penuh keyakinan. 


Aku belum mengerti, apa maksudnya?


"Jika Anda mau, saya bisa merekomendasikan Tuan untuk menjadi marbot masjid itu selama bulan Ramadhan yang sebentar lagi tiba, Tuan," ucapnya hati-hati.


Aku tersentak.


"Apa?!"


"Ya. Saya rasa Anda butuh suasana dan pengalaman hidup yang tak biasa. Keluar dari semua zona ini. Merasakan nasib hidup dalam kasta manusia awam. Anda bisa tinggal di masjid itu pada sepetak kamar sederhana yang disediakan. Melakukan pekerjaan kasar dengan bayaran seikhlasnya dan hidup dalam kesederhanaan. Jika Anda memang benar-benar jenuh dengan kehidupan Anda sendiri." Handi memberanikan diri menatapku sekilas, lalu menunduk tak lama kemudian. "Em, saya mohon maaf jika saran ini terdengar lancang, Tuan," sambungnya.


Bekerja kasar dengan bayaran seikhlasnya dan tinggal di sepetak kamar sederhana?


Aku belum menjawab apapun tapi bisa kurasakan suatu kehangatan yang menenangkan mulai menjalari tengkuk hingga kepala dan dada. Ah, apa ini? Aku merasa hembusan ketenangan seperti tertiup ke dalam diri ini begitu saja, hanya demi mendengar gambaran kehidupan yang disebutkan Handi tadi.


"Ah, ya. Maaf jika saya sangat lancang, Tuan. Mungkin saya terlalu banyak berimajinasi." Ia tersenyum sungkan demi mendapatimu yang hanya terdiam. "Jika Anda ingin berlibur, saya akan segera siapkan tiket, hotel, serta keperluan liburan Anda dan--"


"Oh tidak. Aku menerima tawaran pertamamu," potongku cepat. 


Ia melebarkan mata, memastikan kesungguhan perkataanku. 


"Aku ingin menjadi marbot masjid seperti yang kau tawarkan. Mengerti?"


"Oh, ya. Baik, Tuan."


"Bagus. Urus semuanya. Jangan lupa, rahasiakan semua identitasku, di sana. Dan handle perusahaan selama aku pergi mengasingkan diri. Rahasiakan hal ini dari siapapun. Termasuk keluargaku." Aku mengetuk ujung meja. 


"Baik, Tuan." Handi mengangguk faham. Dengan raut teramat lega. 


Aku menunjuk ke arah pintu, suatu kode, bahwa aku sudah selesai bicara dengannya. 


Sekali lagi ia mengangguk hormat, lalu meninggalkan ruanganku. Dengan membawa senyuman yang tak biasa.


Sementara di meja ini, aku mengambil kalender lipat di atas meja. Selama bulan Ramadhan tahun ini? Itu artinya, satu minggu lagi. 


Baiklah. Aku akan menjalani kehidupan baru. Ini menantang dan menyembuhkan mual serta sakit kepalaku, bahkan hanya dengan membayangkannya. Semoga saja kenyataan sebaik bayanganku ini juga. 


Ya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Aku hanya sedang berupaya keluar dari titik jenuh ini. 


---


Bersambung

Friday, April 4, 2025

 MARBOT ITU TERNYATA CEO

Cerpen pagi episode 2

Marbot Bertompel

Handi mempersiapkan segala rencana dengan baik. Dia memang selalu bisa diandalkan. Bahkan dia juga menyediakan waktu untuk aku mempersiapkan diri, bekal menghadapi pekerjaan baruku, menyediakan kelas privat menyapu, mengepel, mengelap kaca, dan berbagai hal terkait lainnya. Yah, aku tidak mungkin bisa mengerjakan semua itu tanpa diajari seperti ini. 


Kufikir pekerjaan kasar seperti ini mudah saja dikerjakan, tapi ternyata juga membutuhkan keterampilan. Ya ini sulit.


"Pengurus masjid tidak ada yang tahu tentang identitas Anda, Tuan Alfa. Seperti permintaan Anda, Saya merahasiakan semuanya. Jadi semua ini memang harus Anda kuasai." Handi menunduk hormat demi melihatku yang sepertinya nyaris menyerah mempelajari teknik melakukan semua ini.


Yah, dia benar. Bahkan bukan tidak mungkin aku akan mendapatkan sangsi di tempat kerja baruku nanti jika tak becus bekerja. 


Em, hey, seorang Alfadi Edibagaskara, CEO muda yang kaya raya sejak dalam kandungan ini sedang berupaya menjadi seorang marbot masjid? Apa aku gila?


Yeah, justru aku sedang berupaya keluar dari titik jenuh agar tidak gila. 


Dan tentu saja, privat itu kulakukan diam-diam, di sebuah ruangan tertutup yang memang sudah disiapkan Handi.


Hari ini, bersama Handi aku sudah tiba di masjid dan kota tujuan. 


"Jadi Akang ingin menjadi marbot di masjid ini selama Ramadhan?" Tanya pria yang dikenalkan padaku sebagai ketua pengurus Masjid Almira Tiga ini, Ustadz Yahya. 


Em, Masjid Almira Tiga? Kenapa ada 'tiga' nya? Entahlah. Mungkin nanti aku akan mendapatkan jawabannya seiring waktu.


Ustadz Yahya nampak mengamati penampilanku. Baiklah, semoga penampilanku ini cukup meyakinkan. Kaos oblong tanpa merk, celana kain yang juga tak bermerk, ditambah kopiah rajut yang miring, menempel di kepala, menutupi sebagian rambutku yang legam dan sengaja kubuat sedikit acak-acakan. Serta tak ketinggalan, sandal jepit all size, meski terasa pas-pasan saja di kakiku.


Lagi-lagi Handi yang membantuku mempersiapkan semua ini.


Aku menurunkan bahu yang terbiasa ditegakkan ini, serta menundukkan pandangan yang selalu lurus ke depan atau dengan dagu yang sedikit terangkat. Kali ini, aku berupaya untuk menundukkan kepala. Agar semakin sempurna dan rencanaku bisa berjalan seperti harapan semula.


"Benar, Ustadz," jawabku. Setelah terbatuk sedikit dan mengatur suara, demi mengeluarkan nada bicara penuh harapan, bukan cara menjawab penuh bentakan seperti yang selama ini selalu kulakukan.


Ustadz berwajah teduh itu manggut-manggut. Tersenyum ke arahku. Sangat nampak, ia terbiasa menghormati orang lain tanpa memandang kasta dan sebagainya.


"Sudah pernah jadi marbot masjid sebelumnya? Maksud saya, bisa ngepel, bersih-bersih begitu?"


Kali ini pertanyaannya terlihat ragu. 


Kenapa bertanya begitu? Apa sikap dan penampilanku ini masih meragukan? Uh, kacau. Sebenarnya aku belum terlalu lihai melakukan pekerjaan itu, meski sudah menjalani privat menyapu dan mengepel dengan OB perusahaan kepercayaanku untuk mengajari melakukan hal-hal itu. 


Yah, bukan salah OB itu sepenuhnya, mungkin, sebab tak maksimal mengajarkan. Lebih banyak gugup dan ketakutan tiap kali aku bertanya pendapatnya tentang caraku melakukan hal-hal itu. Dia selalu menjawab, "Iy-iya, benar, Tuan."


Selalu benar, jawabannya. Aku tahu, dia tak pernah berani menyalahkanku, meski itu dalam rangka 'belajar', yang sedang kulakukan. 


"Bisa," jawabku singkat. Belum mengangkat pandangan.


"Baik, saya percaya. Maaf, Kang. Hanya memastikan." Ia tiba-tiba sudah menepuk bahuku akrab. 


"Sebenarnya, pas sekali memang sebab Mang Bilal, marbot masjid ini sedang ijin pulang kampung, selama Ramadhan ini. Jadi memang sedang kosong," jelasnya dengan senyum renyah. 


Ya, tentu saja marbot lama itu sudah pergi, Handi juga sudah mengatur kepergiannya, agar aku bisa menggantikan posisinya, di sini. Ini semua bagian dari rencana.


"Nanti insya Allah selalu ada jatah sahur dan berbuka puasa. Tenang saja, insya Allah untuk makan dijamin," ucap pria paruh baya itu sambil mengangguk ke arahku. 


Aku ikut mengangguk.


"Di sini tempat penyimpanan alat-alat kebersihan untuk membersihkan masjid ya, Kang. Sapu, alat pel, ember, dan lain-lain. Tugas Kang Fadi jadi memastikan Masjid Almira Tiga ini selalu dalam keadaan bersih dan rapi ya. Selain itu juga mengecek speaker masjid, microfon, juga memutar murottal di waktu-waktu jelang sholat." Ustadz Yahya menjelaskan tugas-tugas yang mesti kukerjakan mulai hari ini juga. 


Yeah, selamat datang kehidupan baru. 


Handi pamit tak lama setelah aku diantar ke dalam sepetak kamar sederhana yang berdempetan dengan masjid ini. 


"Jika Anda butuh bantuan atau tidak tahan di sini, segera telepon saya, Tuan," bisiknya.


"Tidak. Aku akan bisa menyelesaikan semuanya dengan baik," sahutku sambil memindai sekeliling kamar yang akan kutempati satu bulan ke depan. 


Ini ruangan yang... sangat sempit. Bahkan lebih sempit dari ukuran toilet atau kamar mandi kamarku. 


Handi pergi. Dan tertinggal aku sendiri di kamar ini. Melepaskan masker wajah yang sedari awal kedatangan terus kukenakan. Lalu bercermin, menatap dua tompel besar tempelan di kedua pipiku serta satu tompel lebih kecil di daerah dagu. Tentu saja ini tompel mahal yang terlihat sangat natural, seperti asli, memenuhi kedua pipiku. Hey, penyamaran macam apa ini? 


Aku mengangkat bahuku sendiri. Anggaplah aku hanya sedang berjaga-jaga dalam penyamaran. Sebab bukan tidak mungkin, ada jamaah yang tak sengaja datang ke masjid ini lalu mengenaliku. Aku harus maksimal menyamarkan diri. 


Ya, aku harus terlihat sangat berbeda. Aku sekarang sedang menjadi Kang Fadi--si marbot masjid, bukan Tuan Alfa--sang CEO ternama. 


Aku kembali berkaca. Melihat wajah tampanku yang terlihat sangat berbeda dengan tompel-tompel dan belahan rambut culun seperti ini. Nampak... mengenaskan. 


Belum selesai aku menertawakan rupaku sekarang, pintu kamar diketuk. Aku segera beranjak, membuka pintu.


Ustadz Yahya lagi yang datang. Dan cukup terkejut melihat rupaku tanpa masker wajah seperti tadi. Dengan tompel-tompel yang memenuhi wajahku ini. Ya, pasti terlihat sangat nyata. 


Namun cepat ia mengurai ekspresi keterkejutannya dengan mengucapkan salam.


"Kang, bisa membersihkan masjid mulai hari ini ya? Sore juga tidak apa-apa. Kalau masih mau istirahat, silakan istirahat dulu. Soalnya malam insya Allah sudah dipakai tarawih. Saya mau pamit pulang dulu," ucapnya tenang. 


"Baik, sebentar lagi saya bersih-bersih," jawabku. Berusaha agar terdengar sealami mungkin.


"Oh ya, sebentar. Ananda, sini. Mana makan siang untuk Kang Fadi tadi?" Ustadz Yahya berpaling, memanggil seseorang. 


Ananda?


Lalu mendekat seorang gadis berjilbab coklat, menyerahkan sebungkus makanan pada Ustadz Yahya. 


"Ini, Ayah."


Seorang gadis muda.


----


Bersambung

 TIRA MISU







Tidak ada yang menjamin tahun depan dapat bertemu kembali bulan mulia ramadhan seperti saat ini.


Atau...


Belum tentu juga usia bisa rampung hingga ramadhan berakhir.


Apa yang akan dilakukan, bila usia kita tinggal dua belas hari lagi karena suatu penyakit?


Jadi sebaiknya setiap muslim harus menjadikan ramadhan kali ini adalah yang terakhir bagi dirinya.


Apakah cukup dengan tekad saja?


Harus dihadirkan 8 syarat, meminjam istilah sahabat saya, Syamril (Rektor Iinstitut Teknologi dan Bisnis Kalla dan direktur PT. Bina Talenta Unggul). 


Untuk mudahnya syarat tersebut disingkat TIRA (tekad, ilmu, rencana, aksi). Agar lebih maksimal perlu ditambah MISU, yaitu monitoring, improve, sabar, dan syukur.


Ada 3 aspek aktivitas ibadah yaitu spiritual, intelektual dan sosial. Ibadah spiritual berupa puasa, shalat, membaca Al Qur'an, dzikir, do'a, i'tikaf dan amalan hati (ikhlas, khusyu', syukur, sabar, tawakkal dan taubat). 


1. Targetkan puasa minimal level 3 yaitu tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, puasa panca indra dari dosa, juga hati dan pikiran senantiasa ingat Allah.

2. Targetkan shalat 5 waktu berjama'ah di masjid bagi laki-laki, rawatib, dhuha, tarawih, tahajjud dan sunnah lainnya sekitar 40 rakaat sehari semalam. 

3. Targetkan membaca Al Qur'an minimal 1 juz tiap hari disertai tadabur minimal 10 ayat. 

4. Rencanakan membaca dzikir setelah shalat, pagi, sore, menjelang tidur dan waktu sahur. 

5. Memperbanyak do'a khususnya antara adzan dan iqamah, setelah shalat, menjelang berbuka puasa dan waktu mendekati subuh. Juga niatkan i'tikaf tiap masuk masjid.


Ibadah intelektual: 

1. Yaitu aktivitas belajar agama dan ilmu lainnya yang bermanfaat. Ikuti kajian agama setiap hari di masjid atau internet. 

2. Baca buku atau artikel yang bermanfaat. 

3. Tafakur dan mencoba menuliskan apa yang dipelajari dan direnungi. 

4. Segera mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. 

5. Jangan lupa bagikan kepada orang lain link, channel ilmu atau apa yang telah dipelajari.


Ibadah sosial terdiri atas:

1. Bekerja amanah sesuai tupoksi.

2. Berolahraga, 

3. Bergaul, 

4. Berbakti dan berbagi. 

5. Berusaha berolahraga dan istirahat atau tidur yang cukup, tidak berlebihan. 

6. Mengurangi waktu di medsos, main games atau nongkrong yang tidak bermanfaat. 

7. Menghindari perilaku boros dan mubazzir pada makanan, air, listrik dan lainnya.


Juga menjaga pergaulan yang baik dengan bahasa sopan, lemah lembut, jujur, tidak marah, memaafkan, tidak iri dan dengki, tidak ghibah, dan tidak fitnah. Berbuat baik kepada kedua orang tua, keluarga, karib kerabat, tetangga, teman kerja, dan lainnya. Membantu pekerjaan di rumah: memasak, menyapu, mencuci dan lainnya. 


Bersungguh-sungguh menghindari dosa mata, telinga, mulut, pikiran, hati, tangan dan kaki. Berbagi harta untuk buka puasa, program dakwah, santunan dhuafa, zakat, infak dan sedekah.


Bila terasa berat; kembali lagi self motivaring: *_bahwa jatah hidup saya hanya sampai tahun ini._*


Lakukan semuanya ikhlas semata-mata untuk Allah. Bukan untuk pamer atau pencitraan. Selamat berjuang meraih Ramadhan terbaik. Jangan lupa selalu berdo'a agar Allah senantiasa memberi kekuatan, kesehatan, hidayah dan taufik. Selamat mencoba.


Semoga bermanfaat...

Sunday, March 23, 2025

 


Syarat atau persyaratan untuk mengikuti bursa kerja biasanya bervariasi tergantung pada jenis pekerjaan dan penyelenggara bursa kerja. Namun, ada beberapa syarat umum yang sering diterapkan dalam bursa kerja:








  1. Usia: Biasanya, peserta harus berada dalam rentang usia tertentu, misalnya antara 18 hingga 35 tahun, tergantung pada posisi yang dilamar.

  2. Pendidikan: Sering kali, bursa kerja mengharuskan pelamar memiliki pendidikan minimal tertentu, seperti lulusan SMA, D3, S1, atau bahkan S2, tergantung pada posisi pekerjaan.

  3. Pengalaman Kerja: Beberapa pekerjaan mungkin membutuhkan pengalaman kerja sebelumnya, sementara yang lain mungkin menerima lulusan baru tanpa pengalaman kerja.

  4. Kemampuan Khusus: Pekerjaan tertentu mungkin membutuhkan keterampilan khusus, seperti kemampuan bahasa asing, kemampuan komputer (misalnya Microsoft Office atau software tertentu), atau keterampilan teknis lainnya.

  5. Dokumen yang Diperlukan: Pelamar biasanya diminta untuk membawa atau mengunggah dokumen-dokumen penting, seperti:

    • CV (Curriculum Vitae) atau resume
    • Fotokopi ijazah dan transkrip nilai
    • KTP atau identitas lainnya
    • Pas foto terbaru
    • Surat lamaran kerja
  6. Tata Tertib dan Ketentuan: Beberapa bursa kerja mungkin memiliki aturan tertentu, seperti kewajiban untuk mendaftar sebelumnya atau mengikuti proses seleksi yang sudah ditentukan oleh penyelenggara.

  7. Kondisi Kesehatan: Beberapa perusahaan atau bursa kerja juga meminta pelamar untuk menunjukkan kondisi kesehatan yang baik atau memenuhi syarat fisik tertentu, terutama untuk pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik.

Jika Anda merujuk pada jenis bursa kerja tertentu, seperti yang diselenggarakan oleh pemerintah atau lembaga pendidikan, syarat-syaratnya bisa lebih spesifik.

 

Kebersihan lingkungan sekolah memiliki banyak manfaat, di antaranya:











  1. Meningkatkan Kesehatan: Lingkungan yang bersih mengurangi risiko penyebaran penyakit karena kuman dan bakteri dapat berkembang biak di tempat yang kotor. Dengan menjaga kebersihan, siswa dan guru dapat terhindar dari berbagai penyakit.

  2. Meningkatkan Fokus dan Produktivitas: Sekolah yang bersih dan rapi akan menciptakan suasana yang nyaman. Hal ini membuat siswa lebih fokus dalam belajar dan guru dapat mengajar dengan lebih efektif.

  3. Menciptakan Lingkungan yang Nyaman dan Aman: Lingkungan yang bersih dan terorganisir akan memberikan rasa aman bagi siswa. Mereka tidak akan terganggu oleh sampah atau potensi bahaya lain yang dapat terjadi di lingkungan yang kotor.

  4. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab: Dengan terlibat langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan, siswa dapat belajar untuk bertanggung jawab atas lingkungan mereka dan menjadi pribadi yang peduli terhadap kebersihan.

  5. Meningkatkan Citra Sekolah: Sekolah yang bersih dan terawat memberikan citra yang baik kepada orang tua dan masyarakat. Ini juga bisa menarik perhatian calon siswa yang ingin bersekolah di lingkungan yang nyaman dan sehat.

  6. Mendukung Kegiatan Belajar yang Efektif: Kebersihan lingkungan mendukung proses belajar mengajar yang lebih baik karena lingkungan yang bersih dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi kegiatan akademik.

Secara keseluruhan, menjaga kebersihan lingkungan sekolah bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga mendukung perkembangan mental dan sosial siswa.

 


Pemilihan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) umumnya dilakukan di tingkat sekolah dengan tujuan memilih pemimpin yang akan memimpin organisasi siswa selama satu tahun. Berikut adalah tahapan umum dalam pemilihan OSIS:











  1. Pendaftaran Calon
    Siswa yang berminat menjadi calon anggota OSIS atau calon ketua/wakil ketua OSIS mendaftar terlebih dahulu. Biasanya ada syarat khusus yang harus dipenuhi, seperti nilai akademik yang baik, berorganisasi, atau memiliki kemampuan kepemimpinan.

  2. Sosialisasi dan Kampanye
    Calon ketua/wakil ketua OSIS akan melakukan kampanye di depan siswa, menyampaikan visi, misi, dan program kerja mereka jika terpilih. Biasanya, kampanye dilakukan dengan presentasi atau pembuatan poster.

  3. Debat atau Dialog
    Terkadang, ada sesi debat atau tanya jawab antar calon ketua dan wakil ketua OSIS. Ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kemampuan berbicara, berpikir kritis, dan bagaimana calon bisa menjawab pertanyaan dari siswa.

  4. Pemungutan Suara
    Setelah kampanye dan debat, pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara. Biasanya, pemilih adalah seluruh siswa di sekolah, dan mereka memilih calon yang mereka anggap layak untuk memimpin OSIS.

  5. Penghitungan Suara
    Setelah pemungutan suara selesai, hasilnya dihitung oleh panitia pemilihan. Biasanya, proses ini dilakukan secara transparan dan diawasi oleh pihak sekolah untuk menghindari kecurangan.

  6. Pengumuman Hasil Pemilihan
    Setelah penghitungan suara selesai, hasil pemilihan diumumkan. Calon yang memperoleh suara terbanyak akan terpilih sebagai ketua OSIS, dan calon yang memperoleh suara terbanyak kedua terpilih sebagai wakil ketua OSIS.

  7. Pelantikan
    Setelah terpilih, calon ketua dan wakil ketua OSIS akan dilantik secara resmi oleh pihak sekolah. Mereka kemudian akan memimpin organisasi OSIS dan melaksanakan berbagai kegiatan yang telah direncanakan.

Setiap sekolah bisa memiliki prosedur yang sedikit berbeda, tergantung pada kebijakan dan peraturan yang ada di sekolah tersebut.