Just another free Blogger theme

Wednesday, June 4, 2025

 (18) MARBOT ITU TERNYATA CEO

Penulis: Leaa













Pengakuan

Aku baru menikmati makan berat setelah tuntas tarawih dan membereskan masjid. Saat berbuka, hanya makan kue saja. Tentu saja kue olahan Adinda.


Istriku itu, pandai sekali memasaknya. Padahal otodidak dan ilmunya diperoleh dari membantu-bantu di tempat katering saat putus sekolah dulu. Kemudian dia modifikasi sendiri. Dia sebenernya memang pintar. Hanya takdir yang tak memihaknya.


Aku bahkan tidak memakan nasi kotak dari masjid, Aku memberikannya kepada jamaah lain. Aku tidak ingin mengisi perutku terlebih dahulu, karena aku ingin menyantap makan malam spesial yang dibuat oleh Adinda. Meski hanya disajikan dengan tempe atau tahu atau ikan asin, rasanya sangat istimewa bagi saya. Dan rasanya jelas berbeda.


Sekarang akulah yang selalu buru-buru. Setelah mengunci pintu masjid. Segera melangkah pulang. Ya, pulang. Di tempat ia sudah menunggu.


Lantas aku segera menyantap makanan berdua dengannya. Diselimuti aura hangat yang membuatku selalu betah duduk berhadapan dengannya.


Dulu aku sering berkhayal bagaimana kehidupan orang-orang dari kasta biasa. Sebab garis keturunanku sudah kaya raya sejak bergenerasi sebelum aku ada. Membayangkan bagaiaman rasanya menjadi orang miskin. Apakah sangat menyedihkan? Atau justru sebaliknya?


Sementara aku merasa jenuh dengan kehidupan kaya rayaku.


Ternyata indah sekali. Dalam sederhana, kutemukan bahagia sebenarnya. Bersama Adinda. Dalam artian cukup sebenarnya. Tidak berlebihan dan ini menenangkan.


Aku bahagia saat bisa menyantap makanan sederhana dengannya. Semua keterbatasan yang juga serba apa adanya. Jauh dari kata mewah. Benar, aku sangat betah dalam kehidupan seperti ini.


"Mau nambah, Kang?" Adinda melihat pada piringku yang sudah kosong.


Aku mengangguk. Lalu ia mengautkan nasi ke piringku. Menambah ketiga kalinya. Makan dengan tangan tanpa sendok garpu. Sama seperti dirinya. Meski kaku sekali di awal, tapi aku akhirnya bisa dengan cepat menguasai teknik makan langsung dengan tangan seperti ini. Ternyata lebih nikmat sekali.


Menu-menu sederhana yang diolahnya, terasa menarik semua di lidahku. Tempe penyet sambal terasi, ikan kering, sayur bening, lalapan, dan lain-lain. Nyaris tidak pernah kumakan menu-menu itu di kehidupan asliku sebelum ini. Biasanya, menu harianku selalu paduan makanan luar negeri. Menjemukan sekali.


Kuberikan pada Adinda uang yang cukup. Ya, dari bayaranku sebagai marbot masjid dan tambahan dari uang pribadiku. Tentu saja dalam jumlah sewajarnya agar ia tidak curiga, walau sebenarnya ingin sekali kuberi banyak agar dia bisa membeli apa saja.


Dia tak pernah terlihat memegang handphone. Ternyata, sebab ia memang tidak memilikinya. Sulit kubayangkan di jaman sekarang, seorang gadis muda tak memiliki handphone android. Ternyata ada. Dia, Adinda.


Tidak kelihatan memalukan. Justru begitu terlihat berbeda. Mengesankan sekali.


Aku juga tentu saja menyembunyikan kepemilikan handphoneku. Baru kuaktifkan saat ia sudah benar- benar tertidur. Masih mengontrol laporan perusahaan yang dikirimkan Handi setiap hari.


Di era semodern ini, menjadi pasangan yang sama- sama tidak disibukkan dengan hanphone pribadi, ternyata istimewa sekali. Setiap detik kebersamaan yang sangat berarti dan semakin bisa dinikmati.


Ya, sungguh aku bisa berfokus pada Adinda dan sebaliknya. Dia mengambil alih semua fokusku.


"Aw!" Ia meringis. Mengibaskan jarinya yang terluka, tertusuk jarum sepertinya. Dia sedang menjahit bagian sobek di mukenanya.


Aku menoleh dan segera menghampiri. Menarik tangannya lalu refleks menghisap telunjuknya yang terluka, agar darahnya berhenti keluar.


Meliriknya, dengan masih menahan tangannya. Dan ia melakukan hal yang sama. Lalu kembali kulihat semburat merona di pipi polosnya. Mungkin di wajahku juga, hanya saja tertutupi dengan dua tompel besar di pipiku ini.


Aku suka sekali melihatnya begitu. Menghangatkan pipi dan hati.


"Em... hati-hati," ucapku memperingatkan sesaat setelah ia menarik tangannya.


Dia mengangguk, lalu menunduk. Kembali menjahit mukenanya.


Mukena yang nampak lusuh. Sobek di beberapa bagian dan ia menjahitnya dengan rapi.


Bukan hanya mukena, pakaian-pakaiannya pun banyak yang sobek ternyata. Semua terlihat lama. Bahkan sepertinya, ia nyaris tak pernah memiliki pakaian baru.


Aku merasakan tenggorokan yang tercekat. Menyadari kesederhanaan di bawah rata-rata yang dijalaninya. Dengan tenang hati dan sikap cukup diiringi syukurnya. Selalu. Sementara aku, malah mengeluhkan kekayaan yang Allah berikan.


Adinda. Melihatnya aku selalu tidak tega. Dia terlalu tegar sekali.


Jangankan berlebihan, cukup pun baginya penuh perjuangan.


Tak satupun perhiasan ia kenakan. Anting-anting, kalung, cincin, gelang. Padahal selama ini kukira, wanita selalu identik dengan perhiasan.


Aku... aku akan memberikan semuanya, Adinda. Semua keinginanmu yang tertunda oleh keadaan. Asal kamu mau percaya, padaku. Mataku tiba-tiba panas lagi. Dan aku mengedip beberapa kali saat ia selesai menjahit sobek di mukena lusuhnya, lalu membaca Al Qur'an. Dengan lancar dan tenang. Damai banget lihatnya.


Aku mendengarkan sambil bersandar di kaki tempat tidur. Hingga aku tertidur beberapa saat.


"Kang, pindah ke ranjang. Nanti lehernya sakit kalau tidur di sini."


Aku mengerjap lalu mengikutinya tidur di atas ranjang. Menutup mata dengan lengan. Tidak meneruskan tidur. Aku hanya berpura-pura tidur sampai dia benar-benar terlelap. Kemudian bangun lagi. Ingin mengecek laporan perusahaan yang dikirim Handi via email seperti biasa.


Tapi belum saja aku bangkit, ia berbalik dan lenganku ditahan olehnya, dalam keadaan dia tidak sadar. Dikira guling ini lengan.


Aku refleks terbaring lagi. Langsung tepat menghadap pada wajahnya yang terlelap, matanya yang terpejam.


Bibirku tersenyum. Mengamatinya. Wajah polos ini.


"Ayah...." Dia terdiam.


Masih rindu ayahnya. Pasti. Dia sangat mencintai Pak Adi.


"Ibu mana?" Tanyanya. Berbisik.


Aku masih mengamati.


Lalu kudengar dia terisak. Dalam tidurnya. Menyebut kata 'Ibu'.


Aku tahu, ia tidak hanya merindukan Ayahnya, dia juga pasti merinduka Ibunya juga. Meski wanita itu telah 'membuangnya'.


Tiba-tiba terbit rasa penasaran di hatiku, siapa ibunya? Apa dia tahu? Atau sudah pernah bertemu?


Sepergi ayahnya, dia tidak lagi memiliki siapa-siapa. Tapi dia memilikiku sekarang. Aku mengusap pipinya, tanpa dia sadar. Istriku sayang, istriku yang malang.


"Mukena? Mukena siapa ini?" Dia menatap tas mukena yang kuberikan, pagi harinya.


Aku memesan mukena itu secara online semalam.


Aku mengangguk.


"Iya. Dikasih jamaah tadi." Aku menyahut, berbohong.


"Untuk?" Tanyanya lagi.


"Untuk siapa aja katanya." Maksudku, itu untuknya. Tapi nanti dia jadi bertanya lebih detail dari siapa dan kenapa diberikan untuknya?


Dia membuka tas mukena berwarna pastel di tangannya dengan wajah berbinar. Sepertinya dia sangat suka. Syukurlah, aku juga senang sekali kalau dia suka. Sebagai ganti mukena lusuhnya yang beberapa kali kulihat sobek dan dijahit ulang olehnya.


"Masya Allah. Ini bagus banget," pujinya. Tidak


melepaskan pandangan dari kain mukena itu.


Tentu saja bagus, aku memang meminta petugas butik yang kuhubungi memberikan mukena terbaik. Cukup mahal.


Wajahnya masih berbinar, menatapku.


"Kamu bisa melakukannya pada siapa saja kan, Kak?" Dia bertanya tiba-tiba.


Eh. Maksudnya itu apa?


Aku mengangguk. Karena sebelumnya kan aku bilang begitu tadi.


Dia tersenyum semakin lebar. Lalu melipat dan memasukkan lagi mukena itu ke dalam tasnya.


"Kita kasih ini ke Dik Lilis ya, Kang?" Ucapnya. Lebih mirip keputusan dibanding sebuah pertanyaan. Dik Lilis itu setahuku salah satu tetangga di sini. Anak SMA yatim dan hanya tinggal dengan ibunya. Sepertinya dari kalangan keluarga kurang mampu.


Diberikan kepada orang lain?


"Soalnya kasihan, Dii lihat mukena Dik Lilis itu sudah kekecilan. Dii udah lama pengen beliin. Tapi belum cukup rejeki. Yang ini aja kita kasih ya? Pasti Dik Lilis senang." Matanya mengerjap penuh binar.


Dan tahulah yang terjadi selanjutnya. Dia benar-benar memberikan mukena itu kepada Dik Lilis. Lalu kembali dengan wajah cerah. Melaksanakan sholat dhuha, dengan mukena lusuhnya.


"Kenapa nggak diambil aja mukena yang tadi?" Tanyaku sedikit kecewa. "Nggak suka?" Ya, aku kan sebenarnya membelikan mukena itu untuknya. Walau bisa saja kubelikan lagi yang lebih bagus.


"Mukena yang tadi? Suka banget," jawabnya cepat.


“Lalu kenapa kamu merasa kasihan pada orang lain?”


"Soalnya Dik Lilis kan lebih perlu. Mukena Dii juga masih bagus ini," jawabnya tulus sambil mengangkat mukenanya.


Tidak hanya itu, beberapa kali aku melihat ia memberikan pilihan dari apa yang menjadi haknya dengan orang lain.


"Rina, bagusan yang ini atau ini?" Tanyanya pada seorang gadis seusianya sambil menunjukkan dua buah bros yang dihadiahkan seorang ustadzah, oleh- oleh dari umroh.


Gadis bernama Rina yang dia minta sepertinya memilih dari dua bersaudara itu. Lalu jatuhkan seleksi pada bros agar terlihat lebih cantik dari sudut mana pun.


"Ya udah, ini yang buat kamu," ucapnya sambil menyerahkan bros yang lebih cantik itu. Lalu untuknya, ia menyimpan bros satunya.


Heran, padahal sebelumnya aku mendengar, saat diberikan, ustadzah itu mengatakan kalau yang dapat duluan boleh lebih dulu memilih. Logikanya, ia bisa memilih yang lebih bagus kan? Bukan malah sebaliknya.


Tak tahan, akhirnya aku bertanya juga.


"Oh, kalau mau ngasih ke orang kan memang harus gitu. Ngasih hal yang kita sukai," jawabnya dengan wajah teduh.


Kejadian seperti itu, tidak sekali dua terjadi. Sampai aku akhirnya benar-benar mengerti, seperti itu memang sifat Adinda. Baik hati dan lebih mengutamakan orang lain. Istriku yang baik.


Dan setiap waktu, semua yang dia lakukan membuatku semakin sayang. Mengaguminya lebih dari sebelumnya. Dia yang cantik hatinya.


Malam ini kami menatap bulan dari jendela yang terbuka, di dalam kamar. Duduk bersisian sambil mengobrol apa saja. Aku selalu suka saat ia bercerita. Apalagi dia tipe wanita yang tertutup sekali. Memendam apapun sendiri. Mungkin sebab hanya tinggal dengan Ayahnya saja selama ini, yang juga tak akan tega ia keluhkan apa saja karena tak ingin membebaninya. Atau karena memang tak memiliki siapapun lagi untuk berbagi.


Tapi sekarang, ada aku.


"Dii pernah diajak Ayah nemuin Ibu." Untuk pertama kali, akhirnya ia mau bercerita. Tentang hal yang memang ingin kutahu. Sesuatu yang dipendamnya sekian lama.


"Oh ya? Ketemu?" Aku berfokus padanya.


Dia mengangguk. Lalu menggeleng. Kemudian menunduk dengan mata berkaca-kaca.


Aku menarik tangannya dan menggeser tubuh, lebih mendekat. Nampak jelas beban tersimpan di mata sendunya.


"Mulai sekarang, kamu boleh memberitahuku apa saja, Kak. Kamu boleh menangis sepuasnya di sini." Aku menepuk bahu dan dadaku. Dengan tampilan yang meyakinkan. Saat aku mengangguk ke arahnya.


Air matanya tumpah sedetik kemudian.


"Dii pengen bisa peluk Ibu. Hks." Dia terisak. Seiring kutarik dia dalam rengkuhan.


"Dii pengen kayak anak-anak yang lain. Disayang sama Ibunya...." Ada sesak bergumul yang ia benamkan di dadaku.


"Kenapa Dii dibuang? Kenapa Ibu nggak sayang Dii?" Dia memuaskan isi hatinya yang terpendam selama ini.


Aku masih hanya diam. Mendengarkan. Memusut kepalanya.


Dia mulai memukul-mukul dadaku. Ekspresi dan emosinya yang selama ini terpendam lama. Dan aku membiarkannya.


Keluarkan semuanya, Kak. Lepaskan semua bebanmu di sini.


Aku memejamkan mata, menikmati dadaku yang basah oleh air matanya.


"Kenapa Ibu tega sekali? Dii selalu dihina orang-orang. Dii jadi ejekan teman-teman. Dii nggak bisa sekolah lagi. Ibu kenapa nggak ada? Kenapa nggak mau nemuin Dii?!" Kepalanya semakin membenam, di dadaku. Dengan terisak-isak ia menumpahkan semua, beban hatinya.


Dan aku menjadi pendengar serta tumpuan menumpahkan segalanya. Sampai dia puas dan terlelap dalam pelukan.


Aku mengangkatnya tidur di atas ranjang. Mengusap air matanya lalu menyelimutinya.


Ada senang yang bersemayam demi menyadari, ia akhirnya bisa terbuka denganku. Dia semakin menganggapku berarti. Seseorang yang ia percaya untuk berbagi cerita dan berbagi tawa serta sedihnya.


Aku semakin berarti baginya. Seperti dia sangat berarti bagiku.


Setelah malam itu, sikapnya jauh berubah. Tidak secanggung kemarin-kemarin. Dia sudah merasa nyaman denganku. Begitu percaya. Juga cinta. Dan aku menyukai ini semua. Rasanya sempurna.


“Kang, Dii sedih.”


"Kenapa? Beritahu aku di sini."


Lalu dia akan bercerita. Mendetail bahkan berulang- ulang. Bercerita sebab dan kekhawatiran hatinya.


"Dii takut," ucapnya di kesempatan lain.


"Takut apa?" Aku langsung berfokus padanya. Menatap dengan tatapan teduh. Siap mendengarkan.


Aku menjadi seorang yang semakin berarti baginya. Aku bisa merasakan itu.


Maka tak lagi sungkan dia akan meletakkan kepala di bahu dan dadaku. Bahkan memeluk saat apapun dia butuhkan. Lalu aku mendekapnya dengan hangat sambil menahan diri kuat sekali. Ya, aku sudah berjanji, untuk menahan diri. Sampai dia menerima dalam kejujuranku atas segalanya. Hanya satu harapanku, agar dia percaya dan mau berjuang bersama, menghadapi Papi dan Mami. Bukannya malah menyerah dan pergi. Atau merasa telah kubohongi.


Aku suka. Hanya masih ada khawatir menjelma jika ia tahu yang sebenarnya. Kuharap tidak merubah ini semua.


"Kanda?" Tanyanya. Sambil berkedip. Dan itu terlihat lucu.


"Ya." Aku memicingkan mata.


"Siapa Kanda?" Tanyanya sambil mengernyit.


"Aku."


"Akang?"


"Kakanda, Adinda."


"Kakanda?" Dia kembali mengulangi. Terdiam sebentar. Lalu tersenyum lebar. "Oh...." Mengangguk mengerti.


Dan sejak itu, dia memanggilku dengan nama sayang... Kakanda. Dia hanya memanggilku seperti itu.


Bukti kedekatan dan keterikatan hati, aku dan dia.


Kurasa kami memang sudah benar-benar dekat. Sudah sama-sama merasa nyaman.


Waktunya untuk aku jujur sekarang. Mengakui penyamaran yang kulakukan, selama ini. Bahwa aku adalah Tuan Alfadi Edibagaskara. CEO perusahaan yang menjadi tersangka penggusuran masjid At Taqwa, meski bukan aku di balik itu semua. Pria kaya raya yang sedang melarikan diri dari kemewahan harta benda dan kehormatan keluarga. Lantas menemukan belahan jiwa, dirinya.


Bukankah kalau sudah nyaman, dia akan percaya dan itu sekaligus mengobati traumanya, pada 'orang kaya'?


Ya. Aku harus mengakui, pada Adinda. Sudah saatnya.


Kuhampiri la dengan rasa mendesir di sepenuh dada. Dengan ekspresi serius penuh harap agar ia mengerti sepenuhnya.


" Adinda, aku ingin Bilang Sesuatu...."



Bersambung ...19

Monday, June 2, 2025

 BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang 

Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) merupakan pelatihan sekaligus pembelajaran yang dilaksanakan di luar sekolah. Namun program Prakerin ini masih relevan dengan kompetensi keahlian yang dimiliki siswa dan siswi SMK. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta menambah bekal demi masa depan siswa siswi di dunia kerja.










Saat memasuki dunia kerja, akan banyak persaingan ketat antar calon karyawan. Selain itu pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, semakin banyak pula peralatan canggih yang digunakan dalam berbagai bidang. Prakerin dimaksudkan memberikan pengalaman bagi siswa siswi untuk mengaplikasikan teori yang didapat di sekolah dalam praktek nyata di dunia kerja.

Dengan adanya kegiatan prakerin ini siswa siswi dapat mengasah serta mengimplementasikan materi pelajaran secara langsung ke dunia industri sesuai keahliannya masing-masing. Dalam upaya mewujudkan Visi dan Misi nya, SMK Al-Manar Pamarican melaksanakan program Prakerin demi menjadikan siswa siswi siap secara mental dan keterampilan memasuki dunia kerja.

1.2 Tujuan Prakerin

        Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) diselenggarakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan tujuan :

1. Meningkatkan mutu dan merelevansi pendidikan-pendidikan kejuruan melalui peran Dunia Usaha atau Dunia Industri.

2. Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.

3. Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dengan sikap yang menjadi bakat dasar pengembangan dirinya secara berkelanjutan.

4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.

5. Meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan menengah kejuruan melalui pendaya gunaan sumber daya pendidikan yang ada di dunia kerja.


1.3 Manfaat Prakerin

      Adapun manfaat dari Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) adalah :

1. Memperoleh wawasan luas mengenai seluk beluk dunia kerja.

2. Meningkatkan rasa percaya diri, dispilin, dan tanggung jawab.

3. Mengetahui arti penting disiplin, tanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

4. Dapat memahami, memantapkan dan mengembangkan pelajaran yang diperoleh disekolah.

5. Dapat membandingkan kemampuan yang diperoleh disekolah dengan yang dibutuhkan di dunia kerja.












BAB II

LANDASAN TEORETIS

2.1  Pengertian Perawatan Sistem Komputer

Perawatan computer adalah menjaga komponen-komponen computer baik itu berupa hardware maupun berupa software dari hal-hal yang dapat membahayakan komputer. Dengan perawatan yang maksimal, baik itu perawatan secara hardware ataupun perawatan secara software computer akan terlindungi dari hal-hal yang dapat membahayakan atau merusak computer itu sendiri.


Perawatan computer perlu di lakukan secara berkala, minimal di lakukan setiap satu minggu satu kali, tapi akan lebih baik bila di lakukan setiap selesai menggunakan. Karena setiap selesai mengoperasikan software aplikasi pasti ada file-file sampah yang tersimpan di harddisk dan akan mengakibatkan computer menjadi lambat yang akan akan mengganggu pekerjaan user.

2.2 Manfaat Dan Tujuan Perawatan Sistem Komputer

2.2.1 Manfaat perawatan computer, yaitu:

a. Komputer selalu segar dan sehat.

b. Tidak cepat rusak,.

c. User puas dalam mengoprasikannya.

d. Pekerjaan user tidak akan terganggu.

2.2.2 Tujuan perawatan computer, yaitu:

a. Supaya computer tidak cepat rusak.

b. Supaya computer selalu cepat bersih.

c. Supaya pekerjaan pengguna tidak terganggu dari hal-hal yang tidak di inginkan.

d. Menghemat biaya, karena dengan perawatan yang berkala computer akan jarang untuk di servis.



2.3 Jenis-jenis Perawatan Sistem Komputer 

Pemeliharaan komputer yang efektif dapat menjadi perbedaan antara sistem yang andal dan yang bermasalah. Pemeliharaan komputer dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, tetapi semuanya dipusatkan untuk memperpanjang umur peralatan TI Anda melalui penggunaan yang hati-hati dan mengambil tindakan pencegahan yang masuk akal. Dengan memelihara komputer Anda secara efektif, Anda dapat membantu bisnis Anda mendapatkan pengembalian investasi TI yang sebaik mungkin, diantaranya:

1. Perawatan Hardware

  Pemeliharaan perangkat keras adalah praktik apa pun yang dilakukan untuk menjaga agar komponen fisik komputer Anda tetap berfungsi. Membersihkan adalah salah satu bentuk perawatan perangkat keras yang paling umum. Skala kecil dan pembuatan presisi dari beberapa komponen komputer berarti bahwa paparan debu atau serpihan dapat menyebabkan masalah besar. Dengan demikian, pembersihan rutin komponen eksternal komputer Anda dapat memperpanjang umurnya secara signifikan. Mengganti komponen yang rusak atau berkinerja buruk juga dapat dianggap sebagai jenis pemeliharaan perangkat keras.`

2. Perawatan Software

Pemeliharaan perangkat lunak membantu memastikan bahwa program dan file komputer Anda dapat diakses dan berfungsi dengan benar. Pemindaian anti-virus adalah bentuk pemeliharaan perangkat lunak, karena fungsi utamanya adalah untuk memastikan bahwa komputer Anda tidak menjalankan perangkat lunak apa pun yang seharusnya tidak. Cadangan juga termasuk dalam kategori ini, karena memungkinkan Anda untuk meminimalkan efek dari masalah perangkat lunak di masa mendatang dengan menyimpan catatan program atau file yang dapat dipulihkan di kemudian hari jika terjadi masalah.

3. Perawatan Environmental

Membuat perubahan pada lingkungan tempat komputer Anda beroperasi dapat membantu meningkatkan umurnya. Ini bisa sesederhana menerapkan kebijakan dan aturan bagi mereka yang menggunakan komputer organisasi Anda. Misalnya, Anda dapat mengurangi risiko insiden tumpahan dengan melarang orang minum di meja mereka. Mengatur suhu ruangan kantor atau server Anda dan mencegah penumpukan debu pada permukaan juga merupakan bentuk pemeliharaan lingkungan.

4. Perawatan Upgrading

Memutakhirkan komponen komputer Anda adalah jenis pemeliharaan yang sempurna. Pemeliharaan yang sempurna adalah pemeliharaan yang tidak secara fundamental mengubah cara fungsi komputer Anda, melainkan memungkinkannya menjalankan peran yang ada dengan lebih efektif. Dengan memutakhirkan komponen kunci tertentu, seperti memori onboard atau hard drive komputer Anda, Anda dapat memungkinkannya untuk melakukan tugas-tugas yang tidak akan mampu dilakukan ketika pertama kali dibangun. Hal ini pada gilirannya dapat membantu memperpanjang umur sistem dan berpotensi menghilangkan kebutuhan Anda untuk membeli komputer baru.

5. Perawatan Data

Perangkat keras dan perangkat lunak komputer bergabung untuk menyediakan platform untuk menyimpan dan mengambil informasi dengan cepat. Setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun menyimpan informasi baru, basis data menjadi membengkak dan tidak efisien. Pemeliharaan sesekali pada informasi termasuk pengarsipan dan pembersihan informasi yang usang dan mengatur kembali database yang menampung informasi tersebut. Reorganisasi basis data meningkatkan waktu pengambilan informasi, memfasilitasi produktivitas pengguna kelas atas. Sistem operasi Windows dilengkapi dengan beberapa program pemeliharaan yang meningkatkan efisiensi komputer Anda. Disk Cleanup, Disk Defragmenter, Check Disk adalah tiga utilitas perawatan yang berguna yang akan meningkatkan kinerja komputer Anda.

6. Perawatan Prediktif

Ini adalah jenis perawatan yang dilakukan dengan menggunakan alat diagnostik, untuk mengantisipasi kemungkinan kegagalan dan mencoba menghindarinya sebelum terjadi. Salah satu cara terpenting dalam pemeliharaan jenis ini dilakukan adalah melalui pemantauan sistem komputer. Dengan cara ini, satu atau beberapa operator mengontrol berfungsinya peralatan dan sistem dengan menggunakan alat-alat seperti perangkat lunak pemantauan, untuk mengontrol semua jenis variabel, seperti suhu CPU, level baterai atau banyak lainnya.

7. Perawatan Preventif

Ini adalah jenis perawatan yang sangat sering, yang dilakukan untuk mencegah kemungkinan kegagalan dan meningkatkan fungsi suatu sistem, tetapi juga untuk memperpanjang masa manfaat dari berbagai komponen sistem. Perawatan preventif bermanfaat dalam banyak aspek. Sebagai contoh, ia mengurangi jumlah downtime sistem atau dapat mengurangi jumlah perbaikan, dan juga dapat mendeteksi titik lemah dalam sistem yang mungkin mempengaruhi operasinya. Ketika kita berbicara tentang pemeliharaan preventif perangkat lunak, kita memasukkan operasi seperti pembuatan salinan cadangan, pembebasan ruang hard disk, pembebasan memori RAM atau pemindaian dan pembersihan komputer melalui antivirus.

Ketika kita berbicara tentang pemeliharaan perangkat keras preventif, kita biasanya berbicara tentang dua jenis yang berbeda, yang merupakan tugas-tugas seperti pembersihan berkala peralatan dan komponennya, atau "pemeliharaan preventif aktif", yang bertujuan untuk memastikan daya tahannya dengan melindungi sistem dari kemungkinan agresi lingkungan. , misalnya, dengan memisahkan komputer dari area dengan dampak langsung sinar matahari, ini dikenal sebagai "pemeliharaan preventif pasif".

8. Perawatan Korektif

Ini adalah solusi yang harus diterapkan ketika pemeliharaan prediktif dan preventif tidak berfungsi dengan benar atau ketika ini belum dapat menghindari kegagalan. Ada saat-saat komputer atau sistem gagal (misalnya karena kegagalan perangkat keras) tetapi kami ingin agar komputer dapat beroperasi kembali dan dalam kondisi optimal. Maka ini akan termasuk operasi perbaikan atau penggantian, tergantung pada kebutuhan setiap kasus. Salah satu pertimbangan yang harus diambil mengenai jenis perawatan ini adalah bahwa tidak hanya penting untuk menyelesaikan kegagalan, tetapi kita juga harus menentukan apa penyebabnya, untuk menemukan kemungkinan akibat yang mungkin mempengaruhi bagian lain. sistem dan untuk mencegahnya terjadi lagi di masa depan

9. Perawatan Evolusioner

Jenis pemeliharaan ini tidak dimaksudkan untuk memperbaiki atau mencegah kemungkinan kegagalan, tetapi untuk mengembangkan sumber daya komputasi yang tersedia. Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, pembaca yang budiman, teknologi selalu berkembang, dan itu berarti bahwa alat yang tersedia dan kebutuhan pengguna juga berubah secara konstan. Dengan pemeliharaan evolusioner, kami ingin memastikan bahwa sistem komputer tidak menjadi usang, tetapi tetap diperbarui untuk menawarkan pengguna pilihan teknologi terbaik, tergantung pada kemungkinan masing-masing perusahaan dan organisasi.

Jenis pemeliharaan ini akan mencakup segalanya mulai dari tugas pembaruan perangkat lunak hingga penggantian peralatan atau sistem yang lengkap, tergantung pada kebutuhan. Dan sejauh ini, kami telah melihat jenis utama pemeliharaan TI di luar sana. Seperti yang dapat Anda bayangkan, karena kerumitan jenis operasi ini, pekerjaan ini biasanya ada di tangan para profesional, seperti administrator sistem atau perusahaan khusus, yang menawarkan layanan pemeliharaan kepada perusahaan, profesional, atau individu.(Indri)

2.4  Langkah Kerja Perawatan Sistem Komputer

  Perawatan komputer adalah suatu bentuk kegiatan yang ditujukan untuk menangani masalah-masalah yang terdapat pada komputer. Secara garis besar kegiatan perawatan komputer dibagi atas dua bagian yaitu Perawatan software dan Perawatan hardware.

Maintenance software yang umum dikerjakan adalah update software seperti antivirus, program dan aplikasi, Sistem Operasi, dan file-file lainnya. Sedangkan maintenance hardware meliputi perawatan teknis terhadap semua bagian perangkat keras dari komputer, mulai dari pembersihan bagian bagian CPU, monitor, perangkat input, perangkat cetak dan perangkat jaringannya.

Perawatan secara teratur akan mengurangi beberapa permasalahan seperti crash system, kehilangan data bahkan sampai kerusakan komponen sehingga sistem komputer kita bisa berumur lebih panjang. Kegiatan perawatan komputer ditujukan untuk menjaga kesinambungan operasional dan kinerja dari unit komputer yang digunakan. 

Kegiatan perawatan komputer dilaksanakan secara berkala, atau waktunya ditentukan sesuai kebijakan masing masing pihak yang menanganinya. Alasan dilaksanakan perawatan komputer adalah karena komputer rentan terhadap masalah (virus, kotornya hardware, dll) sehingga perlu memastikan komponen-komponen hardware berjalan dengan baik.

2.4.1 Peralatan Perawatan Komputer


Untungnya, dengan sedikit upaya dan tool yang tepat, pemeliharaan dan perbaikan PC menjadi mudah untuk kebanyakan orang. Inilah tool/peralatan standar yang biasa digunakan dalam perawatan computer, sebagai berikut:


 

Gamar 2.4.1 gambar perawatan computer

1. Obeng: Kita membutuhkan dua obeng kecil: satu dengan kepala pipih standar, dan yang satu lagi dengan kepala kembang. Biasanya kurang dari enam inci panjangnya dan pastikan semuanya tidak bermagnet.

2. Kuas

3. Senter: Bahkan di ruangan yang terang-benderang, bisa saja sulit melihat kabel-kabel kecil dan konektor di bagian dalam casing komputer.

4. Wadah komponen: Wadah kecil yang berpenutup penting untuk menyimpan sekrup dan jumper. Cangkir plastik atau botol obat lama juga bisa dipakai.

5. Tang berujung runcing: Tang kecil berujung runcing berguna untuk menjangkau bagian-bagian dan menekuk kawat dan potongan logam.

6. Vacum cleaner kecil/sedang bila ada untuk membersihkan bedu dalam casing computer.bila tidak ada cukup mengunakan kuas yang agak besar dan pembersihan dilakukan di luar ruangan yang berventilasi baik.

7. Anti static trap/wistrap

8. Thermal grease/pasta prosesor.

9. Semprotan udara bila ada.


2.4.2  Melakukan Perawatan PC

Ada dua tipe perawatan yang bisa kita lakukan, yaitu perawatan pasif dan paerawatan aktif. Kita namakan pasif, karena perawatan ini lebih mengarah kepada faktor lingkungan dan benda-benda non komputer yang membantu kinerja PC Anda. Sedangkan perawatan aktif adalah perawatan yang kita lakukan dalam tubuh PC itu sendiri meliputi software dan hardware.

1. Metode Perawatan Pasif

Perawatan pasif meliputi proteksi sistem terhadap lingkungan yang normal, baik secara fisik dan elektrikal. Hal fisik meliputi temperatur yang baik, thermal stress dari power, kontaminasi debu atau asap dan gangguan lain seperti getaran atau guncangan. Hal elektrikal meliputi ESD (electro-static discharge)/listrik statis, kebisingan power dan gangguan frekwensi radio. Tahap-tahap melakukan perawatan pasif :

a. Memilih lokasi untuk komputer yang bebas dari polusi udara   seperti asap, debu, kotoran dan polusi yang lain.

b. Memperkecil kemungkinan terjadinya variasi suhu di dalam ruangan. Misalnya, dengan memberi AC atau tidak menempatkan komputer dekat jendela agar komputer tidak terkena sinar matahari secara langsung ataupun percikan air hujan.

c. Menyediakan outlet ground dari power yang sudah stabil dan bebas dari gangguan elektris dan interferensi. Hal ini berfungsi menghindari listrik statis.dan resiko tersengat listrik dari casing computer.

d. Bila memungkinkan, jauhkan komputer Anda dari pemancar atau sumber-sumber frekwensi radio.

2. Metode perawatan aktif

Intensitas melakukan perawatan aktif untuk lingkungan kantor normal, pembersihan komputer dapat dilakukan beberapa bulan sekali dalam setahun. Namun jika kita membuka komputer setelah satu tahun ternyata di dalamnya telah penuh debu, ada baiknya kita memperpendek interval pembersihan.

A. Tahap-tahap melakukan perawatan aktif :

1) Untuk hardware, non Operating System

a. Membersihkan debu di luar dan dalam CPU serta monitor dengan vacuum cleaner/kuas

b. Membersihkan konektor dan kontak pada konektor slot, konektor power supply, konektor keyboard, konektor mouse dan konektor speaker.

c. Sebaiknya untuk perawatan hardware dilakukan di tempat terbuka/berfentilasi baik.

2) Mouse

Untuk perawatan device ini diperlukan perlakuan khusus tergantung dari type yang digunakan (Optical Mouse/Ball Mouse). Untuk Optical Mouse, perawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Pastikan tempat Mouse (Mouse Pad) menggunakan   warna yang sama atau tidak berwarna-warni misalnya hanya menggunakan warna Biru saja. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah mouse mouse tidak dapat dikendalikan.

b. Mouse sebaiknya diletakan pada tempat yang rata dan tidak terdapat benjolan dsb, ini dimaksudkan agar pointer mouse tidak mergerak secara acak.

c. Sedangkan untuk mouse jenis Ball Mouse, perawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : Bersihkan bola pada bagian dalam Mouse dengan menggunakan sikat untuk menghilangkan debu ayng terdapat pada bola yang dapat menyebabkan pointer sulit digerakkan. Letakan Mouse pada tempat yang baik agar bola mudah bergerak pada bagian dalam Mouse.

3) Keyboard.

Perawatan Keyboard sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut :

a. Lakukan  pembersihan terhadap debu yang mungkin terselip dan menjadi tebal pada bagian bawah tombol Keyboard yang dapat menyebabkan tombol keyboard macet dan sulit untuk ditekan. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menggunakan cairan pembersih dan kain atau kuas untuk menghilangkan debu yang ada didalamnya.

b. Jika Keyboard sedang tidak digunakan ada baiknya menutup Keyboard dengan kain untuk mencegah masuknya debu atau serangga yang dapat menimbulkan kerusakan pada Keyboard.

4) WebCam

Untuk perawatan device ini dapat dilakukan tips berikut :

a. Lakukan pembersihan terhadap lensa jika pada saat digunakan   gambar yang tertampil terlihat agak buram atau rusak. Bersihkan dengan menggunakan kain dan cairan pembersih.

b. Pastikan pada saat penggunaan kamera, kamera tidak berhadapan langsung dengan cahaya yang cukup kuat seperti cahaya matahari hal ini agar lensa kamera tidak cepat rusak dan hasil yang diperoleh akan lebih baik.

5) Scanner

Perawatan Scaner yang umumnya dilakukan adalah sebagai  berikut : 

a. Bersihkan bagian permukaan kaca Scaner dengan lap dan cairan pembersih agar dokumen yang dicetak menghasilkan hasil yang baik.

b. Letakan Scaner pada tempat yang sejuk dan kering serta terhindar dari debu, kotoran dan serangga.

B. Perawatan Output Device

    1) Monitor

Perawatan monitor dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Bersihkan layar dengan lap dan cairan pembersih khusus agar layar monitor tetap terjaga kebersihannya (LCD).

2. Tutup monitor apabila sedang tidak digunakan dan jauhkan monitor dari perangkat yang mengandung induksi magnetik sepeti HP dan speaker (CRT).

2. Printer

Perawatan Printer dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Tutup Printer dengan kain jika tidak digunakan.

2. Bersihkan dan cegah agar debu atau remah-remah makanan tidak masuk ke dalam Printer. Dan reset printer jika sudah lama digunakan.

3. Speaker

Untuk mghasilkan keluaran suara yang baik, maka speaker perlu perawatan, dan perawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Jauhkan Speaker dari perangkat yang memiliki gelombang radio seperti HP yang dapat menimbulkan interferensi dan akan menghasilkan suara yang buruk.

2. Jauhkan Speaker dari pernagkat seperti monitor karena selain merusak monitor jaga akan mempengaruhi speaker.

C. Untuk perawatan Operating System :

Yang sifatnya rutin dan wajib dilakukan adalah:

1. Melakukan Back up data dan file-file penting pada waktu yang terjadwal. membuat cadangan data wajib dilakukan pada Komputer maupun notebook.karena nilai data penting lebih mahal dari hardware computer itu sendiri.

2. Melakukan defragmentasi file.pada windows 7 telah berjalan secara otomatis kita tinggal menyesuaikan saja waktunya.

3. Melakukan clean up dengan menghapus semua file temporer, seperti: *.tmp, *.chk, ~*.*, file-file dari recycle bin, web browser history dan temporary internet files.

4. Melakukan scandisk

5. Melakukan checking dan updating anti virus rekomendasi antivirus avira free.karena bersifat gratis dan ringan dalam proses scanning serta update. Update anti-virus harus rutin di-update, agar dapat selalu menangkal virus-virus baru yang terus bermunculan setiap hari. Kunjungi secara rutin situs pembuat antivirus yang digunakan.

D. Perawatan tahunan Komputer dan Jaringan mencakup 

1. System Back-up (membuat salinan/copy untuk data-data penting perusahaan yang ada pada komputer, dan back-up copy diserahkan ke pelanggan untuk disimpan ditempat yang aman).

2. System Optimization (defragmentasi data, membuang sampah-sampah yang ada pada komputer, memperbaiki kesalahan setting)

3. System Rebuild (membangun dan menata ulang kembali sistem yang rusak oleh faktor yang tidak disengaja, supaya sistem dapat bekerja kembali seperti semula)

4. System Upgrade (menambah fungsi, memperbaharui sistem yang ada sesuai dengan permintaan pelanggan, testing stabilitas untuk hardware dan software sebelum pemasangan)

5. Training (pelatihan, pengarahan dan konsultasi untuk pemakai supaya dapat mengoperasikan komputer dengan baik dan benar)

6. Pembersihan Virus (melacak dan membersihkan virus dari komputer dan jaringan)

7. System Security (pemasangan dan perubahan password, untuk pengamanan sistem dan data penting perusahaan dari orang luar yang tidak berkepentingan).

8. Penyelesaian Darurat (meyediakan personil untuk segera bertindak dalam waktu singkat, supaya sistem dapat bekerja kembali seperti semula)

9. Personil stand-by di lapangan (Bila sistem yang berjalan belum stabil, menempatkan personil sebagai support teknis dan pemantauan kerja sitem yang ada sampai semua masalah terselesaikan

10. Konsultasi (menyediakan konsultasi, analisa dan saran secara professional untuk segala hal yang berhubungan dengan komputer)

11. Perawatan Hardware Komputer (merawat hardware komputer, membersihkan komputer, mengurangi kerusakan pada hardware)

12. Mengganti barang-barang komsumtif (mengganti tinta printer, mouse, floppy disk yang rusak, dll)









BAB III

GAMBARAN UMUN DUNIA USAHA ATAU DUNIA INDUSTRI (DU/DI)


3.1 Sejarah Berdirinya Sanen Computer Banjarsari

       Berdiri pada Tahun 2000, Sanen Computer merupakan toko komputer

yang melayani service komputer atau laptop di segala kondisi, penjualan

sparepart laptop, juga melayani pegadaian laptop. Sanen Computer menyediakan hampir semua sparepart laptop mulai dari Chasing, Motherboard, LCD, LED laptop, HDD, RAM, Processor, Fan, Speacker, Keyboard, Charger, maupun pada komponen-komponen pada Motherboard sparepart ini diperoleh dari pembelian laptop second.

3.2 Visi dan Misi Sanen Computer

       3.2.1 Visi

                  Menjadikan yang terdepan dalam bidang pengadaan komputer dan suku cadangannya dengan memberikan nilai kepuasaan terbaik bagi pelanggan, melalui harga yang wajar produk dan pelayanan yang berkualitas.

      3.2.2  Misi 

1. Mendukung terciptanya peluang bisnis sarana teknologi informasi komunikasi khususnya komputer dan suku cadangnya. 

2. Mempermudah pelanggan untuk mendapatkan peralatan komputer dan suku cadangnya.

3. Memberikan informasi. 

4. Membantu pelanggan dalam mengatasi kerusakan peralatan teknologi informasi dengan menyediakan jasa perbaikan.






2.3 Struktur Organisasi Sanen Computer

 

















BAB IV

URAIAN KEGIATAN


4.1 Kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin)

Kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin) dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2022 sampai 31 Mei 2023. Penyusun melaksanakan prakerin di Sanen Computer Banjarsari. Dalam melaksanakan Praktik Kerja Industri (Prakerin) banyak kegiatan yang penyusun lakukan ditempat tersebut. Rata rata kegiatan yang di lakukan oleh penyusun adalah diantaranya seperti instal ulang Windows baik Windows 7, 8, 8.1 ataupun Windows 10 selain menginstal Windows kegiatan yang di lakukan penyusun di tempat tersebut adalah menginstal Software basic, Update Driver, Unboxing paket, penyusun barang, memasang label harga pada produk yang di jual, dan service computer-PC, laptop ataupun  printer.

Penyusun berangkat dalam kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di sanen computer Banjarsari, sekitar pukul 07.30 dan pulang sekitar pukul 15.30










BAB V

SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan

1. Menginstal aplikasi dilaptop atau komputer dilakukan untuk mengontrol perangkat keras (yang sering disebut sebagai device driver), melakukan proses perhitungan, dan berinteraksi dengan aplikasi yang lebih mendasar lainnya (seperti sistem operasi, dan bahasa pemrograman). 

2. Aplikasi adalah suatu perangkat yang memanfaatkan kemampuan komputer secara langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna.

3. Menginstal aplikasi browser seperti Google Chrome atau Mozilla FireFox.

5.2  Saran

  Berdasarkan hasil saat melakukan kegiatan PKL, kami sedikit memberikan saran agar para peserta mempersiapkan diri lebih lanjut. Hal ini dapat dilakukan dengan menguasai pelajaran yang diterapkan dalam industri. Dengan begitu, praktek kerja lapangan dalam sebuah perusahaan nanti akan lebih mudah dan semoga peserta tahun selanjutnya bisa lebih baik lagi dan lebih bertanggung jawab terhadap apa yang kami perintahkan selama melaksanakan kegiatan PKL

Untuk SMK Al-manar diharapkan agar pelaksanaan praktek kerja Industri(PRAKERIN) dilaksanakan pada waktu yang lebih lama agar siswa-siswi lebih dapat memahami perannya di tempat instansi sesuai kejurusannya  masing-masing.




DAFTAR PUSTAKA

Scribd.com. Pengertian Menginstal Aplikasi https://www.scribd.com/document/446705405/PENGERTIAN-INSTAL-DAN-SISTEM-OPERASI-serta-fungsinya. Diakses 29 Mei 2022.

m.liputan6.com.  fungsi aplikasi https://m.liputan6.com/hot/read/4592895/aplikasi-adalah-program-perangkat-lunak-ketahui-fungsi-dan-jenisnya.  Diakses 16 Mei 2022.

Mikirbae.com

https://www.mikirbae.com/2016/09/perawatan-komputer.html

Lancangkuning.com

https://lancangkuning.com/post/10508/berbagai-jenis-perawatan-sistem-komputer.html




















LAMPIRAN-LAMPIRAN













Lampiran 1

IDENTITAS SISWA


Nama Siswa : Hendrik Apriandi

Tempat Tanggal Lahir : Ciamis,14 April 2005

Jenis Kelamin : Laki Laki

No Induk Siswa (NIS) : 212212620

Asal Sekolah : SMK AL-MANAR

Alamat                                    : Dusun.Sidaharja Rt.12 Rw.03 Desa 

                                                   Sidaharja, Kecamatan Pamarican, Kabupaten 

                                                    Ciamis












Lampiran 2

IDENTITAS SEKOLAH


Nama Sekolah     :  SMK AL-MANAR PAMARICAN

Terakreditasi :  B

Alamat :  Jalan Raya Banjar – Banjarsari KM 15, Desa 

    Kertahayu, Kecamatan Pamarican, 

    Kabupaten Ciamis, Telepon (0265) 655005

    Kode Pos 46383

E-mail :   smkalmanar@gmail.com

Program Keahlian :   1. Teknik Komputer dan Jaringan

     2. Agribisnis Perikanan

               3. Akuntansi










Lampiran 3

IDENTITAS DU/DI


Nama Instansi :  SANEN KOMPUTER BANJARSARI

Alamat :  JL Cikohkol KM.1 Pangandaran, Banjarsari,

    Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46382

Telepon :   (0265) 652245
















Lampiran 4

Foto Kegiatan Prakerin di SANEN Computer












Gambar 4.1. Foto Tempat Prakerin di Sanen Computer













Wednesday, May 28, 2025

 (16) MARBOT ITU TERNYATA CEO

Penulis: *Lea

Kebahagiaan








Sebuah panggilan halus menyapu telingaku. Seperti membangunkan. Bukan ketukan di pintu dari Abi Yahya seperti biasa. Ini seperti panggilan merdu dari bidadari surga. Sepertinya aku sedang bermimpi indah.


"Udah jam tiga. Kang, bangun yuk." Kali ini benar- benar terasa, sebab diiringi sentuhan pada lenganku.


Mimpi yang begitu nyata.


Aku tersenyum tapi malah kian rapat menutup mata. Begini mungkin keadaan di surga sesungguhnya.


"Kang...." Tubuhku digoyang seseorang.


Dan aku menggeliat sambil menyipitkan mata. Lalu yang kulihat bidadari surga sesungguhnya. Dalam balutan jilbab berwarna kusam nan sederhana. Adinda.


Raut polosnya nampak jelas di depan mata, membuat mataku segar seketika.


Bukan bermimpi, aku benar-benar dibangunkan olehnya.


Terkejut. Ini pertama kalinya aku dibangunkan olehnya.


"Yuk sahur dulu," ucapnya meneruskan. Tersenyum. Ya, dia mengawali subuh ini dengan tersenyum. Setelah dua hari yang begitu menyedihkan.


Itu membahagiakanku.


Aku mengangguk. Dalam jantung yang bertaluan dalam degub. Beranjak ke kamar mandi, kamar mandi

yang sederhana dan juga kecil sekali di rumah ini. Herannya, aku tidak risih ada di sini. Justru yang kurasakan adalah rasa nyaman. Malah aku merasa sakit kepala hebat saat ada di kamar mandi mewahku beberapa bulan ini.


Selesai gosok gigi dan cuci tangan dan muka, aku pun keluar, berniat segera berangkat ke masjid, membangunkan jamaah dari pengeras suara masjid seperti biasa.


Tapi langkahku tertahan beberapa langkah kemudian. Di dapur minimalis rumah ini, kulihat Adinda sedang menata makanan.


Makanan?


"Kang, sahur di sini sekarang atau Dii antarin ke masjid nanti dekat imsak?" Tanyanya.


Aku terdiam beberapa waktu. Memperhatikan makanan yang sudah terhidang. Nampak menarik, sepertinya masih hangat semua. Mungkin ia memasak saat aku masih tidur tadi, entah sejak pukul berapa.


Disiapkan makan olehnya?


"Sahur di sini dulu," jawabku akhirnya. Mendekat dan duduk berhadapan dengannya. Menghadapi makan sahur sederhana yang di mataku sangat terasa istimewa.


Ia mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan nasi, tumis sayur, dan tempe goreng. Meletakkannya di hadapanku. Bersama segelas air putih hangat.


Kami makan sahur bersama.


Makanan sederhana olahannya ini enak. Ya, dia memang pandai memasak. Dia juga berjualan kue-kue yang bagiku selalu terasa enak. Bahkan juga kerap dipuji oleh para jama'ah yang berbuka di masjid, memakan-salah satunya-kue olahannya.


"Kue yang ini enak. Dinda yang buat pasti," puji Umi angkatku di beberapa kesempatan.


Ya diantara kelebihannya dia pandai memasak, masakannya enak.


Aku sangat menikmati ini. Makanan dan kebersamaan berdua dengannya ini. Rasanya belum pernah aku sahur dalam kebahagiaan seperti ini.


Sampai aku lupa, dengan kegamangan dan rasa bersalahku semalam. Tertutup sudah bersama kebahagiaan ini. Memiliki seorang istri dari wanita yang sejak awal membuatku jatuh hati.


Kami makan sambil sesekali mencuri pandang. Aku tahu, ia masih canggung makan berdua denganku. Ini juga yang pertama baginya. Dan menyenangkan sekali melihat ekspresinya seperti itu.


"Akang mau bangunin sahur orang-orang kan?" Ia mengingatkan. Mungkin sebab aku makan terlalu lama.


"Oh, ya."


Aku segera menghabiskan makananku, hampir lupa.


Dan bersegera menggosok gigi. Beranjak ke Masjid Almira Tiga, berjalan kaki saja. Lewat pagar belakang. Dekat banget kalau jalan kaki lewat sini ternyata.


Berpamitan dengan Adinda. Seperti seseorang yang sedang berpamitan berangkat kerja kepada istri barunya.


Dia mencium tanganku, untuk pertama kali. Menyempurnakan bunga-bunga yang sejak tadi menyeruak dalam dada. Seperti ini rasanya.


Aku sangat bahagia. Padahal cuma mau ke depan aja.


Tersenyum. Aku melangkah keluar, memulai hari dengan pekerjaanku, sebagai marbot masjid.


Abi Yahya dan Umi adalah orangtua angkatku sekarang. Otomatis menjadi orangtua angkat Adinda juga. Apalagi mereka memang cukup akrab sejak lama karena Abi dan Umi bersahabat sejak dulu.


Malam ini, Abi dan Umi membuat sebuah kejutan, untukku dan Adinda. Mengadakan resepsi pernikahan sederhana, untuk kami.


Ya, resepsi pernikahan itu sederhana, sederhana sekali. Usai salat tarawih berjamaah dilaksanakan di masjid.


Sejak hari meninggalnya ayah mertuaku, akad nikah kami sudah diumumkan oleh Abi. Dan malam ini dilaksanakan semacam perhelatan sederhana di masjid ini. Kata Abi, sunnah mengumumkan pernikahan. Sebagai bentuk syukur dan pemberitahuan kepada orang-orang kalau aku dan Adinda sudah menikah. Halal tinggal bersama dan tak perlu mengundang tanya jika terlihat berduaan. Menghindari fitnah. Selain juga untuk menghibur hati Adinda, itu yang kami bicarakan di hari sebelumnya.


Adinda mengenakan kebaya putih dengan riasan natural dan jilbab putih terjulur hingga ke depan dada berhias melati di kepala malam ini. Sederhana dan anggun sekali. Dia lagi-lagi membuatku terpesona.


Sepertinya ia tak pernah mengenakan riasan, jadi sedikit polesan make up membuatnya terlihat jauh berbeda. Padahal tidak menggunakan jasa MUA, hanya Umi yang meriasnya. Kebaya pernikahan itu pun, Umi yang meminjamkan.


Sebagai seorang marbot, aku harus 'berpura-pura' tidak memiliki banyak dana untuk resepsi ini. Hanya untuk santap malam semua orang, itupun bahkan dibantu oleh Abi dan Umi. Tanpa gedung acara, jasa wedding organizer, dan seluruh kemewahan pesta. Meski aku sangat mampu melakukannya. Tapi ini demi kebaikan penyamaranku.


Aku mengenakan jas putih pinjaman Abi. Dengan kopiah warna senada di kepala. Tentu saja masih dalam tataan rambut culun dan ketiga tompel yang melekat di dua pipi serta daguku. Tetap berperan menjadi lelaki cupu yang terlihat 'lucu'.


Aku dan Adinda duduk bersisian di lantai, tanpa pelaminan, diapit oleh Abi dan Umi. Menerima ucapan selamat dan doa dari para tetangga masjid yang hadir. Jama'ah sholat tarawih.


Ya, ini resepsi pernikahan yang begitu sederhana. Tapi aku sangat bahagia. Melirik Adinda berulangkali. Dia nampak anggun sekali malam ini. Ini bahkan kali pertama aku melihatnya mengenakan pakaian bagus, tidak dengan gamis dan jilbab kesehariannya yang nampak kusam warnanya. Ya, ternyata, dia memang hanya memiliki beberapa potong pakaian. Itu pun tak ada yang baru. Sepertinya baju-baju lama atau pemberian bekas orang. Istriku yang sangat sederhana kehidupannya.


Malam ini wajahnya sungguh terlihat bercahaya. Meski sempat kutangkap kaca-kaca di matanya saat teringat ayahnya yang tak mendampingi sekarang, tapi bisa kutangkap sorot kebahagiaan juga di sana. Aku menggenggam tangannya.


Sesekali, kudengar ejekan para ABG ke arahku. Kang tompel menikah dengan guru mengaji, kata mereka. Ya, memang kontras sekali. Aku yang bertompel dan cupu dengan Adinda yang nampak manis. Tapi cueki saja lah. Mereka tidak tahu saja tampang asliku sebenarnya. Berkali-kali aku bahkan ditawari menjadi artis serta cover majalah dalam wajah asliku. Hanya aku saja yang menolak, sebab fokus keluargaku adalah dunia bisnis bukan entertainment.


Lalu di antara pembicaraan orang-orang, kudengar itu, usulan untuk segera mengurus pernikahan secara resmi dalam hukum negara, di KUA.


Pernikahan kami memang sudah sah menurut agama tapi masih ilegal dalam catatan negara.


Aku mengerti. Aku pun sangat menginginkannya. Tapi aku tahu, pernikahan terdaftar secara hukum negara akan membongkar statusku sebenarnya. Aku belum siap. Maka lagi-lagi aku harus berbohong, mengatakan KTP ku hilang.


Bersabar menunda, sampai aku jujur atas ini semua. Juga setelah mendapatkan restu orangtuaku.



Kami pulang setelah resepsi sederhana itu, yang dilaksanakan hanya sekira satu jam.


Ini adalah malam keempat sejak akad dan dalam balutan pakaian seperti ini, aku tahu, ini harusnya adalah malam pertama kami.


Debar dadaku mengencang saat memasuki kamar. Duduk bersisian di sisi ranjang dengan Adinda yang masih mengenakan kebaya cantik itu. Juga jilbab dan hiasan melati yang samasekali belum dilepaskannya. Dia sungguh tipe wanitaku. Hanya dia yang berhasil membuatku sebahagia ini. Seperti lepas dari semua kejenuhan dan beban hidup dalam bayang keterkurungan.


Dan dia, satu-satunya wanita yang membuatku sungguh ingin bertahan, memperjuangkan.


Aku menyukai kesederhanaan dan kebaikan hatinya. Hal berbeda dari kebanyakan wanita di luar sana yang membuatku jatuh cinta padanya. Atau sebab di matanya, aku bisa melihat ketulusan seorang belahan jiwa.


Sungguh, kecanggungan ini menyenangkan. Aku menikmatinya. Dalam desiran hangat yang terus berpacu di dada hingga meneteskan keringat di keningku. Grogi sekali rasanya.


Aku tersenyum, menoleh ke arahnya. Dia tersenyum juga, menunduk ke arah lantai. Manis sekali.


Cukup lama menikmati semua ini dalam hening. Hingga aku menggeser tangan, menyentuh dan menggenggam jemarinya. Merasakan kehangatan desir yang menjalar.


"Adinda...." Aku selalu memulai dengan menyebut namanya.


"Dari?"


"Kamu bahagia?"


Dia diam. Lalu mengangguk dengan raut malu.


"Kenapa menangis?" Dalam senyumnya, aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca kembali.


Dia menoleh sekilas, lalu menunduk lagi.


"Cuma ingat ayah," jawabnya.


Ya, aku tahu itu.


"Apa Ayah akan menyesal bermenantu aku?"


Dia segera menggeleng.


"Aku kan hanya marbot masjid sederhana. Tompelan pula."


Seperti dugaanku, dia tidak jadi menangis. Membalas genggaman tanganku.


Kang , Jangan Ngomong Gitu. "



Kenapa ?


"Nggak boleh. Ayah nggak pernah menilai siapapun dari status dan fisiknya."


"Kalau kamu?"


"Dii?"


"Ya."


"Sama."


"Apa kamu nggak malu bersuami laki-laki kayak aku?"


Dia menggeleng cepat.


"Enggak. Orang Dii suka." Berucap cepat, lalu terdiam. Menunduk menahan malu.


Aku tersenyum. Suka?


"Sejak kapan?" Aku menoleh ke arah jendela sekarang, sambil menggigit bibir lalu mengulum senyuman. Menahan pipiku yang menghangat.


Aku memancingnya dengan pertanyaan itu dan sepertinya dia tahu. Jadi malah mengangkat bahu. Ya, apa dia juga menyukaiku sejak pandangan pertama sore itu?


Tapi dari gelagatnya aku tahu, ia tak akan mengaku. Jadi kuganti pertanyaan.


"Kenapa?" Tanyaku akhirnya. Sambil menggeser tubuh, dan menarik sebelah tangannya yang lain hingga posisi kami berhadapan. Dan bertatapan.


"Karena... Kang Padi baik," jawabnya. Masih dalam ekspresi malu yang menggemaskan itu.


"Baik? Tahu dari mana?" Aku lekat menatapnya. Meminta jawaban terjujur. Mata sendunya yang nampak bersih, memantulkan wajahku di sana.


"Dari mata Akang." Dia membalas tatapanku, menatap lekat juga, untuk pertama kali.


"Mengapa?"


"Karena mata itu, jendela jiwa kan?"


Aku mengangguk. Aku mengerti, dia juga merasakan yang kurasakan sejak awal. Kami sama-sama jatuh cinta tapi saling diam sampai aku menikahinya. Mengucap janji setia.


"Dan di matamu aku menemukan diriku, Adinda." Aku meneruskan, berbisik. Sambil menyentuh pipinya. Hangat di hati ini rasanya.


Lalu untuk pertama kali, tanganku terbimbing oleh nurani untuk melepaskan hijab yang ia kenakan. Perlahan. Hingga nampak kulihat mahkota rambut hitam bergelombang yang membuatku kembali terdiam.


Menatap lama. Lantas mengecup dahinya sambil merapalkan doa dalam hati. Bukan doa untuk melaksanakan ibadah malam pertama tapi doa agar perasaannya tak berubah apapun yang akan terjadi. Kenyataan apapun yang akan ia tahu, tentangku nanti.


Aku sungguh takut kehilangannya, wanita yang kucinta. Tapi untuk jujur pun aku butuh waktu. Ada kekhawatiran yang menggelisahkan, jika aku jujur sekarang. Lalu ia tak bisa menerima dan mengakhiri semua kebahagiaan ini.


Aku butuh waktu untuk mengakui. Mempersiapkan dirinya agar bisa menerima semua kejujuran yang akan kusampaikan. Pelan-pelan. Aku tahu, lebih dulu aku harus mengobati traumanya pada 'orang kaya' dan membuka sudut pandang dalam pola pikirnya. Tak akan bisa kupaksakan ia mengerti malam ini juga.


Aku membimbingnya untuk berbaring. Lalu berbaring juga di sisinya.


"Tidur, Adinda. Sudah malam. Semoga mimpi indah," ucapku. Menatapnya lalu mengalihkan pandangan. Menelan saliva dan aku harus memejamkan mata segera. Untuk menetralkan semua rasa yang harus kutahan sampai waktunya tiba.


Dia menatapku dalam raut bingung, aku tahu. Lalu mengangguk dan tersenyum demi melihatku yang juga tersenyum tulus padanya.


Aku mengerti, aku sungguh harus menahan diri sampai aku bisa jujur dengan semua ini. Membuktikan ketulusan. Agar ia tak merasa hanya sedang kumanfaatkan. Aku sungguh takut jika akhirnya dia merasa begitu.


Aku mencintainya dan aku menginginkannya. Dalam sahnya ikatan pernikahan untuk segala hal yang halal aku lakukan namun aku memang harus menahan diri. Supaya dia paham nanti, saya tidak main-main dengan penyamaran ini. Sama sekali tidak.


Aku justru ingin hidup selamanya dengan dia. Adinda.


Semoga nanti dia akan mengerti.



Bersambung...

Sunday, May 18, 2025

 (15) 


MARBOT ITU TERNYATA CEO


Penulis: lea


Sejarah Masjid Almira 3


Setelah itu, aku mengajaknya memandangi bulan. Sambil mengenang, ayahnya.


Setelah meyakinkan kalau dia tidak sendirian, selanjutnya aku ingin ia mengungkapkan segalanya, semua yang dia rasakan. Agar lega hatinya.


Duduk bersisian di taman kecil pada teras rumah sederhana ini. Dalam hening malam dan cahaya bulan keperakan.


Ada kecanggungan yang masih tercipta di beberapa jenak waktu. Dari dia dan dariku. Dalam debar menyenangkan yang justru membuatku kuat bertahan, sampai dia merasa nyaman dan mulai menyampaikan, isi hatinya sekarang. Semua yang memenuhi pikiran.


"Kangen banget sama Ayah." Akhirnya dia mengungkapkan. Memandang bulan, dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Ayah sendirian yang ngurus Dii dari kecil, dari Dii baru lahir. Dari dulu, nggak pernah ada satu malam pun Dii lewatin tanpa Ayah. Ayah nggak pernah ninggalin Dii." Suaranya parau.


Aku menyimak. Sambil ikut memandang bulan. Lalu beberapa kali menengok ke arah wajahnya.


Dii... itu singkat panggilan namanya dan begitu ia menyebut namanya sendiri, panggilan kesayangan ayahnya dia bilang, dari kata Dinda... Adinda.


Dia menggigit bibir. Seiring jatuh setetes air mata di pipinya. Membasahkan hatiku juga. Aku bisa membayangkan itu, kehilangan seseorang yang paling berarti. Tidak akan pernah mudah.


"Rasanya masih kayak mimpi Ayah sudah pergi selamanya. Dii nggak pernah tidur sendirian. Selalu Ayah temani."


Aku masih menyimak. Walau sebenarnya ingin kukatakan, aku yang akan menemani mulai sekarang. Tapi khawatir dia belum siap mendengar itu. Jadi aku masih diam.


"Dulu Ayah marbot Masjid At Taqwa." Ia masih mengenang.


"Masjid At Taqwa?" Aku mengulang, bertanya. Sedikit bingung, bukankah nama masjid ini Masjid Almira? Apa berganti nama?


Dia mengangguk.


"Ya. Dulu di sini lokasi Masjid At Taqwa. Ayah marbot di sana. Sejak Dii belum lahir. Memang sudah bangunan lama, masjid tua. Tapi Ayah cinta banget sama masjid itu. Seluruh hidup Ayah dicurahkan untuk merawat Masjid At Taqwa. Penuh kenangan. Lalu sempat ada sengeketa tanah sama salah satu pemilik perusahaan yang ngakuin kepemilikan tanah bangunan masjid itu. Singkatnya, dulu tanah itu ternyata hanya pinjaman. Terus sama masyarakat sini dibangun masjid secara gotong-royong karena nggak ada masjid di daerah sini. Ternyata, belasan tahun kemudian, pihak pewaris dari pemilik tanah itu yang diwakilin perusahaan keluarga mereka, nuntut balik tanah ini. Dan terkahir, masjid itu dirubuhkan karena kalah di sidang, gitu kata Ayah."


Aku mengernyit. Baru mendengar cerita ini.


"Tapi waktu itu Ayah sudah bertahun-tahun jatuh sakit. Sudah nggak jadi marbot lagi. Dan Ayah benar-benar sedih waktu tahu masjid itu dirubuhkan. Ayah sampai memohon-mohon sama penanggungjawab perusahaan itu supaya nggak ngerubuhin Masjid At Taqwa. Tapi malah diusir." Adinda menutup matanya yang berair, mengenang.


"Nggak cuma Ayah, masyarakat sini juga mohon hal yang sama, tapi nggak punya kekuatan apapun buat ngelawan. Tiap hari waktu itu, Ayah mandangin gimana masjid yang dia jaga dulu dihancurkan pakai alat-alat berat sampai jadi tanah lapang. Akan dibangun mall besar, rencananya oleh pemilik tanah yang menangin sengketa tanah itu."


Aku mengepalkan tangan. Ada yang menyeruak di dada ini. Aku paling tidak bisa mendengar kesewenangan seperti ini. Bahkan aku pernah memecat seorang direksi perusahaanku yang mengambil keputusan sejahat ini juga.


"Ayah bisa jadi orang yang paling terpukul waktu itu. Tapi kita selalu nggak punya kekuatan untuk melawan orang-orang kaya kan."


Dia kembali menghapus air mata. Ada luka yang jelas terlihat saat dia menyebut kata 'orang kaya'. Abi Yahya benar, Adinda menyimpan trauma besar terhadap orang kaya. Mungkin sebab hal seperti ini yang ia lihat sejak kecil. Bahkan dari ibunya sendiri. Lalu orang kaya yang ia bilang meruntuhkan masjid paling berharga dalam hidup Ayahnya.


"Dii nggak akan ngelupain hari itu. Waktu pertama kali Dii lihat Ayah nangis. Selama hidup Dii, Dii selalu melihat Ayah yang tegar dan kuat. Sehebat apapun ujian hidup Ayah. Tapi hari itu, Dii benar-benar melihat Ayah terluka. Dan itu jadi luka Dii juga." Dia menoleh padaku.


Ya, aku melihat luka itu, di matanya.


Aku masih memandangnya. Mendengarkan. Lalu memahami, ada orang-orang yang benar-benar mempersembahkan dirinya untuk melayani rumah ibadah. Seperti Pak Adi dan Adinda. Mencintai pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata itu, seumur hidup.


"Kata Ayah, salah satu mimpi Ayah adalah selalu tinggal di dekat masjid. Kayak rumah ini. Benar-benar dekat sama masjid. Biar bisa tiap waktu ke rumah ibadah itu. Ketenangan yang nggak ada duanya. Impian besar Ayah. Makanya Ayah dan Dii waktu itu juga nggak bisa bayangin kalau akhirnya lokasi ini malah dibangun mall." Dia menggeleng.


"Untungnya, sesaat sebelum pondasi mall itu didirikan, ada pengusaha lain yang nyelamatin. Ngajuin banding sengketa atau gimana lah, Dii nggak terlalu faham. Pengusaha ini ngebela habis-habisan di banding pengadilan supaya perusahaan jahat tadi mau ngelepasin tanah ini, lalu membeli kembali tanah itu, pakai dana pribadinya. Cuma karena mau ngembaliin masjid yang sudah dirubuhin. Simpatinya tinggi sekali. Kita semua berterimakasih banget sama beliau sampai sekarang. Beliau ngelakuin itu cuma karena tahu betapa cintanya masyarakat di sini sama masjid yang berdiri sebelumnya. Dan lokasi ini paling strategis buat jadi lokasi masjid. Bukannya mall. Nggak ada lagi tanah lapang di sekitar sini. Jadi kalau nggak ada masjid di sini, jauh banget masjid buat semua orang."


Aku semakin tertarik mendengarkan.


"Pengusaha itu akhirnya memenangkan banding. Dan perusahaan sebelumnya mau nggak mau harus ngelepasin tanah itu. Lalu beliau membangun masjid lagi di lokasi yang sama, Masjid Almira Tiga, masjid ini." Adinda menunjuk bangunan masjid di hadapan kami sekarang. Terbit senyum tipis di bibir tipis kemerahannya.


Aku mendongak, menatap kubah masjid. Ikut tersenyum.


Sekaligus meresapi, ternyata ada manusia sebaik orang yang membela dan membangun masjid ini. Sangat salut rasanya.


"Apalagi Ayah. Ayah bahagia sekali dan selalu menaruh hormat sama Tuan Aldo. Kata Ayah, dia panutan manusia sebenarnya. Keras dalam membela orang-orang lemah."


"Tuan Aldo?" Aku mengulangi. Bertanya.


Adinda mengangguk.


"Pengusaha yang membangunkan masjid ini, untuk kita semua. Benar-benar baik. Harta kekayaannya yang nggak sia-sia. Masjid ini dibangun pakai dana pribadinya. Hanya sedikit masyarakat yang menjadi donatur. Tapi secara keseluruhan, beliau sendiri yang biayain, semuanya." Adinda tersenyum lagi saat menyebut sosok itu.


Membuatku penasaran. Aldo? Seperti tidak asing.


Aku juga tersenyum, baru menggerakkan tangan yang kupangku untuk menghapus sisa air mata di pipinya ketika ia menyebutkan nama lengkap sosok itu. Membuatku tersentak.


"Tuan Aldo Amagatta. Kata Ayah, Dii harus menghormatinya karena kemuliaan yang sudah ia lakukan buat bangun masjid ini. Ngembaliin Masjid At Taqwa yang dirubuhkan beberapa waktu sebelumnya. Jadi semua orang bisa ibadah lagi di sini, anak-anak bisa ngaji lagi." Adinda mengangkat muka, melihat padaku. Tersenyum.


Aldo Amagatta?


Ada yang menghantam alam sadarku tiba-tiba. Menghentak kuat. Seperti memutar satu memori kusut di kepalaku. Membuat tanganku bergetar detik ini. Dan aku urung menghapus sisa air mata di pipi serta kedua sudut matanya.


"Kapan kejadian itu?" Aku menatap lekat Adinda, dengan tangan bergetar dan hati yang gentar.


“Hmm? Tiga tahun lalu.” Dia menjawab.


Dan detik ini juga aku merasa seperti dihantam oleh semburan kekacauan yang amat menakutkan.


Tiga tahun yang lalu? Berarti....


Aku menelan saliva dan tak lagi meneruskan bicara atau bertanya. Jantungku berdetak kuat. Terdiam.


Aku memastikan dia sudah tertidur lelap. Baru beranjak pelan membuka handphoneku. Melakukan pengecekan terhadap file-file lama. Tentang rekam kejadian tiga tahun lalu.


"Tuan Alfadi Edibagaskara. Putra mahkota keluarga Edibagaskara. Pemain baru? Dan mendapatkan kekuasaan baru? Atas nama perusahaan ini." Hari itu, seorang pria berwajah tegas menghampiriku di ruang kerjaku. Mengenakan setelan khas seorang pimpinan besar.


Aldo Amagatta. Sosok tesohor yang berkali mendapatkan penghargaan sebagai pengusaha sukses tanah air. Wajahnya sangat tidak asing. Bahkan aku menjadi pengagumnya sejak kuliah meski belum pernah bertemu secara langsung.


Ya, aku kerap membaca profil dan sepak terjangnya di majalah-majalah bisnis. Sangat menginspirasi. Usianya baru 32 tahun tapi sudah mengantongi segudang prestasi hebat.


Suatu kehormatan ia menghampiriku untuk pertama kali seperti ini. Aku malah sudah lama bermimpi untuk bisa bertemu langsung dengannya.


Tapi mengapa dia menghampiriku dengan raut dan ucap sesinis itu?


Dia memajukan tubuh di hadapan mejaku. Dengan sorot mata tajam menyemburkan kemarahan. Sambil mendorong sebuah map coklat ke muka meja yang kuhadapi.


"Apa sebesar itu ambisi Anda untuk diakui secara cepat? Walau dengan mengorbankan nurani?!" Kalimatnya menghentakku.


Aku masih terdiam. Belum mengerti.


"Aku mewakili masyarakat sekitar lokasi rencana pembangunan mall dari proyek perusahaan Anda.


Mengajukan banding ke pengadilan." Dia menggeleng. Tegas menatapku. "Kuharap Anda masih memiliki hati. Setelah merobohkan masjid yang dibela mereka mati-matian. Setidaknya, Anda bisa menahan diri untuk tidak justru membangun pusat perbelanjaan di sana. Fahami kondisi setempat sebelum mengambil keputusan hebat, anak muda! Tidak semua hal bisa dinilai dengan uang!"


Lalu ia berbalik dan pergi, keluar dari ruanganku.


Meninggalkanku yang terdiam tidak faham. Cepat membuka map coklat yang ditinggalkannya.


Apa ini?


Pengajuan keberatan dari masyarakat setempat lokasi rencana pembangunan proyek mall dari perusahaan ini?


Ya, aku tahu. Proyek ini sedang berjalan. Aku yang menandatangani berkas-berkas persetujuannya. Atas desakan penanggungjawab yang ditugaskan Papi 'membimbingku' sebagai CEO baru di perusahaan ini.


"Anda bisa segera menandatangani ini, Pak Alfa," ucapnya dua bulan sebelumnya. Di hari awal aku menjalankan tugas sebagai pimpinan tertinggi perusahaan ini. Selulus kuliahku dan saat Papi jatuh sakit.


"Apa ini?"


"Berkas persetujuan proyek terbesar kita tahun ini, Pak Alfa. Akan segera kita laksanakan setelah persetujuan Anda. Semua sudah dipertimbangkan dan diselesaikan. Hanya butuh tanda tangan Anda sebagai finalnya."


Aku membaca berkas dengan teliti. Proyek pembangunan mall di lokasi tanah warisan keluargaku, almarhum Eyang Edibagaskara.


"Di sini tertulis, tanah itu dipinjamkan dan digunakan oleh masyarakat sekitarnya. Dibangun masjid? Artinya akan ada penggusuran?" Aku mengernyit keberatan.


"Ya, benar sekali, Pak. Tapi tenang saja. Kita sudah melakukan dialog damai. Lagipula itu sudah masjid tua yang nyaris tidak digunakan lagi oleh masyarakat di sana. Malah mereka mendukung rencana kita karena pasti akan meningkatkan taraf hidup mereka juga."


"Dimana berkas persetujuan dari masyarakat pengguna lahan?" Aku kembali harus memastikan. Agar tidak salah mengambil keputusan. Walau Papi sudah menjelaskan kalau Pak Pranata akan menjadi 'mentorku' selama masa beradaptasi dengan jabatan baruku di perusahaan ini.


"Oh, ini, Pak. Sudah lengkap. Tinggal kita eksekusi." Ia menunjukkan berkas-berkas dibubuhi tanda tangan persetujuan dan dukungan dari masyarakat sekitar lokasi itu. Ternyata memang sudah disiapkan.


Tapi aku tidak tahu, apakah berkas ini asli suara hati masyarakat di sana atau ulah oknum tertentu yang memiliki kepentingan saja? Aku harus tahu secara mendetail.


Aku mengangguk. Menutup pulpen. Urung menandatangani.


"Baik. Saya akan turun ke lokasi dulu," ucapku hendak menutup berkas di hadapan.



"Oh tidak perlu, Pak Alfa." Ia menahanku.


"Kenapa?"


"Semua sudah beres. Lagi pula, masih banyak yang harus Anda kerjakan. Proyek ini bagian tanggungjawab saya, Pak."


Alasan-alasan kuat soal 'beradaptasi' dan deretan tugas lain yang harus kuselesaikan, mencegahku untuk turun ke lokasi proyek itu.


Aku merasa sangsi tapi instruksi Papi justru memaksaku untuk percaya sepenuhnya. Mempercayakan apapun yang dikatakan Pak Pranata.


Ya, aku akhirnya percaya. Memuluskan proyek perusahaan. Hanya membubuhkan tandatangan dan menyerahkan eksekusi pada Pak Pranata sepenuhnya, seperti yang ia katakan. Karena dia menjadi orang kepercayaan Papi selama ini. Dan aku pun masih mempelajari segalanya.


Aku sungguh tidak tahu, semua berkas persetujuan yang ia tunjukkan hanya rekayasa. Ya, semua bisa dimanipulasi demi terlaksananya proyek besar itu.


"Jika proyek ini berjalan mulus, perusahaan kita akan mendapatkan keuntungan sangat besar, Pak." Ia mengangguk puas sambil berlalu setelah kutandatangani berkas itu.


Sesuatu yang belum begitu kufahami. Aku hanya percaya padanya. Meski secara hukum, namaku yang tertera, sebagai penanggungjawab utama.


Aku sungguh tidak tahu, kebusukan dan pembohongan yang dilakukan Pak Pranata. Demi ambisinya atas proyek itu. Mega proyek perusahaan kami.


Aku meremas tangan tuntas membaca semua kenyataan, dari apa yang ditunjukkan sosok tegas yang menghampiriku, Aldo Amagatta. Dua bulan kemudian.


Segera aku menekan tombol panggilan pada seseorang yang paling bertanggungjawab atas proyek ini. Dan membohongiku atas ini semua.


"Tuan Pranata, Anda dipecat mulai hari ini. Secara tidak hormat!"


Aku memandang sosok di hadapanku dengan suara menekan. Menahan buncah kemarahan atas kebohongan yang dia lakukan, atas namaku.


Aku melepaskan tanah sengketa tanpa perlawanan. Setelah itu aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh seseorang yang sebenarnya kukagumi itu, Aldo Amagatta. Terhadap tanah yang mati-matian dibelanya.


Ternyata inilah yang dia lakukan, membangun kembali masjid di lokasi ini. Dan aku yang kini sedang melakukan penyamaran, sebagai marbot di tempat yang sama.


Ya, inilah tanah yang dibicarakan Adinda.


Da secara hukum, aku adalah pelaku yang melakukan penggusuran terhadap Masjid At Taqwa, yang sangat melukai Pak Adi dan Adinda.


Ya, Tuhan, kenapa bisa begini? Bagaimana aku menjelaskan semua ini?


Aku meremas batok kepala. Memandanginya yang terlelap. Cantik. Dan teduh sekali, wajahnya. Aku benar-benar jatuh cinta padanya.


Bagaimana jika semuanya terbongkar? Apa kamu akan percaya padaku, Adinda?


Bersambung ...16