Just another free Blogger theme

Sunday, August 10, 2025

 (21) MARBOT ITU TERNYATA CEO


Penulis: Lea


Saat Terakhir





Hari beranjak siang dan aku belum juga kuasa melangkahkan kaki untuk pulang. Padahal biasanya aku akan menengoknya dalam beberapa waktu di rumah yang hanya berjarak beberapa jengkal dari masjid ini. Membantunya membuat kue atau sekedar menanyakan keadaan hatinya.


Ya, dia masih membuat kue untuk beberapa pelanggan setia karena memasak adalah hobinya. Asal dia senang. Aku cuma ingin selalu melihat dia bahagia. Hanya tidak lagi berjualan kue dengan usaha keras di pinggir jalan sambil berpanas-panasan seperti dulu.


Kemarin pun aku masih menemaninya membuat kue, walau hanya membuat sedikit saja.


Hanya ingin membersamai.


Aku yang di matanya sangat perhatian dan lelaki terjujur selain ayahnya. Itu yang dia bilang semalam, sambil menatapku dengan malu dan senyum terkembang yang begitu sulit kulupakan. Usai kejadian paling pribadi di hidupnya. Dan hidupku. Di dalam kamar itu. Padahal aku belum jujur bilang yang sebenarnya. Dan malah semakin ragu untuk mengaku setelah dia mengatakan hal itu. Penilaiannya, atasku.


Aku memasuki kamar lamaku. Kamar khusus marbot di masjid ini. Ruangan sederhana yang sudah kutinggalkan sejak menikah dengan Adinda.


Baru saja aku menerima telepon dari Handi. Sebuah pengingat kalau aku harus segera kembali, ke kehidupan nyataku. Sungguh nyaris satu bulan sudah aku di sini.


Waktuku, sudah hampir habis.


Proyek-proyek perusahaan yang terpaksa dipending sampai jadwal kembaliku sudah diatur sejak awal oleh Handi. Dengan alasan cuti khusus yang kurancang dengan demikian rapi.


Aku harus kembali. Banyak sekali yang menungguku. Proyek-proyek


tertunda perusahaan itu, yang jika kuabaikan semua, tak sesuai janji penundaan satu bulan ini, akan sangat mungkin mengacaukan citra perusahaan. Bahkan bisa merusak segalanya.


Kebangkrutan satu perusahaan? Ya, bangkrut artinya melepaskan banyak kemewahan. Bukankah itu yang kuinginkan, lepas dari kekayaan?


Memang itu yang kuharapkan, jauh dari gelimang kekayaan bangsawan sebab aku bosan dengan kehidupan seperti itu. Tapi tidak dengan cara memalukan, bangkrut sebab dicap sebagai pengusaha pengingkar janji. Lantas mengecewakan Papi dan Mami. Juga mengecewakan semua yang menunggu kembaliku di kehidupan nyataku.


Aku ingin lari dari kehidupan mewah itu. Tapi bukan dengan cara menjadi sosok yang tak bisa dipercaya dan tak bisa dipegang janjinya.


Aku tak akan jatuh miskin oleh kekacauan yang bakal terjadi pada perusahaan jika menunda pulang dan pada akhirnya melepaskan proyek- proyek itu.


Dengan kekayaan tujuh turunan keluarga, kami tak akan jatuh miskin hanya sebab ini. Tapi sudah pasti hal itu akan menjadi citra buruk dan lenyapnya kepercayaan tak terlupakan bagi semua pihak yang terlibat. Padahal selama ini, ketepatan janji adalah hal yang dijunjung tinggi oleh keluargaku. Menjadi prinsip atas hal apapun.


Semua akan kecewa dan hilang kepercayaan, padaku. Dan itu, akan menyakiti Papi Mami yang sudah memberiku kesempatan pergi tak mau dihubungi, satu bulan ini.


Setertekan apapun aku dengan keadaan selama ini, aku tak pernah bisa melihat kekecewaan orang tauku. Itu sebab aku selalu menjadi sosok penurut. Apapun yang dikatakan orangtuaku selalu kuikuti. Meski dengan mengorbankan perasaanku sendiri selama ini.


Saat dilarang dekat dengan perempuan apalagi sampai menjalin hubungan, aku menurut. Sejak sekolah sampai aku bekerja. Meski memberontak dalam hati dan di lingkungan pergaulan justru jadi bullyan.


Saat Papi dan Mami memerintahkanku untuk menjaga citra, wibawa, dan nama baik keluarga, tidak pernah terjun dalam dunia musik meski aku menyukainya, aku juga menurut.


Begitupun dengan arahan agar aku menekuni pendidikan dan karir bisnis, melanjutkan estafet kepemimpinan perusahaan, aku menuruti. Meski belakangan merasa sungguh jenuh tak tertahankan. Hingga aku melarikan diri dari semua itu, melakukan penyamarann sebagai marbot masjid di sini Dalam niat awal, hanya untuk satu bulan. Mana kutahu ternyata demikian jauh aku merasa nyaman, di sini, dalam kehidupan sederhana ini.


Tapi untuk kepergianku ini pun, aku meminta ijin lebih dulu pada Mami dan Papi. Mengajukan permintaan pergi dan agar tak dihubungi, dalam satu bulan. Itu permintaan terhebatku seumur hidup.


Aku selalu penurut dengan mereka. Sebab aku tahu sekali, hanya aku harapan Mami dan Papi. Aku menanggung beban anak tunggal dan putra mahkota. Satu-satunya. Ya, beban. Siapa bilang menjadi pewaris tunggal selalu tentang keberuntungan?


Aku selalu menuruti, kecuali dalam hal pilihan gadis-gadis bangsawan yang belakangan ditawarkan untuk menjadi pendamping hidupku. Hanya hal itu yang tak kuturuti. Tapi itu pun sebab Mami dan Papi tidak memaksa. Hanya memperkenalkan satu gadis ke gadis lainnya. Lantas memintaku untuk menjatuhkan pilihan pada salah satunya. Hanya itu. Jadi dalam hal ini, aku pun tidak membantah mereka.


Namun takdir justru membuatku menikahi Adinda sebelum mendapat restu dari dua orang yang paling kuturuti seumur hidupku, Mami dan Papi, yang sungguh tak pernah kubantah perintahnya.


Tapi aku benar-benar mencintai Adinda. Tidak ada dusta dalam perasaan ini. Hanya saja kebohongan ini terasa mematikan sebelum berhadapan dengan kenyataan.


Aku sudah bertekad untuk memberi waktu dan mempersiapkan Adinda agar bisa menerima segalanya. Tentangku dan alasan kebohonganku. Sampai ia bisa merasakan kucintai dan membalas perasaan dengan mencintaiku sepenuhnya juga. Mengulur waktu sampai aku melihat semua itu. Barulah berjuang berdua, membuat pengakuan pada Mami dan Papi.


Bahkan aku terus-terusan 'menahan diri darinya. Hanya agar ia tak merasa sedang kumanfaatkan sementara.


"Kanda, kasihan Tita. Dinikahi lelaki bernama Wendi itu hanya untuk jadi pemuas sesaat aja. Mendapatkan perawan. Tadi Tita bilang, lelaki itu ngaku nggak mau main nakal dengan perempuan murahan karena nggak mau kena penyakit. Jadi malah menikahi siri Tita dan cuma untuk dijadikan mainan aja. Itu jahat sekali kan, Kanda? Orang kaya suka begitu ya? Mempermainkan pernikahan hanya untuk kesenangan. Ada juga gadis lain di sini yang ngalamin hal serupa Tita. Lebih sadis, Kanda. Alasannya karena dendam sama orangtuanya."


Kalimat Adinda beberapa hari lalu terngiang jelas di telingaku.


Orang yang bisa.


Pernikahan serial.


Gadis perawan.


Baru saja dimainkan.


Itukah kesimpulan atas semuanya?


Argh!


Aku meremas batok kepala. Setelah kejadian semalam, aku malah semakin mencintainya. Menyatu dalam satu jiwa seutuhnya.


Tapi... aku belum jujur. Seharusnya aku jujur dulu, mendapat restu kedua orangtuaku, baru melakukannya.


Setidaknya, jikapun tak direstui dan terjadi hal di luar kendali, aku tidak benar-benar menyakitinya. Dengan apa yang kulakukan semalam.


Meski aku tahu, sebenarnya itu bukan suatu dosa. Dia telah sah menjadi istriku secara agama. Halal kuibadahi sejak kuikrar akad menyebut namanya. Bukan zina. Tapi kenyataan tidak sesederhana itu.


Setelah semua ini terjadi, apa kamu masih akan percaya padaku, Adinda?


Bagaimana jika ia merasa hanya kujadikan mainan dan pelampiasan sebagaimana yang dilakukan Wendi pada Tita?


Dan bagaimana jika Papi Mami ternyata tak bisa menerimanya?


Apakah cintaku akan menyakiti dan kembali melukai takdir hidup Adinda? Wanita yang sangat kucintai


Maafkan aku, Adinda.


Handphone yang selama ini kusembunyikan dari Adinda bergetar di saku celana. Siapa yang menghubungi? Hanya Handi yang mengetahui nomor baruku ini dan ia tak akan menelpon sebelum kuijinkan via chat. Untuk mengabarkan jika ada hal yang benar-benar penting.


Aku menghentikan langkah yang baru saja menjajak lorong di depan kamar, kembali masuk dan mengunci pintu. Lantas mengeluarkan handphoneku dan menemukan panggilan dari nomor yang begitu kuhafal.


Telepon dari Papi.


Ada ragu yang menyergap. Kenapa Papi menelpon? Dan bagaimana Papi tahu nomor handphone baruku ini?


Pasti Handi yang memberikan. Dan aku hanya mengijinkannya memberi nomor ini pada Mami Papi jika ada hal yang benar-benar penting dan mendesak saja.


Mami dan Papi pun sangat bisa memegang perkataan. Jika sudah menyepakati dan berjanji tak akan menghubungiku dalam satu bulan ini, memberiku waktu untuk menyendiri seperti inginku, maka bisa kupegang janji mereka. Itu prinsip keluarga kami, memegang janji.


Sekarang, kenapa Papi menelpon?


Ada resah lain yang tiba-tiba menyergap. Diliput tanda tanya yang membuatku menebak-nebak.


Mungkin Papi hanya rindu padaku.


Atau


"Halo, Pi. Apa kabar?"


"Alfa?! Cepat pulang! Sekarang! Mami kecelakaan. Ini darurat. Kamu dimana? Cepat kembali, Alfa!"


Mami?


Kecemasanku benar-benar meledak detik ini.


Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit. Dengan kekhawatiran memenuhi seluruh tubuh ini. Mencari ruangan yang dikabarkan Papi tadi. Ruang operasi Mami.


Mami. Sosok anggunnya melintas nyata di kepalaku. Seperti memanggilku untuk segera datang.


Kurasakan hawa panas menyergap mata. Aku takut sekali terjadi sesuatu yang amat buruk pada Mami.


Mami kecelakaan lalu lintas. Bertabrakan dengan pengendara lain sampai mobil Mami terguling masuk ke jurang. Beruntung Mami sempat keluar. Tapi dalam kondisi... entah.


Bayangan Mami yang selalu menyertaiku, saat apapun. Keposesifannya. Semua aturan ketat yang terasa menjemukan bagiku selama ini. Mengekang. Tapi aku tahu, aku sangat tahu, Mami teramat menyayangiku.


Seperti aku menyayanginya.


Dadaku berdetak kuat sekali. Cemas tak terbendung.


Langkahku berhenti tepat di depan Papi yang baru saja selesai bicara dengan dokter di depan pintu ruang operasi.


Papi berbalik. Lalu langsung memelukku.


Papi yang kuat kini menitikkan air mata.


"Alfa, Mami


Aku tak berani mendengarkan. Jika ini berita buruk dan menyakitkan.



Bersambung...22

Monday, August 4, 2025

 (20) MARBOT ITU TERNYATA CEO


Penulis: *Lebah Ratih*

Sayang Kamu






Mata yang sendu itu, terlihat mengantuk. Tentu saja, ini sudah tengah malam. Apalagi tadi Tita datang cukup lama. Sekarang bukan lagi saat yang tepat untuk memberikan penjelasan terhadap hal serius tentangku.


Aku menggeleng. Dengan hati lebih lega. Ya, setidaknya aku tahu, dia akan memberikan kesempatan untukku memberikan penjelasan. Besok atau lusa, di moment yang lebih tepat untuk membicarakan ini semua.


"Nanti aja. Ngantuk kan?" Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu lagi kutanyakan. Sudah jelas terlihat.


Dia mengerjap lagi. Dengan mata berat.


Aku mengulurkan tangan lalu mengajaknya masuk ke kamar. Hingga dia terlelap tenang.


Satu malam lagi terlalui dengannya. Meski dengan penjelasanku yang tertunda.


Memandangnya yang tertidur di sebuah kamar sederhana. Begini saja, sudah cukup membuatku bahagia.


Esoknya, seperti biasa. Dimulai dengan makan sahur bersama. Cukup terburu-buru sebab sedikit kesiangan akibat tidur kemalaman. Aku juga harus membangunkan orang-orang lewat speaker masjid.


Kuhabiskan makan sahurku dengan cepat lalu beranjak menuju masjid. Melaksanakan tugasku.


Hingga waktu dhuha, aku masih di sana. Menyusun buku-buku di ruang perpustakaan yang masih menjadi satu bagian dengan bangunan masjid.


Aku sedang merapikan buku-buku ketika Adinda masuk dan cekatan membantu. Ya, dia memang acap membantu pekerjaanku. Apalagi setelah pernikahan kami. Tidak ada jarak dan batasan jauh seperti dulu. Tidak apa-apa meskipun kami ada di ruangan yang sama hanya berdua. Semua orang di sini sudah tahu kalau aku sudah menikah dengannya.


Aku dan Adinda biasa mengepel masjid berdua, menyusun sajadah bersama, menata takjil sambil bercanda. Semua waktu yang terasa makin bermakna dan berbunga, di hati ini rasanya.


Setiap hari yang kian berarti. Dan semakin ingin kuberikan kebahagiaan-kebahagiaannya yang selama ini harus tertunda.


Dia sejak dulu, suka sekali belajar. Ingin melanjutkan pendidikan tapi tak pernah memiliki kesempatan. Sibuk mengurus Ayahnya sembari mengumpulkan uang untuk biaya hidup dan biaya rumah sakit.


Sampai sekarang, buku-buku pelajaran SD dan SMP nya (yang tidak sampai lulus itu) masih ia simpan dengan rapi di rumah. Lalu masih ia sempatkan mengulang-ulang pelajaran lamanya itu. Latihan soal. Dan sebagainya.


Tahu nggak sih, nyesek lihatnya.


Sebesar itu keinginannya untuk sekolah tapi harus terputus di tengah jalan. Bikin aku nggak tega. Padahal banyak kan anak-anak lebih beruntung yang malah malas-malasan sekolah dan belajar.


Aku berjanji dalam hati. Nanti akan kutemani ia mengejar paket kelulusan, SMP dan SMA. Lalu mendaftarkannya kuliah jika ia menginginkan. Aku ingin memenuhi mimpi- mimpinya yang sempat tersandra oleh waktu.


Masih juga kerap kulihat ia menatap sangat lama pada anak-anak sekolah yang berlalu di hadapannya. Apalagi jika ada sekumpulan mahasiswa-mahasiswi mengenakan almamater kampus mampir ke Masjid Almira Tiga tempat kami berada.


"Kuliah tuh rasanya gimana ya?" Tanyanya suatu kali. Sambil menatap pada beberapa mahasiswi dengan almamater sebuah kampus negeri kota ini yang singgah di masjid.


Aku menoleh, menatapnya yang tak mengalihkan pandangan dari objek-objek yang menakjubkan baginya itu. Dengan pandangan penuh harap. Gadis-gadis yang jauh lebih beruntung darinya. Aku tahu, Adinda juga menginginkan seperti itu, menjadi mahasiswi seperti mereka.


Dia menoleh ke arahku setelah beberapa waktu. Aku yang hanya diam.


"Itu... normal," jawabku sambil membuang muka. Aku tak ingin dia melihat sorot mataku yang terbawa suasana setiap kali aku melihat semua pernyataan tentangnya. Kemalangan nasibnya.


Memberikan jawaban sekenanya yang bisa melegakan hati.


"Biasa aja?" Tanyanya. Menatapku.


"Iya, biasa aja. Kuliah yah kayak sekolah. Cuma lebih bebas. Masuk kampus, belajar, tugas, praktikum, terus skripsi. Gitu-gitu doang," ucapku.


Dia mengernyit. Mendengarkanku dengan seksama. Ya, dia selalu mendengarkanku dengan seksama. Saat bicara apapun. Lawan bicara yang menyenangkan.


"Berapa lama?" Tanyanya lagi.



"Tergantung. Tiap orang akan beda. Karena kuliah itu bukan cuma soal siapa yang pintar tapi siapa yang rajin. Rajin ngerjain tugas, rajin masuk kelas, rajin konsultasi pas skripsi atau tesis."


Dia memandangku dengan sorot mata yang terasa lain.


"Kok Kanda tahu banget? Kanda... pernah kuliah?"


Oh my God. Aku tiba-tiba tersadar.


Salah. Jawabanku terlalu lengkap. Bagaimana mungkin aku menjawab 'iya'? Ya, aku bahkan sudah lulus S2 dan sedang proses persiapan melanjutkan S3.


Yang dia tahu, aku datang dari desa. Seorang diri dengan nasib malang sepertinya.


Aku berusaha secepatnya mengendalikan keadaan. Dia tidak boleh tahu kalau aku pernah menjadi anak kuliahan juga.


"Itu... ada majikan aku dulu yang cerita." Ucapku sambil mengalihkan pandangan. Di satu sisi aku merutuki lagi kebohongan yang kembali kulakukan. Padahal lagi puasa. Kenapa aku jadi berbohong lagi?


Ya, gimana lagi?


Benarlah pepatah bijak mengatakan, jangan pernah berbohong. Sebab satu kebohongan yang diciptakan hanya akan melahirkan kebohongan-kebohongan selanjutnya.


Dia mengangguk.


"Oh, majikan Kanda waktu jadi supir itu ya?"


Dan aku ikut mengangguk juga. Sambil meremas tanganku sendiri di balik meja. Meredakan perasaan bersalah yang mendera.


"Buku ini bagus loh, Kanda. Sudah baca?" Ia menunjukkan sebuah novel islami ke arahku saat membantu menyusun buku-buku di perpustakaan.


Aku melihat pada buku yang ia tunjukkan.


"Oh ya?" Sebenarnya, aku bukan penggemar fiksi. Tapi demi menyenangkan hatinya, buku itu kusambut juga.


Dia mengangguk.


Aku membaca judul novel yang ia tunjukkan. Tajwid Cinta, Hadwan-Kafiya karya penulis yang juga masih asing di telingaku... Lebah Ratih.



"Dii sudah baca ini. Isinya banyak pesan-pesan kehidupan. Banyak dapat testimoni dari penulis-penulis senior. Sampai nangis Dii bacanya. Baper banget isinya tapi malah jadi penyemangat waktu Dii pernah mempertanyakan soal takdir." Dia menunjuk satu quotes di sampul depan novel itu.


Aku membacanya. "Kita tak selalu bisa memilih takdir. Tapi kita selalu memiliki pilihan untuk menghadapinya."


Kalimat itu, terasa langsung di hatiku. Tidak bisakah kita selalu memilih takdir? Ya, seperti takdirku yang terlahir dari keluarga bangsawan yang membuatku merasa jenuh dan bosan. Seperti nasib Adinda yang lahir dari ibu yang tidak menyangkanya dan nasib merawat ayahnya dengan mengorbankan masa depannya sendiri.


Tapi kita selalu memiliki pilihan untuk menghadapinya. Aku terdiam lama membaca kalimat itu.


Lalu menoleh lagi pada Adinda.


"Pernah Dii hampir putus asa. Waktu Dii lagi sedih sekali. Terus pas baca novel ini jadi kuat lagi. Pesannya nyampe banget. Nguatin. Kita tak selalu bisa memilih takdir kita. Tapi kita selalu memiliki pilihan untuk menghadapinya. Semua yang kita pikirkan dalam menghadapi takdir kita, ya jadi pilihan hidup kita sendiri. Waktu takdir ternyata nggak sesuai sama keinginan kita. Kita selalu punya pilihan untuk ngadepin takdir itu seperti apa. Dan Dii memilih untuk bersabar. Nggak menyesali keadaan. Jadi lihat peluang-peluang. Dii belajar buat kue-kue terus dijual. Ternyata itu membahagiakan. Terus bisa jadi jalan rejeki juga." Dia tersenyum manis.


Sementara aku mendengarkan, dengan hati yang rasanya teriris. Tersindir sekali. Betapa aku selama ini, banyak sekali mengeluhkan takdirku. Sampai lari dari semua itu.


"Kanda suka baca novel nggak? Baca ini yah," ucapnya lagi. Menunjukkan novel tadi.


Aku mengangguk. Membaca novel untuk kali pertama. Novel Tajwid Cinta. Dan ternyata memang seperti yang disampaikan Adinda. Aku menemukan pemahaman yang jauh berbeda usai menuntaskannya. Novel itu, tentang kisah seorang pemuda dengan garis takdir tak sesuai harapannya.


Setelah itu, aku jadi lebih mensyukuri hidupku.


Adinda yang menunjukkan ini semua. Dia, bidadari dunia dan akhiratku, yang sedang kuambil hatinya. Agar di saat tepat saat ia meyakini aku sepenuhnya, ia akan bisa menerima kejujuran yang akan kusampaikan seluruhnya.


Aku tidak sedang menunda-nunda untuk jujur. Hanya saja sedang mencari waktu yang benar- benar tepat. Sebagai pebisnis aku sangat memahami prihal ini. Banyak hal bisa jadi gagal sebab tak tepat moment dan waktunya. Begitu pula dalam hal kejujuranku pada Adinda.


Bulan Ramadhan hampir habis sudah. Artinya, waktuku di sini hampir habis jua. Dan dia semakin memaknaiku sebagai bagian dari dirinya. Sungguh sudah tiba saatnya untuk kukatakan segalanya.


Setelah menahan diri tak menyentuhnya agar nanti ia tak mengira aku hanya memanfaatkannya-seperti yang dilakukan Wendi pada Tita-- dan menjadi pelindung terbaik baginya, aku yakin untuk jujur malam ini. Dia juga tak pernah meminta 'nafkah batinnya'. Sepertinya wanita memang lebih pemalu untuk membahas prihal itu lebih dulu.


Lagipula sepertinya ia berpikir lurus saja, sebabnya, karena kami masih tahap saling mengenal dan mengerti. Dia nampak bahagia hanya dengan sekedar kugenggam tangannya. Cukup membuatnya tersenyum lega.


Ya, malam ini akan kusampaikan semua. Kuawali dengan menyempurnakan kebahagiaan, baginya.


Aku tahu, ia tak memiliki wacana untuk membeli baju baru meski lebaran sebentar lagi. Mungkin sejak dulu ia tak pernah memiliki baju baru bahkan.


Maka di malam yang tenang, sepulang dari sholat tarawih, kuajak ia menuju salah satu toko baju yang sudah kukontak sebelumnya.


"Kanda, kita ngapain ke sini?" Dia menghentikan langkah di depan pintu masuk toko. Nampak jelas ia tak terbiasa menginjak tempat-tempat cukup mewah seperti ini.


"Beli baju baru," jawabku.


"Beli baju? Tapi...." Dia menatapku dengan sorot mata sungkan.


"Kenapa?"


Lalu ia mendekat, berbisik.


"Kanda, belinya di pasar aja yuk. Di sini pasti mahal."


Aku mengulum senyum mendengar bisikannya


"Nggak apa-apa. Di sini aja. Sekali-sekali ya. Aku lagi ada rejeki. Habis dapat gaji mingguan juga." Aku beralasan.


Dia masih menatapku sangsi.


"Adinda. Kadang kita menolak pemberian seseorang karena perasaan yang salah. Takut merepotkan. Takut dianggap nggak tahu diri. Dan takut lain-lainnya. Padahal banyak orang justru bahagia saat pemberiannya diterima dengan senang hati. Aku cuma pengen ngasih sesuatu buat kamu, masa nggak boleh?"


"Tap-"


"Ini pelajaran dari Kakanda untuk Adinda. Didikan dari suami untuk istri Kanda ini." Aku tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya. Membuatnya merona lalu mengangguk setuju. Tidak membantah lagi. Sepertinya ini akan ampuh jika ingin membuatnya setuju. 'Didikan suami untuk istri'. Dia langsung setuju jika kukatakan itu.


Pemilik toko yang sudah kutemui dan kuberikan pembayaran besar di muka, menyambut kami dengan ramah sekali. Segera mengarahkan pada Adinda untuk memilih baju-baju di ruangan luas ini.



Adinda nampak sangat sungkan mengikuti. Menatap takjub ke sekeliling. Tangannya terasa dingin dalam genggamanku. Balik menggenggam erat. Dia sungguh belum terbiasa. Jangankan untuk memilih pakaian, berada di ruangan mewah yang sebenarnya dalam standarku tidak terlalu mewah ini saja sudah cukup membuatnya bahagia serta grogi sekali nampaknya.


Aku mengangguk. Kembali memberikan 'didikan seorang suami pada istri'. Agar ia tidak menolak lagi, memilih pakaian mana saja yang dia inginkan.


Aku menatapnya dengan pandangan teduh. Sambil memusut punggung tangannya sampai ia merasa lebih santai.


Pemilik toko mencocok-cocokkan berbagai pakaian padanya. Lalu mempersilakannya untuk mencoba di ruang ganti.


Baru masuk ruang ganti, keluar lagi.


"Yang ini aja, Kanda," ucapnya sambil menunjukkan sepasang pakaian muslim padaku. Pakaian muslim warna putih bersih dengan motif elegant sederhana. Ya, seperti itu memang seleranya. Ditambah sebuah jilbab panjang berbahan halus. Cantik.


"Sudah dicoba?" Aku mengernyit.


Dia menggeleng.


"Nggak, Kanda. Nanti di rumah aja. Dii malu ganti baju di sini. Gimana kalau ada yang ngintip?" Katanya dengan berbisik. Menunjuk pada ruang ganti yang hanya tertutup gorden tebal. "Ini cukup kok buat Dii. Yang buat Kanda juga nih." Dia meyakinkan. Menempelkan gamis putih berbahan halus itu ke depan tubuhnya.


Pemilik toko sekali lagi menawarkan untuk dia mencoba di ruang ganti dan ia menolak. Aku tahu alasannya. Takut ada yang ngintip. Ia tak akan nyaman berganti baju di toko seperti ini. Istriku yang pemalu.


Hanya sepasang baju. Dia menolak saat kutawarkan baju yang lain.


"Udah, Kanda ini aja cukup." Dan aku tidak lagi memaksa.


Pemilik toko menawarkan pakaian rumahan untuknya. Sebuah dress dengan corak bunga- bunga. Panjangnya hanya selutut dan tanpa lengan, seperti bahan kain daster, hanya nampak lebih elegant.


"Walau di luar rumah berjilbab, kalau di rumah enggak kan? Nah ini enak banget bahannya buat santai sehari-hari di rumah. Nggak panas dan ringkas," jelas pemilik toko. Tersenyum ramah.



Kali ini aku yang mengangguk. Dress rumahan yang sepertinya akan sangat cocok dipakai oleh Adinda. Aku mengambil dress itu lalu memasukkan dalam paper bag yang sudah dipegang oleh dirinya, tanpa ia sempat menolak lagi.


Kami pulang, dengan senyuman bahagia yang tak henti mewarnani wajahnya. Berulangkali bilang 'terimakasih' padaku. Baju baru pertamanya.


Aku bahagia sekali melihatnya sebahagia itu.


Sesampai di rumah, seperti tidak sabar, ia masuk ke kamar dan mencoba baju baru yang baru saja kami beli tadi. Gamis putih dengan renda cantik dan jilbab berbahan halus yang sangat cocok ia kenakan. Memintaku untuk mencoba setelan koko. Memang pas di tubuhku juga meski tidak dicoba dulu tadi. Ya, dia memang pandai melakukan perhitungan.


Kami sama-sama tersenyum, berdiri di ruang tamu.


"Cocok nggak?" Tanyanya masih dengan wajah berbinar.


Aku menagngguk. Menatapnya.


"Cocok banget." Aku membenarkan posisi jilbabnya. Merapikan bagian jilbab yang terjulur ke depan tubuhnya. Membuatku hampir lupa kalau aku masih harus 'menahan diri'.


Aku cepat menarik tangan dan berpaling.


Dia nampak manis sekali dengan gamis dan jilbab baru itu. Suasana hatinya sedang baik dan ia sudah begitu percaya denganku, setelah kebersamaan kami beberapa waktu terkahir.


Sudah kubilang, ia hanya butuh waktu dan aku yakin dia akan bisa menerima pengakuanku. Malam ini, setelah tuntas kebahagiaannya ini.


Aku membiarkannya larut dalam bahagia. Berkaca, pada kaca panjang yang memang ada di ruang tengah, bukan di kamar, makanya dia keluar. Lalu ia mengamati setiap bagian baju barunya. Sementara aku juga tak berhenti mengamatinya.


Lalu ia masuk lagi ke kamar. Kupikir untuk berganti baju. Sebab ia sudah selesai mencoba baju baru. Lama juga nyobanya ternyata.


Yah, sekarang waktunya aku bicara. Dari hati ke hati. Tentang takdirku, penyamaranku, dan semua takdir pertemuanku dengannya. Waktunya aku membuka sudut pandangnya bahwa tidak semua orang kaya hanya memanfaatkan orang miskin sepertinya. Tidak semua orang kaya jahat dan semana-mena. Waktunya aku menyampaikan segalanya.


Aku melangkah menuju kamar, membuka gorden pintu. Lalu terpaku saat ia berbalik ke arahku.


Ia sedang mencoba dress rumahan santai yang tadi juga kami beli di toko. Dengan rambut ombaknya yang tergerai cantik di sebelah bahu. Dress selutut yang sangat pas sekali di tubuhnya.


Bukan pakaian longgar yang selama ini selalu ia kenakan. Lekuk tubuhnya nampak nyata dalam balutan dress berbahan tipis itu. Pun corak indahnya membuat sempurna dia yang nampak begitu bahagia malam ini.


Tersenyum tak henti sejak tadi. Membuat rona wajahnya puluhan kali lebih cantik dari biasanya.


"Kanda, bagus ya bajunya? Dii suka. Bahannya juga dingin. Enak banget dipakainya." Ia berdiri tegak, lalu berputar di hadapanku. Menunjukkan baju barunya. Begitu bahagia.


Aku terdiam. Dalam debar yang menggedor- gedor pertahanan.


"Tolong pasangin kancing belakangnya, Kanda," ucapnya lagi. Sambil menyibak rambut dan menunjukkan bagian punggungnya. Memintaku untuk memasangkan kancing yang belum rapat seluruhnya.


Aku mengangguk. Tapi tidak melaksanakan pintanya.


Membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Menemukan diriku sendiri dalam bola mata legamnya yang bersih sekali. Aku sangat mencintainya... Adinda.


Mengangkat tanganku lalu menyentuh pipinya.


"Aku sayang kamu, Adinda," ucapku sambil menatapnya lekat.


Dia membalas tatapanku. Tersenyum manis sekali. Jauh lebih manis dari senyumnya selama ini. Di matanya, kutemukan cinta yang ia tunjukkan untukku juga.


Untuk pertama kalinya, dia merespons sentuhan di pipiku. Pemusatan lembut.


"Dii juga sayang sekali sama Kanda. Makasih ya untuk semuanya. Makasih udah gantiin Ayah jagain Dii," ucapnya dengan sorot mata memuja yang membuatku melayang sampai jauh ke angkasa rasanya.


Lalu aku lupa tujuanku menemuinya adalah untuk mengakui semuanya. Aku lupa kalau identitasku yang sebenarnya belum kusampaikan padanya.


Aku lupa untuk 'menahan diri' malam ini, detik ini. Padahal aku belum jujur samasekali.



Bersambung...21

Wednesday, July 16, 2025

 (19) MARBOT ITU TERNYATA CEO


Penulis: *Lea*



Penjelasan


🐝🐝🐝


"Adinda, aku ingin bilang sesuatu," ucapku dengan mimik serius dan suara berat.


Tak bisa kupungkiri, ada gelegak kecemasan yang melingkupi dada ini. Rasa ragu dan kekhawatiran akan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Menebak respon Adinda. Aku takut dia berubah setelah ini. Walau harapku, dia bisa menerima dan melihat ketulusan yang kutunjukkan padanya.


Ya, dia mungkin mengalami trauma pada orang kaya sejak lama, sedangkan bersamaku baru beberapa waktu belakangan ini, sekitar dua tiga minggu. Apa mungkin dalam tempo waktu sesingkat itu bisa mengubah sudut pandangnya?


Tapi aku tak bisa menunda terlalu lama. Hanya satu bulan waktuku di sini. Sebelum aku harus pergi dan kembali pada dunia nyataku sebenarnya.


Aku ingin sekali, saat kembali, aku kembali dengan membawa serta dia. Sebagai belahan jiwa, seperti saat ini.


"Ya?" Tanyanya sambil mengerjap. "Apa, Kanda?" Panggilan sayangnya untukku--Kanda, sedikit mencairkan kekakuanku.


Aku menghirup udara untuk memenuhi paru-paru. Meyakinkan dalam hati kalau semua akan baik-baik saja setelah aku mengakui semuanya. Malam ini.


"Adinda, aku ingin bilang. Sebenarnya aku-"


Tok tok tok!


Ketukkan keras dari arah pintu mengejutkan kami. Menghentikanku yang baru saja akan berbicara hal paling serius dengan adinda.



Tok tok tok!


"Kak Dinda...!" Diiringi panggilan seseorang dengan suara panik.


Tok tok tok!


"Kak Dinda, tolong dibuka...!"


Siapa?


Adinda ingin beranjak tapi aku menahan tangannya.


"Biar aku yang buka," ucapku dengan nada melindungi.


Ya, sebab ketukan di pintu terdengar tak biasa, begitu terburu-buru. Membuatku diliput penasaran dan siaga dalam waktu satu waktu.


Adinda mengangguk, lalu mengikuti langkahku.


Ketukan di pintu terdengar semakin keras. Aku memutar kuncian pintu dan membukanya.


Aku melihat wajah seorang wanita dengan ekspresi tidak yakin menatapku. Lalu aku menggerakkan tubuhku untuk melihat Adinda yang ada di belakangku.


"Tita?" Suara Adinda menghampiri sosok wanita itu.


Lalu wanita muda itu menghambur dalam pelukan Adinda. Seraya memaksaku untuk menutup pintu segera.


Sebenarnya aku ingin menahan untuk tidak menutup pintu. Sebab aku dan Adinda sama-sama tidak tahu apa alasan wanita bernama Tita ini datang di malam selarut ini. Bahkan dengan ekspresi menyimpan

sesuatu itu. Tapi sesaat kemudian, Adinda yang memintaku untuk melakukannya, menutup pintu. Menjelaskan kalau ia memang mengenal sosok wanita itu.


Akhirnya tak ada pilihan, aku pun menuruti, menutup pintu.


Berpaling. Menyaksikan pemandangan seorang wanita muda sedang menangis tersedu-sedu di pangkuan Adinda.


Ada apa?


Namanya Tita, salah satu tetangga di sekitar sini. Sejak kecil sudah berteman dengan Adinda. Ayahnya memiliki usaha produksi tahu dan Ibunya seorang ibu rumah tangga. Tita anak bungsu dari tiga bersaudara. Itu keterangan yang kudapat dari Adinda.


Malam ini ia datang, dengan raut panik, bingung, sedih, dan ketakutan yang membaur jadi satu. Seorang wanita muda yang baru saja mengetahui nasib malangnya karena begitu dibutakan cinta pada sosok pria kaya raya.


Aku mengernyit saat ikut mendengarkan ceritanya. Maksudku, dia bercerita pada Adinda. Dengan mata sembab sambil terisak-isak. Aku ikut mendengarkan, dan apa yang kudengar malah membuatku ikut gusar, menatap pada Adinda.


Tita mengaku sudah menikah secara siri dengan Wendi, seorang pria mapan kaya raya yang sebelumnya menjadi pelanggan di toko furniture ayahnya.



Singkatnya, mereka saling suka lalu Wendi merayunya. Tidak mengajak berzina karena bisa melihat Tita tergolong wanita sholeha.


Pernikahan dilakukan secara siri karena Wendi beralasan berkas-berkas identitasnya sempat hilang. Ini, sama dengan alasanku saat diminta para tetua pengurus Masjid Almira Tiga untuk mengurus pernikahan secara resmi di KUA. Aku juga beralasan begitu. Demi melindungi identitas asliku.


Seketika aku merasa cemas, mendengar cerita wanita muda bernama Tita itu.


Menurut Wendi, menikah adalah perkara ibadah yang harusnya disegerakan agar terhindar dari zina sementara mengurus berkas identitas yang hilang butuh waktu cukup panjang. Sampai di sini bisa kusimpulkan, sosok Wendi adalah perayu ulung bahkan tak segan menggunakan dalil demi niatan buruknya.


Entah mengapa alasan-alasan itu membutakan Tita. Karena sudah memendam rasa daya tarik dan kesempurnaan yang terkesan luar biasa, Tita menerima, menikah siri.


Ayah ibunya yang tidak berpendidikan tinggi, cukup mudah dirayu juga oleh Wendi. Apalagi Tita memaksa. Pria bernama Wendi itu berjanji akan menikahi Tita secara resmi setelah berkas-berkasnya selesai. Bersumpah bahkan.


"Dia bilang masih bujangan. Nunjukin seolah suka beneran sama aku, Kak." Wanita berkulit sawo matang itu terisak lagi. Mengadu pada Adinda.


"Aku mau dan percaya sekali sama semua yang dia bilang. Apalagi dia nunjukin semua hal yang bikin aku takjub. Dia orang kaya raya, Kak. Aku pikir, dunia aku akan berubah jadi kayak dongeng Cinderella dengan nikah sama dia. Aku nurutin semua yang dia mau dan ngejalanin kewajiban aku sebagai seorang istri. Nyerahin semuanya, kehormatanku. Apalagi kita sudah nikah walau secata siri." Wanita itu membenamkan wajah dengan kedua lengannya. Nampak 'hancur'.


Aku masih menyimak, walau sudah bisa menebak, jalan cerita selanjutnya.


"Ternyata dia nggak kunjung menikahi aku secara resmi. Bahkan keberadaanku disembunyikan dari keluarganya. Berbulan-bulan sampai satu tahun. Nggak ada itikadnya buat meresmikan pernikahan kita. Aku mulai gelisah, apalagi belakangan sikap Mas Wendi semakin dingin."


Dia menghapus cairan kental dari hidung yang keluar. Dan Adinda sigap menyodorkan saputangan pada wanita itu.


"Ternyata, dia bohong selama ini, Kak. Dia bohong! Dia sudah menikah dan punya dua anak balita. Istri pertamanya tiba-tiba ngelabrak aku, menghina-hina di hadapan para tetangga. Aku dibilang pelakor! Perebut laki orang!" Dia menggeleng-geleng keras. "Aku dikatain wanita murahan! Dan Mas Wendi nggak bela aku samasekali. Malah membenarkan yang apa yang dihinakan ke aku!" Emosinya meluap-luap. Meski ia tahan dengan menutup mulutnya kuat-kuat.



"Aku ternyata cuma jadi mainan buat Mas Wendi selama ini. Dan aku bodoh sudah percaya sama orang kaya seperti dia. Aku nyesal nggak ngikutin nasehat Ayah, lebih baik bersuami orang biasa tapi bahagia daripada cuma jadi mainan orang kaya. Pernikahan Cinderella itu cuma omong kosong. Aku yang bodoh sudah segitu mudah dipermainkan aja sama laki-laki kayak gitu." Dia terisak-isak lagi.


Lalu bisa kulihat itu, pandangan iba dan sorot kecewa yang nampak jelas di mata Adinda. Traumanya pada suatu kalangan, orang kaya. Terlihat jelas kembali.


Menggertak hatiku.


"Istrinya tadi datang ke rumah. Menghina-hina aku. Menghina Ayah sama Ibu juga. Dia bilang aku pelakor! Perusak! Aku malu, kak. Ayah marah besar sama aku juga." Dia menggeleng lagi. Dengan wajah sudah basah sekali.


"Mas Wendi Endira. Dia pengusaha sukses yang cuma jadiin aku mainan. Jahat banget, kak. Dia sudah ngambil semuanya dari aku. Lalu mencampakan aku kayak gini. Padahal aku... aku sekarang hamil anaknya!" Dia memegangi perut. Dengan nafas sesak dan wajah pucat.


"Aku lari dari dia. Dan aku yakin sekarang dia lagi nyari-nyari aku di rumah Ayah." Begitu nampak tersiksa.


"Ijinin aku nginap di sini semalam ini aja, Kak Dinda. Aku mohon. Aku nggak tahu harus kemana lagi. Cuma Kak Dinda orang yang paling baik di sini. Ayah kecewa berat sama aku dan aku nggak sanggup ngadepin Ayah sekarang. Aku juga takut Mas Wendi datang dan

maksa aku menggugurkan janin ini. Aku nggak mau.


Aku lagi hancur!" Pekiknya dengan suara tertahan. Memohon.


Adinda melihat padaku. Memohon ijin, aku tahu.


Aku meremas jemariku sendiri. Diam dalam beberapa waktu. Lalu... tidak mengijinkan.


"Pulanglah. Ayah Ibumu pasti menunggu," ucapku sambil membukakan pintu.


Wanita itu menatapku dengan pandangan tak percaya. Lalu kembali menatap dengan ekspresi memohon pada Adinda.


Ya, aku mengerti perasaannya. Tapi aku juga tahu, lari tak akan menyelesaikan semua ini. Semarah- marahnya Ayahnya, ia pasti akan tetap melindungi putrinya. Termasuk tak akan lagi membiarkan pria kaya itu membawanya kembali.


Justru akan menjadi masalah jika ia menemukan Tita di sini.


"Tenangkan dirimu. Lalu bicarakan baik-baik dengan Ayah Ibumu. Wajar Ayahmu marah, malu, dan kecewa. Tapi dalam kondisi seperti ini, saat apapun, justru orang tua yang akan paling melindungi. Jangan terbawa emosi dan jangan lari dari mereka. Jangan biarkan orangtuamu lebih cemas lagi malam ini lalu mengambil tindakan lebih membahayakan kalian semua. Karena orangtua akan melakukan apapun untuk anaknya," ucapku dengan jelas.


Mempersilakannya pergi.


Aku tidak tahu, dia mengerti atau tidak apa yang kusampaikan barusan. Tapi aku justru sedang menyelamatkannya dengan memberikan saran itu.


Dan juga menyelamatkan diriku sendiri sebenarnya.


Sebab akan menjadi masalah serius untukku jika sosok Wendi Endira menyusul ke sini. Entah bagaimana bisa setepat ini, aku mengenal sosok itu. Dia adalah sepupuku. 'Contoh buruk' selalu kata Mami selama ini. Ini bukan yang pertama, sudah berkali-kali ia berkasus dengan wanita yang dinikahinya hanya demi pemuas sesaat saja. Dipermainkan olehnya.


Aku tidak dekat dengannya meski dalam satu garis keluarga. Tapi jika kasusnya seperti ini, ditambah bila identitasku terbongkar malam ini juga, maka mudah dituduhkan bahwa aku dan Wendi sama saja.


Ah, ini mengkhawatirkan!


"Kasihan ya." Adinda masih terdiam di ruang tamu sampai beberapa saat setelah kepergian Tita. Terbawa perasaan. Atau kembali larut dalam traumanya.


Aku menyapu muka. Duduk sambil meremasi tangan sendiri. Menyimpan gelisah yang mendera.


"Orang kaya suka gitu ya, Kanda," gumamnya sangsi.


"Ya nggak juga." Aku coba meluruskan jalan pikirannya. "Kalau kaitannya hal kayak tadi, itu bukan sebab orang kaya atau bukan. Itu masalah akhlak dan kesetiaan. Nggak semua orang kaya begitu. Sama nggak semua orang biasa pasti setia. Banyak juga kan orang biasa yang malah mainin wanita dan mengkhianati istri pertama?" Aku mencoba membuka sudut pandangnya.


Dia menatapku.


Aku berusaha terlihat 'biasa saja', sembari membuka- buka buku lawas yang kuambil dari lemari. Buku bacaannya yang sepertinya pinjaman dari perpustakaan.


"Hem. Iya sih." Dia akhirnya menyahut, pelan.


Yah, bagus. Semoga aku bisa mengubah sudut pandangnya.


"Tapi kalau sesama orang miskin, kasusnya biasanya lebih mudah, Kanda. Imbang. Beda kalau salah satu pihak dari orang kaya raya kayak suaminya Tita tadi, pasti akan lebih dzolim jadinya. Soalnya lawannya nggak cuma manusia tapi juga uang. Belum lagi penghinaan keluarga lainnya. Kayak yang dibilang Tita tadi, dihina-hina karena status ekonomi kan jadinya. Dan seringnya kalau sampai ke kepolisian, makin nggak adil aja perlawanannya. Orang kaya bisa bayar pengacara dan lain-lain buat sekedar numpahin kekesalan dan ngasih pelajaran ke lawannya. Sementara lawannya si miskin nggak bisa ngelawan banyak kalau sudah begitu." Ia tetap bertahan dengan logikanya. Nampak menyimpan amarah terpendam walau ia bicara dengan nada datar saja.


Aku mengangkat muka. Menatap ke arah matanya. Sepertinya ada yang belum ia ceritakan soal traumanya padaku. Aku bisa melihat itu, detik ini.


"Ya kan?" Dia malah menuntutku untuk menyetujui yang ia pikirkan.


"Ya, harus tahu dulu gimana kasusnya. Jangan sampai hanya karena dengar dari cerita orang." Aku menyambung, berusaha bijak. Meski aku kembali diserang rasa penasaran.


Adinda menggeleng. Dengan mata memerah dan meremasi tangan. Gurat penyesalan makin jelas kulihat di rautnya. Atau sebab denganku ia merasa benar-benar percaya, maka segala luka akan ia kisahkan padaku seperti belakangan ia lakukan.


"Memangnya pernah berurusan dengan orang kaya dan ke kepolisian?" Aku melemahkan suara. Berfokus padanya. Aku faham mengambil alih keadaan jika ia sudah seperti itu, agar ia mau bercerita. Dan semakin banyak bisa kukumpulkan fakta tentangnya.


Dia mengangguk.


"Iya, Kanda. Waktu penggusuran Masjid At Taqwa, Ayah sempat dipenjara." Sangat tiba-tiba fakta itu digelarnya di hadapanku. Dengan sorot mata terluka dan kemarahan yang belum reda.


"Dipenjara?" Aku mengulang, memperjelas.


Dia kembali mengangguk.


"Iya. Pihak perusahaan itu nggak suka sama Ayah yang berusaha mempertahankan masjid terus-terusan. Bahkan Ayah dituduh memprofokasi orang-orang. Padahal nggak gitu. Ayah cuma bicara kebenaran. Ayah bilang kalau mau ada penggusuran, mestinya ada dialog dengan masyarakat. Mungkin mereka kesal, terus Ayah dipenjarakan selama hampir satu bulan. Padahal waktu itu Ayah sudah sakit keras." Kulihat jelas rasa percaya yang benar-benar hilang pada satu golongan di matanya, pada orang kaya dan berkuasa.


"Padahal cuma karena kesal sama Ayah, sampai setega itu." Dia menangis demi menceritakan hal ini sekarang.


Kemudian menyebutkan dengan jelas nama perusahaan yang rupanya ia hafal benar. Pihak penuntut yang baginya begitu tega, memenjarakan Pak Adi atas tuntutan tak mendasar. Dan yang disebutnya adalah nama perusahaanku. Pasti Pak Pranata yang saat itu melakukan. Tapi jika menggunakan nama perusahaan, maka cepat atau lambat, saat kasus itu dibuka, akulah yang akan jadi tersangkanya.


"Orang kaya itu jahat, Kanda!" Itu kalimat kesimpulannya.


Dan tenggorokanku tercekat saat menyadari segalanya. Ternyata sungguh tidak mudah mengubah sudut pandangnya. Apalagi akulah yang menjadi sosok terfitnah pelaku di balik kasus-kasus itu.


Aku bisa saja membela diri, tapi dia juga bisa menolak pembelaanku. Seperti itu kan?


"Kadang tidak semua yang nampak sesuai kenyataannya, Adinda." Di sela kebingunganku sendiri untuk menjelaskan dan mengakui, hanya kalimat itu yang bisa kukeluarkan.


"Maksud, Kanda?"


Aku menarik nafas.


"Tidak semua yang kita simpulkan itu benar. Pun tidak semua yang kita lihat adalah kesimpulan. Dalam perkara apapun, selalu ada sudut pandang yang mestinya mempertemukan sehingga tak saling menyalahkan.



"Dii nggak ngerti. Maksud, Kanda?"


"Penjelasan. Memberi kesempatan untuk masing- masing menjelaskan. Bukan terus larut dalam prasangka dan kesimpulan sendiri." Aku memberanikan diri untuk menyampaikan itu. Ya, penjelasan. Itu satu-satunya jalan yang bisa kulakukan sekarang. Menjelaskan kesalahfahamannya padaku.


Dia terdiam.


"Waktu itu, Ayah juga berusaha menjelaskan ke pihak kepolisian, cuma nggak didengar." Lagi-lagi ia menyahut. Masih dengan sorot penyesalan.


"Ya. Padahal yang akan dijelaskan Ayah itu kebenaran kan? Gitu juga sebaliknya." Aku menemukan titik temu. Untuk sampai pada kesempatan menjelaskan itu.


Dia terdiam cukup lama. Namun tidak mengangguk sepakat juga.


Aku nyaris putus asa ketika tiba-tiba kudengar gumamannya.


"Em, iya juga ya."


Dan bahuku yang luruh kembali tegak. Dia memahami maksudku. Kesempatan menjelaskan.


Aku menatapnya dengan sorot mata tertulus yang kupunya.


Aku tahu, dia tidak sekeras hati itu. Meski perlu waktu untuk menarik perlahan sudut pandangnya yang terlanjur menyudutkan.


"Oh ya, tadi sebelum Tita datang, Kanda mau bilang sesuatu kan? Mau bilang apa?" Tanyanya.


Dan aku kembali tersadar pada detik ia mengerjap dan menatapku dengan mata sendunya.



Bersambung ...20

Wednesday, June 4, 2025

 (18) MARBOT ITU TERNYATA CEO

Penulis: Leaa













Pengakuan

Aku baru menikmati makan berat setelah tuntas tarawih dan membereskan masjid. Saat berbuka, hanya makan kue saja. Tentu saja kue olahan Adinda.


Istriku itu, pandai sekali memasaknya. Padahal otodidak dan ilmunya diperoleh dari membantu-bantu di tempat katering saat putus sekolah dulu. Kemudian dia modifikasi sendiri. Dia sebenernya memang pintar. Hanya takdir yang tak memihaknya.


Aku bahkan tidak memakan nasi kotak dari masjid, Aku memberikannya kepada jamaah lain. Aku tidak ingin mengisi perutku terlebih dahulu, karena aku ingin menyantap makan malam spesial yang dibuat oleh Adinda. Meski hanya disajikan dengan tempe atau tahu atau ikan asin, rasanya sangat istimewa bagi saya. Dan rasanya jelas berbeda.


Sekarang akulah yang selalu buru-buru. Setelah mengunci pintu masjid. Segera melangkah pulang. Ya, pulang. Di tempat ia sudah menunggu.


Lantas aku segera menyantap makanan berdua dengannya. Diselimuti aura hangat yang membuatku selalu betah duduk berhadapan dengannya.


Dulu aku sering berkhayal bagaimana kehidupan orang-orang dari kasta biasa. Sebab garis keturunanku sudah kaya raya sejak bergenerasi sebelum aku ada. Membayangkan bagaiaman rasanya menjadi orang miskin. Apakah sangat menyedihkan? Atau justru sebaliknya?


Sementara aku merasa jenuh dengan kehidupan kaya rayaku.


Ternyata indah sekali. Dalam sederhana, kutemukan bahagia sebenarnya. Bersama Adinda. Dalam artian cukup sebenarnya. Tidak berlebihan dan ini menenangkan.


Aku bahagia saat bisa menyantap makanan sederhana dengannya. Semua keterbatasan yang juga serba apa adanya. Jauh dari kata mewah. Benar, aku sangat betah dalam kehidupan seperti ini.


"Mau nambah, Kang?" Adinda melihat pada piringku yang sudah kosong.


Aku mengangguk. Lalu ia mengautkan nasi ke piringku. Menambah ketiga kalinya. Makan dengan tangan tanpa sendok garpu. Sama seperti dirinya. Meski kaku sekali di awal, tapi aku akhirnya bisa dengan cepat menguasai teknik makan langsung dengan tangan seperti ini. Ternyata lebih nikmat sekali.


Menu-menu sederhana yang diolahnya, terasa menarik semua di lidahku. Tempe penyet sambal terasi, ikan kering, sayur bening, lalapan, dan lain-lain. Nyaris tidak pernah kumakan menu-menu itu di kehidupan asliku sebelum ini. Biasanya, menu harianku selalu paduan makanan luar negeri. Menjemukan sekali.


Kuberikan pada Adinda uang yang cukup. Ya, dari bayaranku sebagai marbot masjid dan tambahan dari uang pribadiku. Tentu saja dalam jumlah sewajarnya agar ia tidak curiga, walau sebenarnya ingin sekali kuberi banyak agar dia bisa membeli apa saja.


Dia tak pernah terlihat memegang handphone. Ternyata, sebab ia memang tidak memilikinya. Sulit kubayangkan di jaman sekarang, seorang gadis muda tak memiliki handphone android. Ternyata ada. Dia, Adinda.


Tidak kelihatan memalukan. Justru begitu terlihat berbeda. Mengesankan sekali.


Aku juga tentu saja menyembunyikan kepemilikan handphoneku. Baru kuaktifkan saat ia sudah benar- benar tertidur. Masih mengontrol laporan perusahaan yang dikirimkan Handi setiap hari.


Di era semodern ini, menjadi pasangan yang sama- sama tidak disibukkan dengan hanphone pribadi, ternyata istimewa sekali. Setiap detik kebersamaan yang sangat berarti dan semakin bisa dinikmati.


Ya, sungguh aku bisa berfokus pada Adinda dan sebaliknya. Dia mengambil alih semua fokusku.


"Aw!" Ia meringis. Mengibaskan jarinya yang terluka, tertusuk jarum sepertinya. Dia sedang menjahit bagian sobek di mukenanya.


Aku menoleh dan segera menghampiri. Menarik tangannya lalu refleks menghisap telunjuknya yang terluka, agar darahnya berhenti keluar.


Meliriknya, dengan masih menahan tangannya. Dan ia melakukan hal yang sama. Lalu kembali kulihat semburat merona di pipi polosnya. Mungkin di wajahku juga, hanya saja tertutupi dengan dua tompel besar di pipiku ini.


Aku suka sekali melihatnya begitu. Menghangatkan pipi dan hati.


"Em... hati-hati," ucapku memperingatkan sesaat setelah ia menarik tangannya.


Dia mengangguk, lalu menunduk. Kembali menjahit mukenanya.


Mukena yang nampak lusuh. Sobek di beberapa bagian dan ia menjahitnya dengan rapi.


Bukan hanya mukena, pakaian-pakaiannya pun banyak yang sobek ternyata. Semua terlihat lama. Bahkan sepertinya, ia nyaris tak pernah memiliki pakaian baru.


Aku merasakan tenggorokan yang tercekat. Menyadari kesederhanaan di bawah rata-rata yang dijalaninya. Dengan tenang hati dan sikap cukup diiringi syukurnya. Selalu. Sementara aku, malah mengeluhkan kekayaan yang Allah berikan.


Adinda. Melihatnya aku selalu tidak tega. Dia terlalu tegar sekali.


Jangankan berlebihan, cukup pun baginya penuh perjuangan.


Tak satupun perhiasan ia kenakan. Anting-anting, kalung, cincin, gelang. Padahal selama ini kukira, wanita selalu identik dengan perhiasan.


Aku... aku akan memberikan semuanya, Adinda. Semua keinginanmu yang tertunda oleh keadaan. Asal kamu mau percaya, padaku. Mataku tiba-tiba panas lagi. Dan aku mengedip beberapa kali saat ia selesai menjahit sobek di mukena lusuhnya, lalu membaca Al Qur'an. Dengan lancar dan tenang. Damai banget lihatnya.


Aku mendengarkan sambil bersandar di kaki tempat tidur. Hingga aku tertidur beberapa saat.


"Kang, pindah ke ranjang. Nanti lehernya sakit kalau tidur di sini."


Aku mengerjap lalu mengikutinya tidur di atas ranjang. Menutup mata dengan lengan. Tidak meneruskan tidur. Aku hanya berpura-pura tidur sampai dia benar-benar terlelap. Kemudian bangun lagi. Ingin mengecek laporan perusahaan yang dikirim Handi via email seperti biasa.


Tapi belum saja aku bangkit, ia berbalik dan lenganku ditahan olehnya, dalam keadaan dia tidak sadar. Dikira guling ini lengan.


Aku refleks terbaring lagi. Langsung tepat menghadap pada wajahnya yang terlelap, matanya yang terpejam.


Bibirku tersenyum. Mengamatinya. Wajah polos ini.


"Ayah...." Dia terdiam.


Masih rindu ayahnya. Pasti. Dia sangat mencintai Pak Adi.


"Ibu mana?" Tanyanya. Berbisik.


Aku masih mengamati.


Lalu kudengar dia terisak. Dalam tidurnya. Menyebut kata 'Ibu'.


Aku tahu, ia tidak hanya merindukan Ayahnya, dia juga pasti merinduka Ibunya juga. Meski wanita itu telah 'membuangnya'.


Tiba-tiba terbit rasa penasaran di hatiku, siapa ibunya? Apa dia tahu? Atau sudah pernah bertemu?


Sepergi ayahnya, dia tidak lagi memiliki siapa-siapa. Tapi dia memilikiku sekarang. Aku mengusap pipinya, tanpa dia sadar. Istriku sayang, istriku yang malang.


"Mukena? Mukena siapa ini?" Dia menatap tas mukena yang kuberikan, pagi harinya.


Aku memesan mukena itu secara online semalam.


Aku mengangguk.


"Iya. Dikasih jamaah tadi." Aku menyahut, berbohong.


"Untuk?" Tanyanya lagi.


"Untuk siapa aja katanya." Maksudku, itu untuknya. Tapi nanti dia jadi bertanya lebih detail dari siapa dan kenapa diberikan untuknya?


Dia membuka tas mukena berwarna pastel di tangannya dengan wajah berbinar. Sepertinya dia sangat suka. Syukurlah, aku juga senang sekali kalau dia suka. Sebagai ganti mukena lusuhnya yang beberapa kali kulihat sobek dan dijahit ulang olehnya.


"Masya Allah. Ini bagus banget," pujinya. Tidak


melepaskan pandangan dari kain mukena itu.


Tentu saja bagus, aku memang meminta petugas butik yang kuhubungi memberikan mukena terbaik. Cukup mahal.


Wajahnya masih berbinar, menatapku.


"Kamu bisa melakukannya pada siapa saja kan, Kak?" Dia bertanya tiba-tiba.


Eh. Maksudnya itu apa?


Aku mengangguk. Karena sebelumnya kan aku bilang begitu tadi.


Dia tersenyum semakin lebar. Lalu melipat dan memasukkan lagi mukena itu ke dalam tasnya.


"Kita kasih ini ke Dik Lilis ya, Kang?" Ucapnya. Lebih mirip keputusan dibanding sebuah pertanyaan. Dik Lilis itu setahuku salah satu tetangga di sini. Anak SMA yatim dan hanya tinggal dengan ibunya. Sepertinya dari kalangan keluarga kurang mampu.


Diberikan kepada orang lain?


"Soalnya kasihan, Dii lihat mukena Dik Lilis itu sudah kekecilan. Dii udah lama pengen beliin. Tapi belum cukup rejeki. Yang ini aja kita kasih ya? Pasti Dik Lilis senang." Matanya mengerjap penuh binar.


Dan tahulah yang terjadi selanjutnya. Dia benar-benar memberikan mukena itu kepada Dik Lilis. Lalu kembali dengan wajah cerah. Melaksanakan sholat dhuha, dengan mukena lusuhnya.


"Kenapa nggak diambil aja mukena yang tadi?" Tanyaku sedikit kecewa. "Nggak suka?" Ya, aku kan sebenarnya membelikan mukena itu untuknya. Walau bisa saja kubelikan lagi yang lebih bagus.


"Mukena yang tadi? Suka banget," jawabnya cepat.


“Lalu kenapa kamu merasa kasihan pada orang lain?”


"Soalnya Dik Lilis kan lebih perlu. Mukena Dii juga masih bagus ini," jawabnya tulus sambil mengangkat mukenanya.


Tidak hanya itu, beberapa kali aku melihat ia memberikan pilihan dari apa yang menjadi haknya dengan orang lain.


"Rina, bagusan yang ini atau ini?" Tanyanya pada seorang gadis seusianya sambil menunjukkan dua buah bros yang dihadiahkan seorang ustadzah, oleh- oleh dari umroh.


Gadis bernama Rina yang dia minta sepertinya memilih dari dua bersaudara itu. Lalu jatuhkan seleksi pada bros agar terlihat lebih cantik dari sudut mana pun.


"Ya udah, ini yang buat kamu," ucapnya sambil menyerahkan bros yang lebih cantik itu. Lalu untuknya, ia menyimpan bros satunya.


Heran, padahal sebelumnya aku mendengar, saat diberikan, ustadzah itu mengatakan kalau yang dapat duluan boleh lebih dulu memilih. Logikanya, ia bisa memilih yang lebih bagus kan? Bukan malah sebaliknya.


Tak tahan, akhirnya aku bertanya juga.


"Oh, kalau mau ngasih ke orang kan memang harus gitu. Ngasih hal yang kita sukai," jawabnya dengan wajah teduh.


Kejadian seperti itu, tidak sekali dua terjadi. Sampai aku akhirnya benar-benar mengerti, seperti itu memang sifat Adinda. Baik hati dan lebih mengutamakan orang lain. Istriku yang baik.


Dan setiap waktu, semua yang dia lakukan membuatku semakin sayang. Mengaguminya lebih dari sebelumnya. Dia yang cantik hatinya.


Malam ini kami menatap bulan dari jendela yang terbuka, di dalam kamar. Duduk bersisian sambil mengobrol apa saja. Aku selalu suka saat ia bercerita. Apalagi dia tipe wanita yang tertutup sekali. Memendam apapun sendiri. Mungkin sebab hanya tinggal dengan Ayahnya saja selama ini, yang juga tak akan tega ia keluhkan apa saja karena tak ingin membebaninya. Atau karena memang tak memiliki siapapun lagi untuk berbagi.


Tapi sekarang, ada aku.


"Dii pernah diajak Ayah nemuin Ibu." Untuk pertama kali, akhirnya ia mau bercerita. Tentang hal yang memang ingin kutahu. Sesuatu yang dipendamnya sekian lama.


"Oh ya? Ketemu?" Aku berfokus padanya.


Dia mengangguk. Lalu menggeleng. Kemudian menunduk dengan mata berkaca-kaca.


Aku menarik tangannya dan menggeser tubuh, lebih mendekat. Nampak jelas beban tersimpan di mata sendunya.


"Mulai sekarang, kamu boleh memberitahuku apa saja, Kak. Kamu boleh menangis sepuasnya di sini." Aku menepuk bahu dan dadaku. Dengan tampilan yang meyakinkan. Saat aku mengangguk ke arahnya.


Air matanya tumpah sedetik kemudian.


"Dii pengen bisa peluk Ibu. Hks." Dia terisak. Seiring kutarik dia dalam rengkuhan.


"Dii pengen kayak anak-anak yang lain. Disayang sama Ibunya...." Ada sesak bergumul yang ia benamkan di dadaku.


"Kenapa Dii dibuang? Kenapa Ibu nggak sayang Dii?" Dia memuaskan isi hatinya yang terpendam selama ini.


Aku masih hanya diam. Mendengarkan. Memusut kepalanya.


Dia mulai memukul-mukul dadaku. Ekspresi dan emosinya yang selama ini terpendam lama. Dan aku membiarkannya.


Keluarkan semuanya, Kak. Lepaskan semua bebanmu di sini.


Aku memejamkan mata, menikmati dadaku yang basah oleh air matanya.


"Kenapa Ibu tega sekali? Dii selalu dihina orang-orang. Dii jadi ejekan teman-teman. Dii nggak bisa sekolah lagi. Ibu kenapa nggak ada? Kenapa nggak mau nemuin Dii?!" Kepalanya semakin membenam, di dadaku. Dengan terisak-isak ia menumpahkan semua, beban hatinya.


Dan aku menjadi pendengar serta tumpuan menumpahkan segalanya. Sampai dia puas dan terlelap dalam pelukan.


Aku mengangkatnya tidur di atas ranjang. Mengusap air matanya lalu menyelimutinya.


Ada senang yang bersemayam demi menyadari, ia akhirnya bisa terbuka denganku. Dia semakin menganggapku berarti. Seseorang yang ia percaya untuk berbagi cerita dan berbagi tawa serta sedihnya.


Aku semakin berarti baginya. Seperti dia sangat berarti bagiku.


Setelah malam itu, sikapnya jauh berubah. Tidak secanggung kemarin-kemarin. Dia sudah merasa nyaman denganku. Begitu percaya. Juga cinta. Dan aku menyukai ini semua. Rasanya sempurna.


“Kang, Dii sedih.”


"Kenapa? Beritahu aku di sini."


Lalu dia akan bercerita. Mendetail bahkan berulang- ulang. Bercerita sebab dan kekhawatiran hatinya.


"Dii takut," ucapnya di kesempatan lain.


"Takut apa?" Aku langsung berfokus padanya. Menatap dengan tatapan teduh. Siap mendengarkan.


Aku menjadi seorang yang semakin berarti baginya. Aku bisa merasakan itu.


Maka tak lagi sungkan dia akan meletakkan kepala di bahu dan dadaku. Bahkan memeluk saat apapun dia butuhkan. Lalu aku mendekapnya dengan hangat sambil menahan diri kuat sekali. Ya, aku sudah berjanji, untuk menahan diri. Sampai dia menerima dalam kejujuranku atas segalanya. Hanya satu harapanku, agar dia percaya dan mau berjuang bersama, menghadapi Papi dan Mami. Bukannya malah menyerah dan pergi. Atau merasa telah kubohongi.


Aku suka. Hanya masih ada khawatir menjelma jika ia tahu yang sebenarnya. Kuharap tidak merubah ini semua.


"Kanda?" Tanyanya. Sambil berkedip. Dan itu terlihat lucu.


"Ya." Aku memicingkan mata.


"Siapa Kanda?" Tanyanya sambil mengernyit.


"Aku."


"Akang?"


"Kakanda, Adinda."


"Kakanda?" Dia kembali mengulangi. Terdiam sebentar. Lalu tersenyum lebar. "Oh...." Mengangguk mengerti.


Dan sejak itu, dia memanggilku dengan nama sayang... Kakanda. Dia hanya memanggilku seperti itu.


Bukti kedekatan dan keterikatan hati, aku dan dia.


Kurasa kami memang sudah benar-benar dekat. Sudah sama-sama merasa nyaman.


Waktunya untuk aku jujur sekarang. Mengakui penyamaran yang kulakukan, selama ini. Bahwa aku adalah Tuan Alfadi Edibagaskara. CEO perusahaan yang menjadi tersangka penggusuran masjid At Taqwa, meski bukan aku di balik itu semua. Pria kaya raya yang sedang melarikan diri dari kemewahan harta benda dan kehormatan keluarga. Lantas menemukan belahan jiwa, dirinya.


Bukankah kalau sudah nyaman, dia akan percaya dan itu sekaligus mengobati traumanya, pada 'orang kaya'?


Ya. Aku harus mengakui, pada Adinda. Sudah saatnya.


Kuhampiri la dengan rasa mendesir di sepenuh dada. Dengan ekspresi serius penuh harap agar ia mengerti sepenuhnya.


" Adinda, aku ingin Bilang Sesuatu...."



Bersambung ...19

Monday, June 2, 2025

 BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang 

Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) merupakan pelatihan sekaligus pembelajaran yang dilaksanakan di luar sekolah. Namun program Prakerin ini masih relevan dengan kompetensi keahlian yang dimiliki siswa dan siswi SMK. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta menambah bekal demi masa depan siswa siswi di dunia kerja.










Saat memasuki dunia kerja, akan banyak persaingan ketat antar calon karyawan. Selain itu pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, semakin banyak pula peralatan canggih yang digunakan dalam berbagai bidang. Prakerin dimaksudkan memberikan pengalaman bagi siswa siswi untuk mengaplikasikan teori yang didapat di sekolah dalam praktek nyata di dunia kerja.

Dengan adanya kegiatan prakerin ini siswa siswi dapat mengasah serta mengimplementasikan materi pelajaran secara langsung ke dunia industri sesuai keahliannya masing-masing. Dalam upaya mewujudkan Visi dan Misi nya, SMK Al-Manar Pamarican melaksanakan program Prakerin demi menjadikan siswa siswi siap secara mental dan keterampilan memasuki dunia kerja.

1.2 Tujuan Prakerin

        Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) diselenggarakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan tujuan :

1. Meningkatkan mutu dan merelevansi pendidikan-pendidikan kejuruan melalui peran Dunia Usaha atau Dunia Industri.

2. Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.

3. Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dengan sikap yang menjadi bakat dasar pengembangan dirinya secara berkelanjutan.

4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.

5. Meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan menengah kejuruan melalui pendaya gunaan sumber daya pendidikan yang ada di dunia kerja.


1.3 Manfaat Prakerin

      Adapun manfaat dari Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) adalah :

1. Memperoleh wawasan luas mengenai seluk beluk dunia kerja.

2. Meningkatkan rasa percaya diri, dispilin, dan tanggung jawab.

3. Mengetahui arti penting disiplin, tanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

4. Dapat memahami, memantapkan dan mengembangkan pelajaran yang diperoleh disekolah.

5. Dapat membandingkan kemampuan yang diperoleh disekolah dengan yang dibutuhkan di dunia kerja.












BAB II

LANDASAN TEORETIS

2.1  Pengertian Perawatan Sistem Komputer

Perawatan computer adalah menjaga komponen-komponen computer baik itu berupa hardware maupun berupa software dari hal-hal yang dapat membahayakan komputer. Dengan perawatan yang maksimal, baik itu perawatan secara hardware ataupun perawatan secara software computer akan terlindungi dari hal-hal yang dapat membahayakan atau merusak computer itu sendiri.


Perawatan computer perlu di lakukan secara berkala, minimal di lakukan setiap satu minggu satu kali, tapi akan lebih baik bila di lakukan setiap selesai menggunakan. Karena setiap selesai mengoperasikan software aplikasi pasti ada file-file sampah yang tersimpan di harddisk dan akan mengakibatkan computer menjadi lambat yang akan akan mengganggu pekerjaan user.

2.2 Manfaat Dan Tujuan Perawatan Sistem Komputer

2.2.1 Manfaat perawatan computer, yaitu:

a. Komputer selalu segar dan sehat.

b. Tidak cepat rusak,.

c. User puas dalam mengoprasikannya.

d. Pekerjaan user tidak akan terganggu.

2.2.2 Tujuan perawatan computer, yaitu:

a. Supaya computer tidak cepat rusak.

b. Supaya computer selalu cepat bersih.

c. Supaya pekerjaan pengguna tidak terganggu dari hal-hal yang tidak di inginkan.

d. Menghemat biaya, karena dengan perawatan yang berkala computer akan jarang untuk di servis.



2.3 Jenis-jenis Perawatan Sistem Komputer 

Pemeliharaan komputer yang efektif dapat menjadi perbedaan antara sistem yang andal dan yang bermasalah. Pemeliharaan komputer dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, tetapi semuanya dipusatkan untuk memperpanjang umur peralatan TI Anda melalui penggunaan yang hati-hati dan mengambil tindakan pencegahan yang masuk akal. Dengan memelihara komputer Anda secara efektif, Anda dapat membantu bisnis Anda mendapatkan pengembalian investasi TI yang sebaik mungkin, diantaranya:

1. Perawatan Hardware

  Pemeliharaan perangkat keras adalah praktik apa pun yang dilakukan untuk menjaga agar komponen fisik komputer Anda tetap berfungsi. Membersihkan adalah salah satu bentuk perawatan perangkat keras yang paling umum. Skala kecil dan pembuatan presisi dari beberapa komponen komputer berarti bahwa paparan debu atau serpihan dapat menyebabkan masalah besar. Dengan demikian, pembersihan rutin komponen eksternal komputer Anda dapat memperpanjang umurnya secara signifikan. Mengganti komponen yang rusak atau berkinerja buruk juga dapat dianggap sebagai jenis pemeliharaan perangkat keras.`

2. Perawatan Software

Pemeliharaan perangkat lunak membantu memastikan bahwa program dan file komputer Anda dapat diakses dan berfungsi dengan benar. Pemindaian anti-virus adalah bentuk pemeliharaan perangkat lunak, karena fungsi utamanya adalah untuk memastikan bahwa komputer Anda tidak menjalankan perangkat lunak apa pun yang seharusnya tidak. Cadangan juga termasuk dalam kategori ini, karena memungkinkan Anda untuk meminimalkan efek dari masalah perangkat lunak di masa mendatang dengan menyimpan catatan program atau file yang dapat dipulihkan di kemudian hari jika terjadi masalah.

3. Perawatan Environmental

Membuat perubahan pada lingkungan tempat komputer Anda beroperasi dapat membantu meningkatkan umurnya. Ini bisa sesederhana menerapkan kebijakan dan aturan bagi mereka yang menggunakan komputer organisasi Anda. Misalnya, Anda dapat mengurangi risiko insiden tumpahan dengan melarang orang minum di meja mereka. Mengatur suhu ruangan kantor atau server Anda dan mencegah penumpukan debu pada permukaan juga merupakan bentuk pemeliharaan lingkungan.

4. Perawatan Upgrading

Memutakhirkan komponen komputer Anda adalah jenis pemeliharaan yang sempurna. Pemeliharaan yang sempurna adalah pemeliharaan yang tidak secara fundamental mengubah cara fungsi komputer Anda, melainkan memungkinkannya menjalankan peran yang ada dengan lebih efektif. Dengan memutakhirkan komponen kunci tertentu, seperti memori onboard atau hard drive komputer Anda, Anda dapat memungkinkannya untuk melakukan tugas-tugas yang tidak akan mampu dilakukan ketika pertama kali dibangun. Hal ini pada gilirannya dapat membantu memperpanjang umur sistem dan berpotensi menghilangkan kebutuhan Anda untuk membeli komputer baru.

5. Perawatan Data

Perangkat keras dan perangkat lunak komputer bergabung untuk menyediakan platform untuk menyimpan dan mengambil informasi dengan cepat. Setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun menyimpan informasi baru, basis data menjadi membengkak dan tidak efisien. Pemeliharaan sesekali pada informasi termasuk pengarsipan dan pembersihan informasi yang usang dan mengatur kembali database yang menampung informasi tersebut. Reorganisasi basis data meningkatkan waktu pengambilan informasi, memfasilitasi produktivitas pengguna kelas atas. Sistem operasi Windows dilengkapi dengan beberapa program pemeliharaan yang meningkatkan efisiensi komputer Anda. Disk Cleanup, Disk Defragmenter, Check Disk adalah tiga utilitas perawatan yang berguna yang akan meningkatkan kinerja komputer Anda.

6. Perawatan Prediktif

Ini adalah jenis perawatan yang dilakukan dengan menggunakan alat diagnostik, untuk mengantisipasi kemungkinan kegagalan dan mencoba menghindarinya sebelum terjadi. Salah satu cara terpenting dalam pemeliharaan jenis ini dilakukan adalah melalui pemantauan sistem komputer. Dengan cara ini, satu atau beberapa operator mengontrol berfungsinya peralatan dan sistem dengan menggunakan alat-alat seperti perangkat lunak pemantauan, untuk mengontrol semua jenis variabel, seperti suhu CPU, level baterai atau banyak lainnya.

7. Perawatan Preventif

Ini adalah jenis perawatan yang sangat sering, yang dilakukan untuk mencegah kemungkinan kegagalan dan meningkatkan fungsi suatu sistem, tetapi juga untuk memperpanjang masa manfaat dari berbagai komponen sistem. Perawatan preventif bermanfaat dalam banyak aspek. Sebagai contoh, ia mengurangi jumlah downtime sistem atau dapat mengurangi jumlah perbaikan, dan juga dapat mendeteksi titik lemah dalam sistem yang mungkin mempengaruhi operasinya. Ketika kita berbicara tentang pemeliharaan preventif perangkat lunak, kita memasukkan operasi seperti pembuatan salinan cadangan, pembebasan ruang hard disk, pembebasan memori RAM atau pemindaian dan pembersihan komputer melalui antivirus.

Ketika kita berbicara tentang pemeliharaan perangkat keras preventif, kita biasanya berbicara tentang dua jenis yang berbeda, yang merupakan tugas-tugas seperti pembersihan berkala peralatan dan komponennya, atau "pemeliharaan preventif aktif", yang bertujuan untuk memastikan daya tahannya dengan melindungi sistem dari kemungkinan agresi lingkungan. , misalnya, dengan memisahkan komputer dari area dengan dampak langsung sinar matahari, ini dikenal sebagai "pemeliharaan preventif pasif".

8. Perawatan Korektif

Ini adalah solusi yang harus diterapkan ketika pemeliharaan prediktif dan preventif tidak berfungsi dengan benar atau ketika ini belum dapat menghindari kegagalan. Ada saat-saat komputer atau sistem gagal (misalnya karena kegagalan perangkat keras) tetapi kami ingin agar komputer dapat beroperasi kembali dan dalam kondisi optimal. Maka ini akan termasuk operasi perbaikan atau penggantian, tergantung pada kebutuhan setiap kasus. Salah satu pertimbangan yang harus diambil mengenai jenis perawatan ini adalah bahwa tidak hanya penting untuk menyelesaikan kegagalan, tetapi kita juga harus menentukan apa penyebabnya, untuk menemukan kemungkinan akibat yang mungkin mempengaruhi bagian lain. sistem dan untuk mencegahnya terjadi lagi di masa depan

9. Perawatan Evolusioner

Jenis pemeliharaan ini tidak dimaksudkan untuk memperbaiki atau mencegah kemungkinan kegagalan, tetapi untuk mengembangkan sumber daya komputasi yang tersedia. Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, pembaca yang budiman, teknologi selalu berkembang, dan itu berarti bahwa alat yang tersedia dan kebutuhan pengguna juga berubah secara konstan. Dengan pemeliharaan evolusioner, kami ingin memastikan bahwa sistem komputer tidak menjadi usang, tetapi tetap diperbarui untuk menawarkan pengguna pilihan teknologi terbaik, tergantung pada kemungkinan masing-masing perusahaan dan organisasi.

Jenis pemeliharaan ini akan mencakup segalanya mulai dari tugas pembaruan perangkat lunak hingga penggantian peralatan atau sistem yang lengkap, tergantung pada kebutuhan. Dan sejauh ini, kami telah melihat jenis utama pemeliharaan TI di luar sana. Seperti yang dapat Anda bayangkan, karena kerumitan jenis operasi ini, pekerjaan ini biasanya ada di tangan para profesional, seperti administrator sistem atau perusahaan khusus, yang menawarkan layanan pemeliharaan kepada perusahaan, profesional, atau individu.(Indri)

2.4  Langkah Kerja Perawatan Sistem Komputer

  Perawatan komputer adalah suatu bentuk kegiatan yang ditujukan untuk menangani masalah-masalah yang terdapat pada komputer. Secara garis besar kegiatan perawatan komputer dibagi atas dua bagian yaitu Perawatan software dan Perawatan hardware.

Maintenance software yang umum dikerjakan adalah update software seperti antivirus, program dan aplikasi, Sistem Operasi, dan file-file lainnya. Sedangkan maintenance hardware meliputi perawatan teknis terhadap semua bagian perangkat keras dari komputer, mulai dari pembersihan bagian bagian CPU, monitor, perangkat input, perangkat cetak dan perangkat jaringannya.

Perawatan secara teratur akan mengurangi beberapa permasalahan seperti crash system, kehilangan data bahkan sampai kerusakan komponen sehingga sistem komputer kita bisa berumur lebih panjang. Kegiatan perawatan komputer ditujukan untuk menjaga kesinambungan operasional dan kinerja dari unit komputer yang digunakan. 

Kegiatan perawatan komputer dilaksanakan secara berkala, atau waktunya ditentukan sesuai kebijakan masing masing pihak yang menanganinya. Alasan dilaksanakan perawatan komputer adalah karena komputer rentan terhadap masalah (virus, kotornya hardware, dll) sehingga perlu memastikan komponen-komponen hardware berjalan dengan baik.

2.4.1 Peralatan Perawatan Komputer


Untungnya, dengan sedikit upaya dan tool yang tepat, pemeliharaan dan perbaikan PC menjadi mudah untuk kebanyakan orang. Inilah tool/peralatan standar yang biasa digunakan dalam perawatan computer, sebagai berikut:


 

Gamar 2.4.1 gambar perawatan computer

1. Obeng: Kita membutuhkan dua obeng kecil: satu dengan kepala pipih standar, dan yang satu lagi dengan kepala kembang. Biasanya kurang dari enam inci panjangnya dan pastikan semuanya tidak bermagnet.

2. Kuas

3. Senter: Bahkan di ruangan yang terang-benderang, bisa saja sulit melihat kabel-kabel kecil dan konektor di bagian dalam casing komputer.

4. Wadah komponen: Wadah kecil yang berpenutup penting untuk menyimpan sekrup dan jumper. Cangkir plastik atau botol obat lama juga bisa dipakai.

5. Tang berujung runcing: Tang kecil berujung runcing berguna untuk menjangkau bagian-bagian dan menekuk kawat dan potongan logam.

6. Vacum cleaner kecil/sedang bila ada untuk membersihkan bedu dalam casing computer.bila tidak ada cukup mengunakan kuas yang agak besar dan pembersihan dilakukan di luar ruangan yang berventilasi baik.

7. Anti static trap/wistrap

8. Thermal grease/pasta prosesor.

9. Semprotan udara bila ada.


2.4.2  Melakukan Perawatan PC

Ada dua tipe perawatan yang bisa kita lakukan, yaitu perawatan pasif dan paerawatan aktif. Kita namakan pasif, karena perawatan ini lebih mengarah kepada faktor lingkungan dan benda-benda non komputer yang membantu kinerja PC Anda. Sedangkan perawatan aktif adalah perawatan yang kita lakukan dalam tubuh PC itu sendiri meliputi software dan hardware.

1. Metode Perawatan Pasif

Perawatan pasif meliputi proteksi sistem terhadap lingkungan yang normal, baik secara fisik dan elektrikal. Hal fisik meliputi temperatur yang baik, thermal stress dari power, kontaminasi debu atau asap dan gangguan lain seperti getaran atau guncangan. Hal elektrikal meliputi ESD (electro-static discharge)/listrik statis, kebisingan power dan gangguan frekwensi radio. Tahap-tahap melakukan perawatan pasif :

a. Memilih lokasi untuk komputer yang bebas dari polusi udara   seperti asap, debu, kotoran dan polusi yang lain.

b. Memperkecil kemungkinan terjadinya variasi suhu di dalam ruangan. Misalnya, dengan memberi AC atau tidak menempatkan komputer dekat jendela agar komputer tidak terkena sinar matahari secara langsung ataupun percikan air hujan.

c. Menyediakan outlet ground dari power yang sudah stabil dan bebas dari gangguan elektris dan interferensi. Hal ini berfungsi menghindari listrik statis.dan resiko tersengat listrik dari casing computer.

d. Bila memungkinkan, jauhkan komputer Anda dari pemancar atau sumber-sumber frekwensi radio.

2. Metode perawatan aktif

Intensitas melakukan perawatan aktif untuk lingkungan kantor normal, pembersihan komputer dapat dilakukan beberapa bulan sekali dalam setahun. Namun jika kita membuka komputer setelah satu tahun ternyata di dalamnya telah penuh debu, ada baiknya kita memperpendek interval pembersihan.

A. Tahap-tahap melakukan perawatan aktif :

1) Untuk hardware, non Operating System

a. Membersihkan debu di luar dan dalam CPU serta monitor dengan vacuum cleaner/kuas

b. Membersihkan konektor dan kontak pada konektor slot, konektor power supply, konektor keyboard, konektor mouse dan konektor speaker.

c. Sebaiknya untuk perawatan hardware dilakukan di tempat terbuka/berfentilasi baik.

2) Mouse

Untuk perawatan device ini diperlukan perlakuan khusus tergantung dari type yang digunakan (Optical Mouse/Ball Mouse). Untuk Optical Mouse, perawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Pastikan tempat Mouse (Mouse Pad) menggunakan   warna yang sama atau tidak berwarna-warni misalnya hanya menggunakan warna Biru saja. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah mouse mouse tidak dapat dikendalikan.

b. Mouse sebaiknya diletakan pada tempat yang rata dan tidak terdapat benjolan dsb, ini dimaksudkan agar pointer mouse tidak mergerak secara acak.

c. Sedangkan untuk mouse jenis Ball Mouse, perawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : Bersihkan bola pada bagian dalam Mouse dengan menggunakan sikat untuk menghilangkan debu ayng terdapat pada bola yang dapat menyebabkan pointer sulit digerakkan. Letakan Mouse pada tempat yang baik agar bola mudah bergerak pada bagian dalam Mouse.

3) Keyboard.

Perawatan Keyboard sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut :

a. Lakukan  pembersihan terhadap debu yang mungkin terselip dan menjadi tebal pada bagian bawah tombol Keyboard yang dapat menyebabkan tombol keyboard macet dan sulit untuk ditekan. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menggunakan cairan pembersih dan kain atau kuas untuk menghilangkan debu yang ada didalamnya.

b. Jika Keyboard sedang tidak digunakan ada baiknya menutup Keyboard dengan kain untuk mencegah masuknya debu atau serangga yang dapat menimbulkan kerusakan pada Keyboard.

4) WebCam

Untuk perawatan device ini dapat dilakukan tips berikut :

a. Lakukan pembersihan terhadap lensa jika pada saat digunakan   gambar yang tertampil terlihat agak buram atau rusak. Bersihkan dengan menggunakan kain dan cairan pembersih.

b. Pastikan pada saat penggunaan kamera, kamera tidak berhadapan langsung dengan cahaya yang cukup kuat seperti cahaya matahari hal ini agar lensa kamera tidak cepat rusak dan hasil yang diperoleh akan lebih baik.

5) Scanner

Perawatan Scaner yang umumnya dilakukan adalah sebagai  berikut : 

a. Bersihkan bagian permukaan kaca Scaner dengan lap dan cairan pembersih agar dokumen yang dicetak menghasilkan hasil yang baik.

b. Letakan Scaner pada tempat yang sejuk dan kering serta terhindar dari debu, kotoran dan serangga.

B. Perawatan Output Device

    1) Monitor

Perawatan monitor dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Bersihkan layar dengan lap dan cairan pembersih khusus agar layar monitor tetap terjaga kebersihannya (LCD).

2. Tutup monitor apabila sedang tidak digunakan dan jauhkan monitor dari perangkat yang mengandung induksi magnetik sepeti HP dan speaker (CRT).

2. Printer

Perawatan Printer dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Tutup Printer dengan kain jika tidak digunakan.

2. Bersihkan dan cegah agar debu atau remah-remah makanan tidak masuk ke dalam Printer. Dan reset printer jika sudah lama digunakan.

3. Speaker

Untuk mghasilkan keluaran suara yang baik, maka speaker perlu perawatan, dan perawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Jauhkan Speaker dari perangkat yang memiliki gelombang radio seperti HP yang dapat menimbulkan interferensi dan akan menghasilkan suara yang buruk.

2. Jauhkan Speaker dari pernagkat seperti monitor karena selain merusak monitor jaga akan mempengaruhi speaker.

C. Untuk perawatan Operating System :

Yang sifatnya rutin dan wajib dilakukan adalah:

1. Melakukan Back up data dan file-file penting pada waktu yang terjadwal. membuat cadangan data wajib dilakukan pada Komputer maupun notebook.karena nilai data penting lebih mahal dari hardware computer itu sendiri.

2. Melakukan defragmentasi file.pada windows 7 telah berjalan secara otomatis kita tinggal menyesuaikan saja waktunya.

3. Melakukan clean up dengan menghapus semua file temporer, seperti: *.tmp, *.chk, ~*.*, file-file dari recycle bin, web browser history dan temporary internet files.

4. Melakukan scandisk

5. Melakukan checking dan updating anti virus rekomendasi antivirus avira free.karena bersifat gratis dan ringan dalam proses scanning serta update. Update anti-virus harus rutin di-update, agar dapat selalu menangkal virus-virus baru yang terus bermunculan setiap hari. Kunjungi secara rutin situs pembuat antivirus yang digunakan.

D. Perawatan tahunan Komputer dan Jaringan mencakup 

1. System Back-up (membuat salinan/copy untuk data-data penting perusahaan yang ada pada komputer, dan back-up copy diserahkan ke pelanggan untuk disimpan ditempat yang aman).

2. System Optimization (defragmentasi data, membuang sampah-sampah yang ada pada komputer, memperbaiki kesalahan setting)

3. System Rebuild (membangun dan menata ulang kembali sistem yang rusak oleh faktor yang tidak disengaja, supaya sistem dapat bekerja kembali seperti semula)

4. System Upgrade (menambah fungsi, memperbaharui sistem yang ada sesuai dengan permintaan pelanggan, testing stabilitas untuk hardware dan software sebelum pemasangan)

5. Training (pelatihan, pengarahan dan konsultasi untuk pemakai supaya dapat mengoperasikan komputer dengan baik dan benar)

6. Pembersihan Virus (melacak dan membersihkan virus dari komputer dan jaringan)

7. System Security (pemasangan dan perubahan password, untuk pengamanan sistem dan data penting perusahaan dari orang luar yang tidak berkepentingan).

8. Penyelesaian Darurat (meyediakan personil untuk segera bertindak dalam waktu singkat, supaya sistem dapat bekerja kembali seperti semula)

9. Personil stand-by di lapangan (Bila sistem yang berjalan belum stabil, menempatkan personil sebagai support teknis dan pemantauan kerja sitem yang ada sampai semua masalah terselesaikan

10. Konsultasi (menyediakan konsultasi, analisa dan saran secara professional untuk segala hal yang berhubungan dengan komputer)

11. Perawatan Hardware Komputer (merawat hardware komputer, membersihkan komputer, mengurangi kerusakan pada hardware)

12. Mengganti barang-barang komsumtif (mengganti tinta printer, mouse, floppy disk yang rusak, dll)









BAB III

GAMBARAN UMUN DUNIA USAHA ATAU DUNIA INDUSTRI (DU/DI)


3.1 Sejarah Berdirinya Sanen Computer Banjarsari

       Berdiri pada Tahun 2000, Sanen Computer merupakan toko komputer

yang melayani service komputer atau laptop di segala kondisi, penjualan

sparepart laptop, juga melayani pegadaian laptop. Sanen Computer menyediakan hampir semua sparepart laptop mulai dari Chasing, Motherboard, LCD, LED laptop, HDD, RAM, Processor, Fan, Speacker, Keyboard, Charger, maupun pada komponen-komponen pada Motherboard sparepart ini diperoleh dari pembelian laptop second.

3.2 Visi dan Misi Sanen Computer

       3.2.1 Visi

                  Menjadikan yang terdepan dalam bidang pengadaan komputer dan suku cadangannya dengan memberikan nilai kepuasaan terbaik bagi pelanggan, melalui harga yang wajar produk dan pelayanan yang berkualitas.

      3.2.2  Misi 

1. Mendukung terciptanya peluang bisnis sarana teknologi informasi komunikasi khususnya komputer dan suku cadangnya. 

2. Mempermudah pelanggan untuk mendapatkan peralatan komputer dan suku cadangnya.

3. Memberikan informasi. 

4. Membantu pelanggan dalam mengatasi kerusakan peralatan teknologi informasi dengan menyediakan jasa perbaikan.






2.3 Struktur Organisasi Sanen Computer

 

















BAB IV

URAIAN KEGIATAN


4.1 Kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin)

Kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin) dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2022 sampai 31 Mei 2023. Penyusun melaksanakan prakerin di Sanen Computer Banjarsari. Dalam melaksanakan Praktik Kerja Industri (Prakerin) banyak kegiatan yang penyusun lakukan ditempat tersebut. Rata rata kegiatan yang di lakukan oleh penyusun adalah diantaranya seperti instal ulang Windows baik Windows 7, 8, 8.1 ataupun Windows 10 selain menginstal Windows kegiatan yang di lakukan penyusun di tempat tersebut adalah menginstal Software basic, Update Driver, Unboxing paket, penyusun barang, memasang label harga pada produk yang di jual, dan service computer-PC, laptop ataupun  printer.

Penyusun berangkat dalam kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di sanen computer Banjarsari, sekitar pukul 07.30 dan pulang sekitar pukul 15.30










BAB V

SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan

1. Menginstal aplikasi dilaptop atau komputer dilakukan untuk mengontrol perangkat keras (yang sering disebut sebagai device driver), melakukan proses perhitungan, dan berinteraksi dengan aplikasi yang lebih mendasar lainnya (seperti sistem operasi, dan bahasa pemrograman). 

2. Aplikasi adalah suatu perangkat yang memanfaatkan kemampuan komputer secara langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna.

3. Menginstal aplikasi browser seperti Google Chrome atau Mozilla FireFox.

5.2  Saran

  Berdasarkan hasil saat melakukan kegiatan PKL, kami sedikit memberikan saran agar para peserta mempersiapkan diri lebih lanjut. Hal ini dapat dilakukan dengan menguasai pelajaran yang diterapkan dalam industri. Dengan begitu, praktek kerja lapangan dalam sebuah perusahaan nanti akan lebih mudah dan semoga peserta tahun selanjutnya bisa lebih baik lagi dan lebih bertanggung jawab terhadap apa yang kami perintahkan selama melaksanakan kegiatan PKL

Untuk SMK Al-manar diharapkan agar pelaksanaan praktek kerja Industri(PRAKERIN) dilaksanakan pada waktu yang lebih lama agar siswa-siswi lebih dapat memahami perannya di tempat instansi sesuai kejurusannya  masing-masing.




DAFTAR PUSTAKA

Scribd.com. Pengertian Menginstal Aplikasi https://www.scribd.com/document/446705405/PENGERTIAN-INSTAL-DAN-SISTEM-OPERASI-serta-fungsinya. Diakses 29 Mei 2022.

m.liputan6.com.  fungsi aplikasi https://m.liputan6.com/hot/read/4592895/aplikasi-adalah-program-perangkat-lunak-ketahui-fungsi-dan-jenisnya.  Diakses 16 Mei 2022.

Mikirbae.com

https://www.mikirbae.com/2016/09/perawatan-komputer.html

Lancangkuning.com

https://lancangkuning.com/post/10508/berbagai-jenis-perawatan-sistem-komputer.html




















LAMPIRAN-LAMPIRAN













Lampiran 1

IDENTITAS SISWA


Nama Siswa : Hendrik Apriandi

Tempat Tanggal Lahir : Ciamis,14 April 2005

Jenis Kelamin : Laki Laki

No Induk Siswa (NIS) : 212212620

Asal Sekolah : SMK AL-MANAR

Alamat                                    : Dusun.Sidaharja Rt.12 Rw.03 Desa 

                                                   Sidaharja, Kecamatan Pamarican, Kabupaten 

                                                    Ciamis












Lampiran 2

IDENTITAS SEKOLAH


Nama Sekolah     :  SMK AL-MANAR PAMARICAN

Terakreditasi :  B

Alamat :  Jalan Raya Banjar – Banjarsari KM 15, Desa 

    Kertahayu, Kecamatan Pamarican, 

    Kabupaten Ciamis, Telepon (0265) 655005

    Kode Pos 46383

E-mail :   smkalmanar@gmail.com

Program Keahlian :   1. Teknik Komputer dan Jaringan

     2. Agribisnis Perikanan

               3. Akuntansi










Lampiran 3

IDENTITAS DU/DI


Nama Instansi :  SANEN KOMPUTER BANJARSARI

Alamat :  JL Cikohkol KM.1 Pangandaran, Banjarsari,

    Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46382

Telepon :   (0265) 652245
















Lampiran 4

Foto Kegiatan Prakerin di SANEN Computer












Gambar 4.1. Foto Tempat Prakerin di Sanen Computer