Just another free Blogger theme

Monday, August 4, 2025

 (20) MARBOT ITU TERNYATA CEO


Penulis: *Lebah Ratih*

Sayang Kamu






Mata yang sendu itu, terlihat mengantuk. Tentu saja, ini sudah tengah malam. Apalagi tadi Tita datang cukup lama. Sekarang bukan lagi saat yang tepat untuk memberikan penjelasan terhadap hal serius tentangku.


Aku menggeleng. Dengan hati lebih lega. Ya, setidaknya aku tahu, dia akan memberikan kesempatan untukku memberikan penjelasan. Besok atau lusa, di moment yang lebih tepat untuk membicarakan ini semua.


"Nanti aja. Ngantuk kan?" Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu lagi kutanyakan. Sudah jelas terlihat.


Dia mengerjap lagi. Dengan mata berat.


Aku mengulurkan tangan lalu mengajaknya masuk ke kamar. Hingga dia terlelap tenang.


Satu malam lagi terlalui dengannya. Meski dengan penjelasanku yang tertunda.


Memandangnya yang tertidur di sebuah kamar sederhana. Begini saja, sudah cukup membuatku bahagia.


Esoknya, seperti biasa. Dimulai dengan makan sahur bersama. Cukup terburu-buru sebab sedikit kesiangan akibat tidur kemalaman. Aku juga harus membangunkan orang-orang lewat speaker masjid.


Kuhabiskan makan sahurku dengan cepat lalu beranjak menuju masjid. Melaksanakan tugasku.


Hingga waktu dhuha, aku masih di sana. Menyusun buku-buku di ruang perpustakaan yang masih menjadi satu bagian dengan bangunan masjid.


Aku sedang merapikan buku-buku ketika Adinda masuk dan cekatan membantu. Ya, dia memang acap membantu pekerjaanku. Apalagi setelah pernikahan kami. Tidak ada jarak dan batasan jauh seperti dulu. Tidak apa-apa meskipun kami ada di ruangan yang sama hanya berdua. Semua orang di sini sudah tahu kalau aku sudah menikah dengannya.


Aku dan Adinda biasa mengepel masjid berdua, menyusun sajadah bersama, menata takjil sambil bercanda. Semua waktu yang terasa makin bermakna dan berbunga, di hati ini rasanya.


Setiap hari yang kian berarti. Dan semakin ingin kuberikan kebahagiaan-kebahagiaannya yang selama ini harus tertunda.


Dia sejak dulu, suka sekali belajar. Ingin melanjutkan pendidikan tapi tak pernah memiliki kesempatan. Sibuk mengurus Ayahnya sembari mengumpulkan uang untuk biaya hidup dan biaya rumah sakit.


Sampai sekarang, buku-buku pelajaran SD dan SMP nya (yang tidak sampai lulus itu) masih ia simpan dengan rapi di rumah. Lalu masih ia sempatkan mengulang-ulang pelajaran lamanya itu. Latihan soal. Dan sebagainya.


Tahu nggak sih, nyesek lihatnya.


Sebesar itu keinginannya untuk sekolah tapi harus terputus di tengah jalan. Bikin aku nggak tega. Padahal banyak kan anak-anak lebih beruntung yang malah malas-malasan sekolah dan belajar.


Aku berjanji dalam hati. Nanti akan kutemani ia mengejar paket kelulusan, SMP dan SMA. Lalu mendaftarkannya kuliah jika ia menginginkan. Aku ingin memenuhi mimpi- mimpinya yang sempat tersandra oleh waktu.


Masih juga kerap kulihat ia menatap sangat lama pada anak-anak sekolah yang berlalu di hadapannya. Apalagi jika ada sekumpulan mahasiswa-mahasiswi mengenakan almamater kampus mampir ke Masjid Almira Tiga tempat kami berada.


"Kuliah tuh rasanya gimana ya?" Tanyanya suatu kali. Sambil menatap pada beberapa mahasiswi dengan almamater sebuah kampus negeri kota ini yang singgah di masjid.


Aku menoleh, menatapnya yang tak mengalihkan pandangan dari objek-objek yang menakjubkan baginya itu. Dengan pandangan penuh harap. Gadis-gadis yang jauh lebih beruntung darinya. Aku tahu, Adinda juga menginginkan seperti itu, menjadi mahasiswi seperti mereka.


Dia menoleh ke arahku setelah beberapa waktu. Aku yang hanya diam.


"Itu... normal," jawabku sambil membuang muka. Aku tak ingin dia melihat sorot mataku yang terbawa suasana setiap kali aku melihat semua pernyataan tentangnya. Kemalangan nasibnya.


Memberikan jawaban sekenanya yang bisa melegakan hati.


"Biasa aja?" Tanyanya. Menatapku.


"Iya, biasa aja. Kuliah yah kayak sekolah. Cuma lebih bebas. Masuk kampus, belajar, tugas, praktikum, terus skripsi. Gitu-gitu doang," ucapku.


Dia mengernyit. Mendengarkanku dengan seksama. Ya, dia selalu mendengarkanku dengan seksama. Saat bicara apapun. Lawan bicara yang menyenangkan.


"Berapa lama?" Tanyanya lagi.



"Tergantung. Tiap orang akan beda. Karena kuliah itu bukan cuma soal siapa yang pintar tapi siapa yang rajin. Rajin ngerjain tugas, rajin masuk kelas, rajin konsultasi pas skripsi atau tesis."


Dia memandangku dengan sorot mata yang terasa lain.


"Kok Kanda tahu banget? Kanda... pernah kuliah?"


Oh my God. Aku tiba-tiba tersadar.


Salah. Jawabanku terlalu lengkap. Bagaimana mungkin aku menjawab 'iya'? Ya, aku bahkan sudah lulus S2 dan sedang proses persiapan melanjutkan S3.


Yang dia tahu, aku datang dari desa. Seorang diri dengan nasib malang sepertinya.


Aku berusaha secepatnya mengendalikan keadaan. Dia tidak boleh tahu kalau aku pernah menjadi anak kuliahan juga.


"Itu... ada majikan aku dulu yang cerita." Ucapku sambil mengalihkan pandangan. Di satu sisi aku merutuki lagi kebohongan yang kembali kulakukan. Padahal lagi puasa. Kenapa aku jadi berbohong lagi?


Ya, gimana lagi?


Benarlah pepatah bijak mengatakan, jangan pernah berbohong. Sebab satu kebohongan yang diciptakan hanya akan melahirkan kebohongan-kebohongan selanjutnya.


Dia mengangguk.


"Oh, majikan Kanda waktu jadi supir itu ya?"


Dan aku ikut mengangguk juga. Sambil meremas tanganku sendiri di balik meja. Meredakan perasaan bersalah yang mendera.


"Buku ini bagus loh, Kanda. Sudah baca?" Ia menunjukkan sebuah novel islami ke arahku saat membantu menyusun buku-buku di perpustakaan.


Aku melihat pada buku yang ia tunjukkan.


"Oh ya?" Sebenarnya, aku bukan penggemar fiksi. Tapi demi menyenangkan hatinya, buku itu kusambut juga.


Dia mengangguk.


Aku membaca judul novel yang ia tunjukkan. Tajwid Cinta, Hadwan-Kafiya karya penulis yang juga masih asing di telingaku... Lebah Ratih.



"Dii sudah baca ini. Isinya banyak pesan-pesan kehidupan. Banyak dapat testimoni dari penulis-penulis senior. Sampai nangis Dii bacanya. Baper banget isinya tapi malah jadi penyemangat waktu Dii pernah mempertanyakan soal takdir." Dia menunjuk satu quotes di sampul depan novel itu.


Aku membacanya. "Kita tak selalu bisa memilih takdir. Tapi kita selalu memiliki pilihan untuk menghadapinya."


Kalimat itu, terasa langsung di hatiku. Tidak bisakah kita selalu memilih takdir? Ya, seperti takdirku yang terlahir dari keluarga bangsawan yang membuatku merasa jenuh dan bosan. Seperti nasib Adinda yang lahir dari ibu yang tidak menyangkanya dan nasib merawat ayahnya dengan mengorbankan masa depannya sendiri.


Tapi kita selalu memiliki pilihan untuk menghadapinya. Aku terdiam lama membaca kalimat itu.


Lalu menoleh lagi pada Adinda.


"Pernah Dii hampir putus asa. Waktu Dii lagi sedih sekali. Terus pas baca novel ini jadi kuat lagi. Pesannya nyampe banget. Nguatin. Kita tak selalu bisa memilih takdir kita. Tapi kita selalu memiliki pilihan untuk menghadapinya. Semua yang kita pikirkan dalam menghadapi takdir kita, ya jadi pilihan hidup kita sendiri. Waktu takdir ternyata nggak sesuai sama keinginan kita. Kita selalu punya pilihan untuk ngadepin takdir itu seperti apa. Dan Dii memilih untuk bersabar. Nggak menyesali keadaan. Jadi lihat peluang-peluang. Dii belajar buat kue-kue terus dijual. Ternyata itu membahagiakan. Terus bisa jadi jalan rejeki juga." Dia tersenyum manis.


Sementara aku mendengarkan, dengan hati yang rasanya teriris. Tersindir sekali. Betapa aku selama ini, banyak sekali mengeluhkan takdirku. Sampai lari dari semua itu.


"Kanda suka baca novel nggak? Baca ini yah," ucapnya lagi. Menunjukkan novel tadi.


Aku mengangguk. Membaca novel untuk kali pertama. Novel Tajwid Cinta. Dan ternyata memang seperti yang disampaikan Adinda. Aku menemukan pemahaman yang jauh berbeda usai menuntaskannya. Novel itu, tentang kisah seorang pemuda dengan garis takdir tak sesuai harapannya.


Setelah itu, aku jadi lebih mensyukuri hidupku.


Adinda yang menunjukkan ini semua. Dia, bidadari dunia dan akhiratku, yang sedang kuambil hatinya. Agar di saat tepat saat ia meyakini aku sepenuhnya, ia akan bisa menerima kejujuran yang akan kusampaikan seluruhnya.


Aku tidak sedang menunda-nunda untuk jujur. Hanya saja sedang mencari waktu yang benar- benar tepat. Sebagai pebisnis aku sangat memahami prihal ini. Banyak hal bisa jadi gagal sebab tak tepat moment dan waktunya. Begitu pula dalam hal kejujuranku pada Adinda.


Bulan Ramadhan hampir habis sudah. Artinya, waktuku di sini hampir habis jua. Dan dia semakin memaknaiku sebagai bagian dari dirinya. Sungguh sudah tiba saatnya untuk kukatakan segalanya.


Setelah menahan diri tak menyentuhnya agar nanti ia tak mengira aku hanya memanfaatkannya-seperti yang dilakukan Wendi pada Tita-- dan menjadi pelindung terbaik baginya, aku yakin untuk jujur malam ini. Dia juga tak pernah meminta 'nafkah batinnya'. Sepertinya wanita memang lebih pemalu untuk membahas prihal itu lebih dulu.


Lagipula sepertinya ia berpikir lurus saja, sebabnya, karena kami masih tahap saling mengenal dan mengerti. Dia nampak bahagia hanya dengan sekedar kugenggam tangannya. Cukup membuatnya tersenyum lega.


Ya, malam ini akan kusampaikan semua. Kuawali dengan menyempurnakan kebahagiaan, baginya.


Aku tahu, ia tak memiliki wacana untuk membeli baju baru meski lebaran sebentar lagi. Mungkin sejak dulu ia tak pernah memiliki baju baru bahkan.


Maka di malam yang tenang, sepulang dari sholat tarawih, kuajak ia menuju salah satu toko baju yang sudah kukontak sebelumnya.


"Kanda, kita ngapain ke sini?" Dia menghentikan langkah di depan pintu masuk toko. Nampak jelas ia tak terbiasa menginjak tempat-tempat cukup mewah seperti ini.


"Beli baju baru," jawabku.


"Beli baju? Tapi...." Dia menatapku dengan sorot mata sungkan.


"Kenapa?"


Lalu ia mendekat, berbisik.


"Kanda, belinya di pasar aja yuk. Di sini pasti mahal."


Aku mengulum senyum mendengar bisikannya


"Nggak apa-apa. Di sini aja. Sekali-sekali ya. Aku lagi ada rejeki. Habis dapat gaji mingguan juga." Aku beralasan.


Dia masih menatapku sangsi.


"Adinda. Kadang kita menolak pemberian seseorang karena perasaan yang salah. Takut merepotkan. Takut dianggap nggak tahu diri. Dan takut lain-lainnya. Padahal banyak orang justru bahagia saat pemberiannya diterima dengan senang hati. Aku cuma pengen ngasih sesuatu buat kamu, masa nggak boleh?"


"Tap-"


"Ini pelajaran dari Kakanda untuk Adinda. Didikan dari suami untuk istri Kanda ini." Aku tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya. Membuatnya merona lalu mengangguk setuju. Tidak membantah lagi. Sepertinya ini akan ampuh jika ingin membuatnya setuju. 'Didikan suami untuk istri'. Dia langsung setuju jika kukatakan itu.


Pemilik toko yang sudah kutemui dan kuberikan pembayaran besar di muka, menyambut kami dengan ramah sekali. Segera mengarahkan pada Adinda untuk memilih baju-baju di ruangan luas ini.



Adinda nampak sangat sungkan mengikuti. Menatap takjub ke sekeliling. Tangannya terasa dingin dalam genggamanku. Balik menggenggam erat. Dia sungguh belum terbiasa. Jangankan untuk memilih pakaian, berada di ruangan mewah yang sebenarnya dalam standarku tidak terlalu mewah ini saja sudah cukup membuatnya bahagia serta grogi sekali nampaknya.


Aku mengangguk. Kembali memberikan 'didikan seorang suami pada istri'. Agar ia tidak menolak lagi, memilih pakaian mana saja yang dia inginkan.


Aku menatapnya dengan pandangan teduh. Sambil memusut punggung tangannya sampai ia merasa lebih santai.


Pemilik toko mencocok-cocokkan berbagai pakaian padanya. Lalu mempersilakannya untuk mencoba di ruang ganti.


Baru masuk ruang ganti, keluar lagi.


"Yang ini aja, Kanda," ucapnya sambil menunjukkan sepasang pakaian muslim padaku. Pakaian muslim warna putih bersih dengan motif elegant sederhana. Ya, seperti itu memang seleranya. Ditambah sebuah jilbab panjang berbahan halus. Cantik.


"Sudah dicoba?" Aku mengernyit.


Dia menggeleng.


"Nggak, Kanda. Nanti di rumah aja. Dii malu ganti baju di sini. Gimana kalau ada yang ngintip?" Katanya dengan berbisik. Menunjuk pada ruang ganti yang hanya tertutup gorden tebal. "Ini cukup kok buat Dii. Yang buat Kanda juga nih." Dia meyakinkan. Menempelkan gamis putih berbahan halus itu ke depan tubuhnya.


Pemilik toko sekali lagi menawarkan untuk dia mencoba di ruang ganti dan ia menolak. Aku tahu alasannya. Takut ada yang ngintip. Ia tak akan nyaman berganti baju di toko seperti ini. Istriku yang pemalu.


Hanya sepasang baju. Dia menolak saat kutawarkan baju yang lain.


"Udah, Kanda ini aja cukup." Dan aku tidak lagi memaksa.


Pemilik toko menawarkan pakaian rumahan untuknya. Sebuah dress dengan corak bunga- bunga. Panjangnya hanya selutut dan tanpa lengan, seperti bahan kain daster, hanya nampak lebih elegant.


"Walau di luar rumah berjilbab, kalau di rumah enggak kan? Nah ini enak banget bahannya buat santai sehari-hari di rumah. Nggak panas dan ringkas," jelas pemilik toko. Tersenyum ramah.



Kali ini aku yang mengangguk. Dress rumahan yang sepertinya akan sangat cocok dipakai oleh Adinda. Aku mengambil dress itu lalu memasukkan dalam paper bag yang sudah dipegang oleh dirinya, tanpa ia sempat menolak lagi.


Kami pulang, dengan senyuman bahagia yang tak henti mewarnani wajahnya. Berulangkali bilang 'terimakasih' padaku. Baju baru pertamanya.


Aku bahagia sekali melihatnya sebahagia itu.


Sesampai di rumah, seperti tidak sabar, ia masuk ke kamar dan mencoba baju baru yang baru saja kami beli tadi. Gamis putih dengan renda cantik dan jilbab berbahan halus yang sangat cocok ia kenakan. Memintaku untuk mencoba setelan koko. Memang pas di tubuhku juga meski tidak dicoba dulu tadi. Ya, dia memang pandai melakukan perhitungan.


Kami sama-sama tersenyum, berdiri di ruang tamu.


"Cocok nggak?" Tanyanya masih dengan wajah berbinar.


Aku menagngguk. Menatapnya.


"Cocok banget." Aku membenarkan posisi jilbabnya. Merapikan bagian jilbab yang terjulur ke depan tubuhnya. Membuatku hampir lupa kalau aku masih harus 'menahan diri'.


Aku cepat menarik tangan dan berpaling.


Dia nampak manis sekali dengan gamis dan jilbab baru itu. Suasana hatinya sedang baik dan ia sudah begitu percaya denganku, setelah kebersamaan kami beberapa waktu terkahir.


Sudah kubilang, ia hanya butuh waktu dan aku yakin dia akan bisa menerima pengakuanku. Malam ini, setelah tuntas kebahagiaannya ini.


Aku membiarkannya larut dalam bahagia. Berkaca, pada kaca panjang yang memang ada di ruang tengah, bukan di kamar, makanya dia keluar. Lalu ia mengamati setiap bagian baju barunya. Sementara aku juga tak berhenti mengamatinya.


Lalu ia masuk lagi ke kamar. Kupikir untuk berganti baju. Sebab ia sudah selesai mencoba baju baru. Lama juga nyobanya ternyata.


Yah, sekarang waktunya aku bicara. Dari hati ke hati. Tentang takdirku, penyamaranku, dan semua takdir pertemuanku dengannya. Waktunya aku membuka sudut pandangnya bahwa tidak semua orang kaya hanya memanfaatkan orang miskin sepertinya. Tidak semua orang kaya jahat dan semana-mena. Waktunya aku menyampaikan segalanya.


Aku melangkah menuju kamar, membuka gorden pintu. Lalu terpaku saat ia berbalik ke arahku.


Ia sedang mencoba dress rumahan santai yang tadi juga kami beli di toko. Dengan rambut ombaknya yang tergerai cantik di sebelah bahu. Dress selutut yang sangat pas sekali di tubuhnya.


Bukan pakaian longgar yang selama ini selalu ia kenakan. Lekuk tubuhnya nampak nyata dalam balutan dress berbahan tipis itu. Pun corak indahnya membuat sempurna dia yang nampak begitu bahagia malam ini.


Tersenyum tak henti sejak tadi. Membuat rona wajahnya puluhan kali lebih cantik dari biasanya.


"Kanda, bagus ya bajunya? Dii suka. Bahannya juga dingin. Enak banget dipakainya." Ia berdiri tegak, lalu berputar di hadapanku. Menunjukkan baju barunya. Begitu bahagia.


Aku terdiam. Dalam debar yang menggedor- gedor pertahanan.


"Tolong pasangin kancing belakangnya, Kanda," ucapnya lagi. Sambil menyibak rambut dan menunjukkan bagian punggungnya. Memintaku untuk memasangkan kancing yang belum rapat seluruhnya.


Aku mengangguk. Tapi tidak melaksanakan pintanya.


Membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Menemukan diriku sendiri dalam bola mata legamnya yang bersih sekali. Aku sangat mencintainya... Adinda.


Mengangkat tanganku lalu menyentuh pipinya.


"Aku sayang kamu, Adinda," ucapku sambil menatapnya lekat.


Dia membalas tatapanku. Tersenyum manis sekali. Jauh lebih manis dari senyumnya selama ini. Di matanya, kutemukan cinta yang ia tunjukkan untukku juga.


Untuk pertama kalinya, dia merespons sentuhan di pipiku. Pemusatan lembut.


"Dii juga sayang sekali sama Kanda. Makasih ya untuk semuanya. Makasih udah gantiin Ayah jagain Dii," ucapnya dengan sorot mata memuja yang membuatku melayang sampai jauh ke angkasa rasanya.


Lalu aku lupa tujuanku menemuinya adalah untuk mengakui semuanya. Aku lupa kalau identitasku yang sebenarnya belum kusampaikan padanya.


Aku lupa untuk 'menahan diri' malam ini, detik ini. Padahal aku belum jujur samasekali.



Bersambung...21

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Post a Comment